• February 8, 2026
Duterte dan Jokowi: Sama tapi berbeda

Duterte dan Jokowi: Sama tapi berbeda

Jokowi dan Duterte memiliki karier politik yang serupa

Jakarta, Indonesia – Presiden Filipina Rodrigo Roa Duterte tiba di Jakarta Kamis malam ini, 8 September 2016, untuk kunjungan dua hari.

Kunjungan ini merupakan kunjungan kenegaraan pertama Duterte sejak dilantik menjadi Presiden Filipina ke-16 pada Kamis, 30 Juni.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo dijadwalkan mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Duterte pada Jumat, 9 September. Mereka tidak akan kekurangan permasalahan yang akan dibahas pada pertemuan bilateral tersebut.

Apa yang membuat Pertemuan yang menarik adalah Jokowi dan Duterte memiliki karir politik yang hampir sama. Terkadang sikap politik mereka terhadap berbagai isu juga sama.

Berikut beberapa persamaan karir dan sikap politik Jokowi dan Duterte.

1. Mantan Walikota

Jokowi dan Duterte memulai karir politik mereka sebagai walikota.

Jokowi, presiden ke-7 Indonesia, memulai karir politiknya dengan menjadi Walikota Solo di Jawa Tengah pada tahun 2005. Pada bulan Juli 2010, Jokowi diangkat menjadi Walikota Solo untuk kedua kalinya. Pada Pada tahun 2012, Jokowi menjadi gubernur Jakarta sebelum dilantik sebagai presiden pada bulan Oktober 2014.

Duterte berhenti menjadi walikota Davao di pulau Mindanao, sekitar satu jam penerbangan ke selatan Manila, ibu kota Filipina, untuk maju dalam pemilihan presiden pada Senin, 9 Mei 2016 lalu.

Duterte menjabat sebagai Wali Kota Davao selama 22 tahun. Duterte juga menjabat wakil walikota dan anggota parlemen Kota Davao.

2. Orang luar politik

Jokowi dan Duterte terpilih sebagai presiden berkat dukungan akar rumput.

Jokowi menjadi presiden Indonesia Yang pertama bukan dari kalangan elite politik atau militer. Sebelum menjadi Wali Kota Solo, Jokowi adalah seorang pengusaha furnitur. Ia menjadi anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) saat mencalonkan diri sebagai Walikota Solo pada tahun 2005.

Meski merupakan anggota PDIP dan terpilih menjadi gubernur Jakarta pada tahun 2012, namun sikap dan ucapannya yang sederhana membuatnya berbeda dari elite politik Indonesia.

Duterte juga demikian. Selama 22 tahun, Duterte menjadi walikota Davao, terpilih kembali dalam tujuh pemilihan daerah. Tapi dia hanya politisi daerah, bukan pernah menjadi bagian dari elit politik di Manila, ibu kota Filipina.

Bahkan selama pemilu, Duterte lebih banyak didukung oleh masyarakat akar rumput dibandingkan elit politik.

3. Pemimpin Rakyat

Jokowi dan Duterte selalu menampilkan diri mereka tidak hanya sebagai pemimpin rakyat, tapi juga pemimpin rakyat.

Pada 7 Juli misalnya, Duterte kembali ke kampung halamannya di Davao dengan pesawat komersial Philippine Airlines dan duduk di kelas ekonomi.

Baik sebelum maupun sesudah menjabat sebagai presiden, Duterte kerap tampil di masyarakat dan di depan media dengan mengenakan kemeja polo hanya.

Baru-baru ini, Duterte menjemput puluhan pekerja Filipina di bandara yang dipulangkan dari Arab Saudi karena perusahaan tempat mereka bekerja bangkrut. Duterte menyapa mereka dan memberi mereka uang saku dan uang transportasi. Tak lupa beliau mengingatkan mereka untuk memberikan uang kepada istrinya sebagai oleh-oleh.

Jokowi sudah menggunakan pesawat komersial dan duduk di kelas ekonomi. Jokowi juga rutin memberikan sepeda kepada masyarakat di kawasan dan tampilan bantalan sarung di istana negara.

4. Perang terhadap narkoba

Duterte dan Jokowi mempunyai pendirian yang sama terhadap narkoba: Tidak ada toleransi terhadap penyalahgunaan narkoba. Namun, Jokowi berbeda dengan Duterte dalam menangani pengguna, pengedar, dan pengedar narkoba.

Jokowi mengutamakan pendekatan hukum dalam pemberantasan narkoba: penangkapan dan penindakan terhadap pengedar dan pengedar narkoba. Dan tergantung pada tingkat kesalahan mereka, pengedar dan penyelundup narkoba dapat dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi setelah menggunakan semua jalur hukum yang ada. Sejak Jokowi dilantik pada 20 Oktober 2014, sudah ada 18 orang terpidana mati kasus narkoba yang dieksekusi.

Duterte mengaku juga mengedepankan pendekatan hukum, namun kenyataannya ia mengizinkan polisi menggunakan senjata jika terduga pelaku perdagangan orang atau pelaku perdagangan orang melawan saat ditangkap. Tidak mengherankan, lebih dari 2.000 tersangka pengedar dan penyelundup narkoba telah ditembak mati dalam operasi anti-narkoba sejak mereka dilantik pada 30 Juni lalu.

5. Komunikasi (politik)

Jokowi dan Duterte juga memiliki perbedaan dalam komunikasi (politik).

Ucapan Jokowi sederhana, tenang, dan diplomatis. Jika terdapat perbedaan sikap politik, perundingan dilakukan secara tertutup.

Sedangkan gaya komunikasi Duterte lebih frontal dan eksplosif. Awal pekan ini, misalnya, Duterte berbicara kasar terhadap Presiden AS Barack Obama. – Rappler.com

Togel HK