• April 12, 2026
Gadis cilik Rohingya yang kini menjadi kara

Gadis cilik Rohingya yang kini menjadi kara

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Gadis berusia 9 tahun itu masih mengalami trauma. Tim Medis Aksi Cepat Tunjungan (ACT) menggelar trauma healing untuk memulihkan kondisi psikologis anak-anak Rohingya

JAKARTA, Indonesia – Trauma masih terlihat jelas di wajah Eva, gadis Rohingya berusia 9 tahun. Saat ditemui di kamp pengungsi Balukhali, Cox’s Bazar, kota pelabuhan di Bangladesh, Eva lebih banyak bungkam. Tatapannya kosong.

Gadis kecil ini sepertinya tidak mengerti mengapa hal ini terjadi padanya.

Saat invasi tentara Myanmar di Negara Bagian Rakhine, Eva harus kehilangan ayah, ibu, dan empat adiknya sekaligus. Saat itu, tentara melarang penghuni rumah keluar, lalu menembaki rumah tersebut dan membakarnya.

Eva yang ketakutan pun berlari ke dalam hutan dan bertemu dengan pengungsi lainnya, hingga akhirnya ia tiba di kamp pengungsi di Bangladesh. Sayangnya, seluruh anggota keluarganya tidak bisa lagi bertemu dengannya.

“Setiap anak mungkin akan melakukan hal yang sama seperti Eva jika mereka berada dalam posisi yang sama,” kata Dr. Rizal Tim Medis Aksi Cepat Tcepat (ACT) di Kamp Balukhali dalam siaran pers yang diterima Rappler.

Setiap malam Eva sering menangis mencari dan menelepon orang tuanya. Ia pun kerap menolak makanan yang diberikan kepadanya.

Dokter Rizal mengungkapkan, Eva selalu mencari ibunya saat malam tiba. Bagaikan anak kecil yang masih membutuhkan belaian ibunya, Eva begitu merindukan keluarganya hingga terkadang ia lupa bahwa mereka telah tiada dan masih mencarinya.

Kini Eva hanya tinggal seorang diri, hanya Tusmina, perempuan satu desa yang kini menemaninya di pengungsian.

Tusmina yang mengantar Eva ke pengungsian mengatakan Eva masih belum bisa melupakan tragedi yang membuatnya menjadi yatim piatu.

Eva lolos dari kematian karena saat tentara Myanmar datang ke desanya, dia sedang berada di luar rumah, kata Tusmina.

Di kamp pengungsi darat berdinding plastik ini, Eva adalah satu dari ratusan ribu anak Rohingya yang kehilangan orang tua dan kerabatnya.

Pada Minggu (15/10), Tim Medis ACT di kamp Balukhali menggelar “Hari Anak” untuk anak-anak yatim piatu di sana.

Selain memberikan layanan kesehatan bagi pengungsi Rohingya, Tim Medis ACT juga memberikan perhatian khusus terhadap anak-anak pengungsi di sana. Mereka mengadakan kegiatan penyembuhan trauma untuk memulihkan keadaan psikologis anak.

Dengan mempertemukan Eva bersama anak-anak lain, diharapkan bisa membantu Eva pulih dari traumanya.

Minggu itu ada permainan Ram Tam Tam yang menunggu anak-anak. Tim Medis ACT kemudian mengajak mereka membentuk lingkaran. Berada di dalam lingkaran, mereka kemudian mulai menyanyikan lagu Ram Tam Tam sambil memperagakan gerak tari.

“Ram tam tam, guli..guli..guli,” teriak anak-anak Rohingya serempak.

Gelak tawa mereka menyelingi aktivitas permainan. Kengerian meninggalnya orang tua dan sanak saudara di kampung halaman mungkin akan terlupakan sejenak. Saat ini masih banyak anak yatim piatu Rohingya di Bangladesh.

Seperti Hawa, tidak jarang mereka menghabiskan setiap hari dengan melamun. Meringkuk bersama di tenda pengungsian dan mengenang kembali kejadian malang yang menimpa orang tua dan keluarganya.

Jika Anda ingin membantu penderitaan etnis Rohingya yang sedang mengalami krisis kemanusiaan, Anda dapat berdonasi melalui laman tersebut kitabisa.com atau Klik tombol donasi di bawah.

—Rapper

Result SGP