Ilmuwan ini curiga dengan “prestasi” Dwi Hartanto.
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – “Media kurang verifikasinya, masyarakat suka heboh, pelakunya penipu besar-besaran, dan pemerintah memuji prestasi diaspora,” kata Stanley Adi Prasetyo, Ketua Dewan Pers.
Ia menyoroti kerja media yang gencar memberitakan prestasi Dwi Hartanto, ilmuwan Indonesia di Belanda yang berbohong soal pendidikan dan prestasi akademiknya.
“Banyak orang suka dikejutkan dengan hal-hal yang belum terbukti. “Di tengah situasi ini, pers harus bisa menjaga kewarasan masyarakat,” kata Stanley kepada Rappler, Senin, 9 Oktober 2017.
Nama Dwi Hartanto yang kini tengah menjalani program doktoral di TU Delft menjadi perbincangan hangat selama dua hari terakhir. Sayangnya, kali ini bukan karena “prestasinya”. Dia dianggap pembohong.
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda memberikan penghargaan pada acara tersebut pada 17 Agustus 2017 mencabut penghargaan tersebut Itu.
Bagaimana alur cerita kasus yang membuat nama Dwi Hartanto terkenal?
Melalui dinding akun Facebooknya, ilmuwan Deden Rukmana, profesor dan koordinator studi dan perencanaan perkotaan di Savannah State University, Savannah, AS, berbagi kisahnya. Deden menuliskan pendapatnya bertajuk ‘Surat Terbuka Tentang Ilmuwan Indonesia’.
Rappler menghubungi Deden Rukmana melalui email dan mendapat izin untuk mempublikasikan artikel tersebut di akun media sosialnya.
“Pada tanggal 17-24 Desember 2016, saya mendapat kehormatan diundang oleh Kemenristekdikti untuk menghadiri kegiatan Visiting World Class Professor.
Saya bertemu dengan lebih dari 40 ilmuwan diaspora Indonesia lainnya yang mengajar dan melakukan penelitian di berbagai belahan dunia. Saya sudah mengenal banyak ilmuwan ini sejak lama, terutama yang terlibat dalam berbagai kegiatan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4). Saya juga banyak bertemu dengan teman-teman ilmuwan baru dan beberapa di antaranya masih muda, termasuk Dwi Hartanto.
Awal perjumpaan saya dengan YBS (Dwi Hartanto, Red). Saya tentunya sangat bangga mengingat beliau masih muda, namun sudah menjabat sebagai Assistant Professor di TU Delft (Technische Universiteit Delft / Delft University of Technology) di bidang Penerbangan. Setelah kegiatan selesai, saya tidak punya waktu lagi untuk berkomunikasi langsung dengannya. kecuali oleh grup WA alumni kegiatan Visiting World Class Professor.
Beberapa kesempatan saya juga membaca tentang prestasi Dwi Hartanto melalui media massa, termasuk pertemuannya dengan Presiden ke-3 RI, BJ Habibie. Berita di internet yang saya baca adalah YBS itu. petugas protokoler Pak BJ Habibie meminta bertemu.
Pertemuan tersebut kabarnya terjadi pada awal Desember 2016 di sebuah restoran di Den Haag, Belanda. Dari berita ini, saya semakin bangga mempunyai teman ilmuwan yaitu Mr. Prestasi BJ Habibie dalam dunia teknologi dirgantara di Indonesia akan terus berlanjut.
Kebohongan mulai terungkap.
Rasa bangga dan kagum saya pada Dwi Hartanto “terganggu” saat menerima sederet pesan dari grup WA Manajemen I-4 yang membahasnya. Pada 10 September 2017, salah satu pengurus I-4 secara terpisah mengirimkan dua dokumen lengkap berisi investigasi atas berbagai tuntutan Dwi Hartanto.
Dokumen pertama terdiri dari 33 halaman berisi berbagai foto kegiatan Dwi Hartanto, antara lain dari laman Facebook, link berbagai website tentang dirinya, transkrip wawancaranya. dengan Mata Najwa pada Oktober 2016 dan korespondensi email dengan berbagai pihak untuk mengklarifikasi aktivitas yang diklaim Dwi Hartanto.
Dokumen kedua setebal 8 halaman berisi rangkuman penyelidikan atas klaim Dwi Hartanto, antara lain latar belakang sarjana, usia, roket militer, PhD bidang Aeronautika, Profesor bidang Aeronautika, Direktur Teknik bidang teknologi roket dan teknik dirgantara, wawancara. dengan media internasional, dan penelitian kompetisi.
Kedua dokumen tersebut disiapkan oleh beberapa teman Indonesia di TU Delft yang mengenal langsung Dwi Hartanto. Saya menilai mereka adalah pihak-pihak yang mengetahui kebohongan publik yang dilakukan Dwi Hartanto dan ingin kebohongan tersebut dihentikan.
Mereka menemui Dwi Hartanto dan memintanya memperbaiki semua kebohongannya, namun dia tidak menganggapnya serius. Mereka juga mencari cara lain untuk menghentikan kebohongan ini. Salah satu dari mereka menghubungi saya dan mereka juga memberi saya izin untuk menggunakan kedua dokumen tersebut dalam penyusunan artikel ini.
Integritas seorang ilmuwan
Berdasarkan dua dokumen yang saya peroleh, bidang keilmuan Dwi Hartanto adalah ia masih berstatus mahasiswa PhD di bidang Virtual Reality dan bukan asisten profesor di bidang Teknik Dirgantara.
Kabar terakhir yang saya terima, Dwi Hartanto dijadwalkan untuk sidang skripsi pada tanggal 13 September 2017, namun kemudian kegiatan tersebut ditunda. TU Delft kini tengah mengusut pelanggaran kode etik yang dilakukan Dwi Hartanto.
