Eni Lestari berbicara di Majelis Umum PBB dan meminta perlindungan bagi pekerja
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Eni meminta di hadapan ratusan pemimpin negara agar buruh migran dilibatkan dalam pembuatan kebijakan untuk melindungi masyarakat ini
JAKARTA, Indonesia – “Kami mempunyai pesan yang jelas: dengarkan kami, jangan membicarakan kami tanpa kami.”
Pesan tersebut lantang disampaikan pejuang pekerja migran asal Indonesia, Eni Lestari pada Konferensi Tingkat Tinggi PBB tentang Pengungsi dan Migran di New York, Amerika Serikat, Senin pagi, 19 September (waktu setempat). Di hadapan ratusan pemimpin negara, termasuk Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, istri Kediri ini angkat bicara mengenai realita yang dialami sekitar 244 juta pekerja migran di seluruh dunia.
“Yang terjadi saat ini sebagian besar dari kita terjebak dalam praktik perbudakan, perdagangan manusia dan rentan terhadap kekerasan. “Banyak di antara kami yang akhirnya hilang, bahkan meninggal,” kata Eni yang mengenakan kebaya merah, Senin pagi.
Ratusan juta orang bekerja sebagai pekerja migran dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Namun harapan indah tersebut justru berubah menjadi mimpi buruk karena disebabkan oleh sistem yang mengutamakan keuntungan.
“Masa depan kita gelap. Oleh karena itu kami berharap ada perlindungan dan pelayanan. “Namun kenyataannya kita sendirian dalam mengatasi penderitaan ini,” kata Eni, yang telah menjadi buruh migran selama 16 tahun.
(BACA: Eni Lestari, TKI Pertama yang Berbicara di PBB)
Di mata Eni, hal ini semakin ironis karena pemerintah justru menilai pengiriman TKI ke luar negeri bisa menambah penerimaan kas negara. Pengalamannya, bermigrasi ke negara lain tidak selalu menjamin kehidupan buruh migran akan selalu lebih baik ketika kembali ke tanah air.
“Sekeras apa pun kami bekerja, kami tidak pernah diakui sebagai orang yang layak atau setara,” kata Eni.
Bekerja dengan pemerintah
Dalam pandangan Eni dan ratusan juta buruh migran lainnya, jika pemerintah ingin mencari solusi atas permasalahan ini maka pemerintah harus melibatkan mereka.
“Jangan membicarakan nasib kami tanpa melibatkan kami,” kata Eni.
Ia berharap bisa menemukan solusi bersama pemerintah untuk melindungi pekerja. Solusi yang ditawarkan, lanjut Eni, bukan hanya dengan mengabaikan berbagai konvensi internasional.
“Mari kita bersama-sama memastikan bahwa solusi perlindungan terhadap pekerja migran adalah solusi nyata dan dapat diimplementasikan. Jangan sampai solusi ini menimbulkan eksploitasi, konflik baru dan kemiskinan. Ayo bekerja bersama kami,” katanya.
Pekerja migran pertama di Indonesia
Eni menjadi pekerja migran Indonesia pertama yang berhasil mendapat kesempatan berbicara di hadapan Majelis Umum PBB. Eni mewakili organisasi International Migrant’s Alliance (IMA) berbagi podium dengan aktivis asal Irak, Nadia Taha dan aktivis Suriah, Mohammed Badran.
Ini adalah pertama kalinya PBB fokus mencari solusi terhadap masalah migrasi dan pengungsi. Melalui KTT tersebut, PBB bermaksud mengupayakan pendekatan yang lebih terkoordinasi dan manusiawi di antara negara-negara anggota.
Berdasarkan laporan PBB pada bulan Juni lalu, jumlah pengungsi dan penduduk yang terpaksa meninggalkan rumahnya mencapai rekor baru di seluruh dunia, yaitu 65,3 juta jiwa pada akhir tahun 2015. Ini merupakan angka tertinggi sejak perang dunia II.
Eni adalah potret mayoritas buruh migran yang terpaksa meninggalkan Indonesia demi menopang perekonomian keluarganya. Namun, ketika ia tiba di Hong Kong pada tahun 1999, ia mendapat perlakuan tidak manusiawi dari majikannya.
Ketidaktahuan akan informasi diyakini menjadi alasan mengapa ia rentan terhadap tindakan tersebut. Kini dia mencoba membantu menyuarakan peningkatan perlindungan bagi pekerja migran di seluruh dunia. – Rappler.com