Idul Fitri penuh kekhawatiran bagi para pengungsi
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Ali tidak bisa merayakan Idul Fitri dengan baik karena tidak punya uang
JAKARTA, Indonesia – Gendang ditabuh, takbir dilantunkan, langit malam dihiasi kembang api warna-warni. Umat Islam bergembira menyambut hari raya setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan.
Beragam tradisi dilakukan dan dipersiapkan, mulai dari mudik, baju baru untuk anak kembar satu keluarga besar, hingga jajanan berat dan ringan. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Ali, seorang pengungsi asal Afghanistan.
“Iya, Idul Fitri sudah tiba. “Tapi bagaimana kita mau merayakannya, kita bahkan tidak punya uang,” kata Ali yang ditemui akhir pekan lalu.
Ia mengaku tak bisa merayakan hari raya dengan gembira. Sebab, kondisi mereka saat ini sedang kekurangan secara finansial.
“Kami bisa makan saja dan kami sangat bersyukur,” ucapnya lagi.
Dia, ketiga adik perempuannya, dan ibunya baru saja tiba di Indonesia dari rumah mereka di Afghanistan dua minggu lalu untuk mencari suaka ke Badan Pengungsi PBB (UNHCR). Tak ada persiapan khusus yang dilakukan Ali dan keluarganya pada malam 1 Syawal 1438H atau Sabtu malam 24 Juni itu.
Begitu pula dengan beberapa orang Timur Tengah yang ditemui di Jalan Kebon Sirih Barat, tepat di samping Menara Ravindo. Di pintu masuk Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih yang terkenal itu, mereka duduk “menyamping” di sisi kanan dan kiri jalan. Itu juga tempat mereka berbaring saat mengantuk.
“Bayangkan saja kalau hujan. “Susah sekali, apalagi anak kecil, lihat saja,” ucapnya sambil menunjuk salah satu anak kecil yang sedang berbicara di dekat kami.
Ia juga menunjukkan di mana ia dan keluarganya tidur dan berkata, “Adik bungsuku berusia 5 tahun.”
Sebagai anak tunggal, Ali mau tidak mau harus menjadi pelindung keluarga.
“Anda tahu kondisi di sana (Afghanistan) kan? “Bom di mana-mana, penculikan, saya bahkan tidak tahu apakah ayah saya masih hidup,” ujarnya sedih.
Ia mengaku datang ke Indonesia setelah mendengar banyak tentang negara ini. Ia juga mendengar tentang keberadaan UNHCR dan mampu membantu mereka. Sayangnya, bantuan tersebut tidak sesuai dengan harapan mereka.
Meski sudah memiliki kartu pengungsi, UNHCR tidak bisa begitu saja memilih negara ketiga sebagai tempat tinggal barunya.
Percakapan kami terhenti ketika beberapa orang datang untuk menyiapkan makan malam. Ada yang membawa rice cooker, ada pula yang membawa perkakas.
“Kami makan apa yang diberikan orang-orang di sekitar kami. Kalau tidak ada yang memberi, kami tidak makan,” ujarnya.
Wanita paruh baya, yang kemudian ditemukan oleh ibu Ali, mendekati Ali dan berbicara dalam bahasa Persia. Ali kemudian mengajaknya duduk di tempat ia dan keluarganya beristirahat.
Itu Ny. Ali menyiapkan makanan; satu mangkuk berisi nasi, dan mangkuk lainnya berisi kari. Ibu Ali kemudian mengeluarkan roti berukuran jumbo dan lebar mirip roti Cane dari kantong plastik.
Dengan senyum ramah Ny. Ali mengundang kami makan. Ali yang fasih berbahasa Inggris pun mengajaknya makan. – dengan laporan ANTARA/Rappler.com