• March 21, 2026
Harapan para pemilih pemula tidak hanya bersifat akademis

Harapan para pemilih pemula tidak hanya bersifat akademis

Bagi para pemilih baru ini, agama, usia, dan ketegasan bukanlah faktor penentu terpenting dalam memilih seorang calon

JAKARTA, Indonesia – Sekitar 2,81 persen warga DKI Jakarta akan menggunakan hak pilihnya untuk pertama kali dalam hidupnya. Siapa mereka? Mereka merupakan pemilih pemula yang baru menginjak usia 17 tahun ke atas menjelang Hari H Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada Rabu, 15 Februari.

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta, jumlah pemilih pemula di DKI Jakarta berjumlah lebih dari 199 ribu orang, dimana lebih dari 102 ribu adalah laki-laki dan lebih dari 97 ribu adalah perempuan. Mereka akan memilih dalam pemilihan umum untuk pertama kalinya dan belum pernah terlibat dalam kegiatan politik sebelumnya.

Meski angkanya “hanya” berkisar 2 persen, namun bukan berarti elite politik bisa meremehkan para pemilih pemula tersebut. Mereka adalah pemimpin masa depan. Dengan melihat perolehan suara pemilih pemula, kemungkinan seorang calon menjadi pemenang pilkada juga semakin besar.

Lalu, isu apa saja yang sebenarnya dianggap penting oleh para pemilih awal, agar bersedia memberikan suaranya kepada salah satu pasangan calon?

Potensi akademisi luar belum dimanfaatkan

Aldi (17 tahun) adalah siswi SMAN 38 kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Diakuinya, tahun ini merupakan tahun pertamanya mengikuti pemilu. Namun, ia menyayangkan kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang hanya fokus pada kegiatan akademik dan belum mencakup kegiatan ekstrakurikuler.

“Saya tidak punya prestasi akademis yang bagus, tapi saya mengikuti berbagai kompetisi karya ilmiah. “Sayangnya, belum ada kebijakan pemerintah yang mendukung kegiatan seperti ini,” kata Aldi yang beberapa kali mengikuti lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional.

Menurutnya, Pemprov masih kurang mengapresiasi orang seperti dirinya.

“Mereka (teman-teman Aldi yang juga mengikuti lomba serupa) masih membutuhkan perhatian atau bantuan dari semua pihak. “Bahkan mereka juga mempunyai potensi lain (di bidang non-akademik).”

“Harapan saya, siapa pun yang terpilih, memperhatikan setiap murid dan sekolah. Karena mereka juga memerlukan bantuan. “Tidak hanya bantuan ekonomi atau finansial, tapi juga dukungan untuk terus berkarya dan bersaing,” ujarnya.

Infrastruktur dan kemacetan

Berbeda dengan Aldi, Laila (17 tahun), salah satu siswa di SMA yang sama, mengatakan persoalan infrastruktur masih sangat penting. Ia mencontohkan dari pengalaman pribadinya, ia sering datang terlambat ke sekolah karena kemacetan lalu lintas.

“Paginya sudah diperbaiki. Jalan di sekitar sini perlu diperlebar. Ada pelebaran (jalan), tapi hanya di satu titik, tidak ke titik lain. Iya, akibatnya juga macet, kata Laila.

Ia pun menyayangkan minimnya fasilitas jembatan penyeberangan orang di sekitar sekolahnya.

“Saya datang ke sekolah dari stasiun, kalau mau ke sekolah harus menempuh jarak yang cukup jauh, kalau ada jembatan penyeberangan saya bisa lebih mudah menyeberang dan tiba di sekolah tepat waktu,” ujarnya.

Bagaimana dengan agama, usia dan penghematan?

Setiap pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta memiliki ciri khas masing-masing yang menonjolkan ciri khasnya masing-masing. Di mata generasi muda ini, pasangan calon nomor urut satu Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dianggap sebagai suara generasi muda karena Agus merupakan yang termuda di antara calon lainnya.

Sementara pasangan calon nomor urut 2, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat, menunjukkan karakter tegas dalam kepemimpinan kota ini.Calon pos tersebut sudah memiliki pengalaman mengelola Kota Jakarta selama beberapa tahun terakhir.

Sedangkan paslon nomor urut 3 mengusung tokoh agama dan agama. Lantas, apakah perbedaan karakter tersebut mempengaruhi pemilih pemula?

Aldi rasa tidak, baginya yang terpenting adalah programnya. Pertanyaan tentang karakter mana yang paling cepat memimpin tidak terlalu meragukan.

Saya hanya ingin melihat kebijakan konkrit yang bisa diterapkan agar Jakarta maju, ujarnya.

Asumsinya tetap sama ketika ditanya soal persoalan agama. “Saya kira persoalan agama hanya sekedar persoalan. Saya tidak terpengaruh dengan hal itu,” katanya.

Reaksi Aldi berbeda dengan Laila. Baginya, persoalan agama sangat penting.

“Karena saya seorang Muslim, saya tidak akan memilih siapa pun yang berbeda dari saya. Tapi tidak perlu dibesar-besarkan juga,” ujarnya. —Rappler.com

togel hk