Empat partai membentuk koalisi Poros Baru
keren989
- 0
Deddy Mizwar dan PKS bukan bagian koalisi
BANDUNG, Indonesia — Pemilihan kepala daerah (Pilkada) baru akan digelar serentak di Jawa Barat pada 2018. Namun, sejumlah partai sudah mulai bermanuver. Kemarin misalnya, empat parpol sepakat membentuk koalisi bernama Poros Baru.
Keempat partai tersebut adalah Partai Gerakan Indonesia Baru (Gerindra), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Demokrat. “Hal ini penting ditegaskan sebagai upaya kita mencari yang terbaik,” kata Ketua DPD Partai Gerindra Jabar Mulyadi di kantor DPD Partai Gerindra Jabar, Rabu, 11 Oktober 2017.
Khusus Pilgub Jabar 2018 mendatang, masing-masing parpol Poros Baru sudah mengantongi sejumlah nama yang akan diusung sebagai calon gubernur atau wakil gubernur.
PAN memperkenalkan Desy Ratnasari, mantan artis yang juga kader partai berlambang matahari. Sementara Partai Demokrat mengajukan tiga kader yakni Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf, Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Barat Iwan Sulandjana, dan anggota Komisi IV DPR RI Herman Khaeron.
Sementara PPP memperkenalkan Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum dan Anggota DPR RI Asep Ahmad Maoshul Affandy. Dan Partai Gerindra menghadirkan Ketua DPD Gerindra Jawa Barat Mulyadi dan mantan menteri pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid Burhanuddin Abdullah yang juga menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Mulyadi mengatakan, penyerahan nama Burhanuddin Abdullah merupakan perintah langsung dari Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto. Gerindra ingin parameternya adalah kader, kata Mulyadi.
Di antara nama-nama yang diajukan, tak ada nama Deddy Mizwar yang sebelumnya diusung Gerindra. Mulyadi menjelaskan, Deddy Mizwar tidak diusulkan sebagai calon gubernur atau wakil gubernur Poros Baru.
“Untuk Poros Baru tidak ada nama seperti itu. “Jadi tadi kita sepakati bahwa nama-nama yang dipersembahkan oleh masing-masing pihak di daerah adalah nama-nama yang kita sebutkan tadi,” kata Mulyadi yang ditunjuk sebagai juru bicara Poros Baru pada kesempatan itu.
Untuk menentukan calon resmi yang nantinya akan diusung pada Pilgub Jabar, Poros Baru akan memilih lembaga survei yang dinilai kredibel. Lembaga survei terpilih akan bertugas melakukan survei terhadap calon yang diajukan masing-masing partai.
Koalisi empat parpol juga akan menunjuk tim teknis yang bertugas merumuskan koalisi yang lebih sempit dan merekomendasikan parameter kandidat.
Selain itu, Poros Baru akan mengundang sejumlah pemegang saham dari berbagai elemen di Jawa Barat untuk memberikan masukan dan menyarankan parameter calon. Bisa jadi parameter hasil penelitian ini memunculkan angka-angka baru di luar nama-nama yang diajukan sebelumnya.
“Parameter yang akan dibuat nanti dalam kajian tidak menutup kemungkinan, misalnya nama-nama yang sudah muncul ke permukaan juga akan dicantumkan, karena (kandidat) masih cair. “Tetapi untuk saat ini nama-nama tersebut merupakan nama yang ditetapkan oleh masing-masing pihak,” jelas Mulyadi.
Lebih lanjut Mulyadi mengatakan, parameter calon dibuat agar calon yang akan diusung benar-benar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jabar.
Mereka tak mau terjebak dalam memilih calon hanya berdasarkan faktor elektabilitas. Oleh karena itu, Mulyadi optimistis calon yang diusung Poros Baru akan merebut kursi di Jawa Barat. “Mudah-mudahan calon kita, seperti yang mereka bilang, adalah kuda hitam,” kata Mulyadi penuh harap.
Sementara itu, Mulyadi mengaku mendapat dukungan dari partai politik non-parlemen yang siap mendukung Poros Baru. Parpol nonparlemen yang dimaksud adalah Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Partai Persatuan Indonesia (Perindo), dan Partai Idaman.
Terkait absennya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang berkoalisi dengan Gerindra, Mulyadi menjelaskan pihaknya dengan senang hati menerima kehadiran partai tersebut. Namun tentu saja dengan syarat.
“Kami telah sepakat bahwa kami tidak ingin mengecualikan kandidat. “Kalau PKS bisa ikut dengan kami, kami dengan senang hati menerimanya, selama tidak terjadi, kami akan dipaksa, secara petik, untuk menjalankan skenario PKS,” kata Mulyadi. —Rappler.com