• April 5, 2026

Hari Pengungsi Sedunia: Kepahitan bagi para pencari suaka

JAKARTA, Indonesia – Dunia memperingati Hari Pengungsi Sedunia setiap tanggal 20 Juni. Ratusan pengungsi internasional yang masih berada di Indonesia berkumpul di Abalove Ministries dalam acara bertajuk “Share the Responsibilities”.

Febi Yonesta, ketua organisasi dan panitia acara SUAKA, mengatakan tema ini bertujuan untuk mengingatkan dunia akan darurat pengungsi yang semakin serius. “Kalau kita lihat, ada negara yang enggan menerima pengungsi padahal mereka sudah diusir dan terpaksa meninggalkan negaranya sendiri,” ujarnya, Selasa, 20 Juni 2017.

Pengungsi dan pencari suaka berasal dari berbagai daerah pengungsian seperti Bandung, Jakarta, Makassar, Aceh, dan Bogor. Mereka menampilkan tarian, nyanyian, bahkan membawakan makanan atau kerajinan buatan sendiri.

Peristiwa seperti ini menjadi oase di tengah keringnya kehidupan pengungsi. Meski mendapat izin tinggal, aktivitas mereka sangat terbatas. Laki-laki dan perempuan dewasa tidak dapat mencari nafkah secara formal maupun informal, sedangkan anak-anak tidak dapat mengenyam pendidikan sesuai usia sekolahnya.

Ouman, perempuan berusia 32 tahun asal Iran, sudah hampir 1,5 tahun tinggal di pengungsian di Cisarua. Ia tidak mengetahui secara pasti nama tempat tinggalnya, dan hanya mengingat RS Cibereum sebagai rujukan utama.

Ibu tiga anak ini belum lancar berkomunikasi dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Dia hanya memahami satu atau dua kata, dan mengandalkan putra sulungnya, Mohamad, untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Farsi. “Kami meninggalkan Iran karena bahayanya. ISIS, bom di mana-mana. “Jika kamu tidak pergi, kamu bisa dibunuh,” katanya sambil memberi isyarat seolah-olah dia sedang menggorok lehernya untuk menjelaskan.

Mengenai perjalanan mereka, Ouman lebih mengandalkan penjelasan Mohamad. Dari Iran, mereka terbang ke Malaysia, sebelum masuk ke Indonesia. Negara ini bukanlah tujuan mereka, tapi dia tidak terlalu peduli kemana harus lari.

“Tidak ada tujuan khusus, yang ada hanya tempat dimana kita bisa aman. Itu yang kami pikirkan,” kata Mohammed, menerjemahkan dari ibunya.

Sementara itu, Mohamed Rasool Bagherian, pengungsi Iran berusia 40 tahun lainnya, punya alasan yang lebih matang. “Bagi saya, karena untuk ke Indonesia tidak memerlukan visa. “Aku harus berlari cepat,” katanya.

Cerita Bagherian berbeda dengan Ouman, meski keduanya pergi karena dalam bahaya. Dia meninggalkan Iran pada tahun 2010 karena ancaman penganiayaan agama.

Dia dan keluarganya termasuk di antara banyak Muslim Iran yang masuk Kristen pada tahun 2005. Meski tidak berbahaya, berpindah agama dari Islam Syiah ke Kristen sangat tidak disarankan di Iran. Situasi Bagherian berubah ketika mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinajad mulai menindas umat Kristen.

Setelah ditahan dua kali pada tahun 2007 dan 2010, dia menyadari bahwa dia harus meninggalkan tanah airnya. Terutama karena dia memiliki seorang putra yang masih kecil dan khawatir dengan masa depannya.

Keinginan untuk bekerja

Baik Ouman maupun Bagherian mengaku tidak ada masalah untuk tinggal di Indonesia, namun tidak dalam jangka panjang. “Tidak ada apa-apa di sini, tapi saya butuh uang untuk hidup,” kata Ouman.

Untuk mengisi waktu, ia dan suaminya belajar atau membantu mengajar di pusat kegiatan yang didirikan oleh para relawan. Sedangkan anak-anaknya hanya mendapat pendidikan bahasa Inggris.

Bagherian menghadapi masalah yang sama, namun ia dan istrinya mencoba mengajar mata pelajaran lain seperti sains dan matematika di komunitas mereka. Kegiatan ini juga untuk membantu mereka menghilangkan rasa bosan.

Anak-anak pengungsi mungkin tidak terlalu memikirkan keterbatasan hak-hak mereka di Indonesia, karena meski tidak bekerja atau belajar, mereka tetap bisa bermain dengan teman-temannya. Namun kekhawatiran orang tua mereka lebih besar.

Untuk mata pencaharian, pengungsi menerima bantuan keuangan dan logistik dari IOM dan UNHCR. Selain itu, ada organisasi lain yang rutin berdonasi, seperti gereja atau masjid. Seperti Bagherian misalnya, yang mendapat akomodasi gratis di apartemen sederhana di kawasan Kelapa Gading dengan bantuan pihak gereja.

Jika mendaftar mendapat Rp1,2 juta per orang, anak-anak Rp500 ribu, per bulan. Terkadang Ouman mengaku masih mengambil uang tabungan mereka di Iran untuk kebutuhan sehari-hari.

“Tetapi hal seperti ini tidak bisa dibiarkan terus menerus. Saya ingin mendapatkan suaka di negara lain secepatnya, sehingga saya bisa bekerja. “Ahura (anak Bagherian) juga harus mengenyam pendidikan formal, dia tidak bisa hanya mengandalkan kami,” kata Bagherian.

Ia tidak peduli di mana ia ditempatkan, asalkan aman dan ia bisa menjalankan hidupnya seperti biasa. Namun, sebaiknya tidak dikirim kembali ke Iran. “Saya bisa mati, saya sudah berkali-kali tampil di televisi,” ujarnya sambil tertawa.

Ketenagakerjaan dan hak-hak dasar seperti kesehatan dan pendidikan memang menjadi permasalahan bagi pengungsi. Meski menilai pemerintah sudah cukup baik dalam menangani pengungsi, Febi berharap pemenuhan hak-hak dasar bisa ditingkatkan.

“Sebagaimana kajian utama di dunia internasional, pengungsi tidak dipandang sebagai beban, namun dipandang sebagai potensi yang dapat memberikan kontribusi,” ujarnya. Tentu saja tidak di bidang yang benar-benar membebani perekonomian negara.

Hingga Desember 2016, terdapat 14.337 pengungsi dan pencari suaka di Indonesia. Mayoritas berasal dari Afghanistan, Somalia, Myanmar dan Irak. Mereka masih menunggu untuk dimukimkan kembali di salah satu dari 26 negara pihak ketiga yang terbuka bagi pengungsi.—Rappler.com

Live Result HK