Saya mengetahui adanya kasus kebohongan publik yang dilakukan oleh Dwi Hartanto dan tidak bisa tinggal diam hingga hal ini dilupakan oleh masyarakat. Jika saya diam saja, berarti saya “mengkonfirmasi” kebohongan yang dibuatnya.
Keterlibatannya dalam kegiatan Visiting World Class Professor merupakan suatu kerugian yang harus ditanggung oleh wajib pajak dan warga negara Indonesia. Perjalanannya ke Indonesia dibiayai oleh panitia dan ia mendapat honor atas kegiatannya dalam kegiatan tersebut.
Dwi Hartanto harus bertanggung jawab atas kebohongannya yang merugikan banyak pihak di Indonesia. Kebohongan yang dilakukan Dwi Hartanto juga telah mencemarkan nama baik ilmuwan pada umumnya. Ilmuwan merupakan profesi yang memerlukan integritas dan kode etik yang tinggi.
Bidang keilmuan tidak akan berkembang jika pelakunya tidak memiliki integritas untuk menjaga kejujuran dan objektivitas di bidang keilmuan. Jika kebohongan ini terus berlanjut dan Dwi Hartanto mendapat pekerjaan di bidang Teknik Dirgantara yang bukan keahliannya, pasti akan membahayakan nyawa banyak orang.
Dari dokumen yang saya terima, saya membaca transkrip wawancara acara Mata Najwa pada bulan Oktober 2016. Saya juga menonton rekaman video wawancara tersebut. Dwi Hartanto mengaku merupakan seorang postdoctoral dan asisten profesor serta berkecimpung di bidang teknologi roket.
Dari baris pertama wawancara ini saya yakin akan kebohongannya. Seorang rekan pascadoktoral bukanlah asisten profesor. Kedua jabatan ini merupakan dua jabatan yang berbeda dan tidak seorang pun dapat menduduki kedua jabatan tersebut secara bersamaan dalam satu lembaga yang sama.
Hal lain yang saya lakukan adalah menghubungi pengurus I-4 yang dekat dengan keluarga mantan Presiden BJ Habibie yang sudah lama saya kenal. Saya bertanya tentang pertemuan antara Pak BJ Habibie dan Dwi Hartanto.
Dari percakapan saya, saya diberitahu bahwa pertemuan itu bukan atas permintaan mantan Presiden ke-3 RI itu. Selain itu, pertemuan informal tersebut dihadiri banyak orang dan tidak ada pembicaraan khusus mengenai teknik penerbangan antara Bapak BJ Habibie dan Dwi Hartanto seperti yang ramai diberitakan di media.
Ambil pelajaran dari kejadian ini
Kesalahan atau kelalaian merupakan suatu hal yang wajar dilakukan oleh setiap manusia, termasuk para ilmuwan. Saya memahami kesalahan yang dilakukan Dwi Hartanto, meski tetap harus mempertanggungjawabkan kesalahannya. Kita juga harus belajar dari kesalahan Dwi Hartanto dan berusaha mencegah terulangnya kesalahan serupa dan merugikan banyak pihak.
Kasus Dwi Hartanto tak lepas dari peran media massa yang tidak mengecek berita yang dimuat. Integritas jurnalis yang memberitakan atau menyiarkan berita bohong patut dipertanyakan. Berita palsu menjadi sumber berbagai penyakit di masyarakat. Kita sebagai pembaca juga harus kritis jika menemukan adanya kejanggalan pada isi berita yang disampaikan.
Kedutaan Besar Indonesia di berbagai belahan dunia melalui Atase Pendidikan dan Kebudayaannya harus memberikan data keberadaan ilmuwan Indonesia di negaranya masing-masing. Data ilmuwan harus diperbarui setiap saat. Adanya data-data ilmiah tersebut tentunya akan memberikan banyak manfaat bagi banyak pihak, termasuk para jurnalis yang ingin menulis berita tentang ilmuwan Indonesia.
Saya ambil contoh KBRI Washington DC yang mempublikasikan data ilmuwan Indonesia di Amerika seperti terlihat di http://education.embassyofindonesia.org/indonesia-facultie…/
Hal positif yang ditemukan dalam kasus ini adalah masyarakat Indonesia haus akan berita-berita inspiratif tentang WNI yang berprestasi di luar negeri.
Saya mengenal cukup banyak ilmuwan Indonesia berprestasi di luar negeri dan saya menilai karakter para ilmuwan tersebut sangat membesarkan hati. Mereka tetap berprestasi di bidangnya masing-masing dan tidak meminta media massa memberitakan prestasinya. Mereka bekerja dan berkarya demi kemajuan bidang keilmuannya agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemajuan peradaban manusia – dan bukan untuk mencari ketenaran yang hanya bersifat sementara.
Demikian yang dapat saya sampaikan dan semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Jika Anda memiliki pertanyaan tentang artikel ini, hubungi saya, Dr. Deden Rukmana, profesor dan koordinator studi dan perencanaan perkotaan di Savannah State University, Savannah, GA 31404, Amerika Serikat, email [email protected] atau twitter @dedenrukmana
Deden Rukmana saat dihubungi Rappler mengatakan, “Kebohongan publik keterlaluan yang dilakukan Dwi Hartanto ini terjadi karena kelalaian yang dilakukan saat kebohongan publik pertama kali terjadi karena pemberitaan di Detik.com pada 12 Juni 2015. Kebohongan ini sudah berlangsung selama lebih dari dua tahun Orang yang tahu Dwi yang asli tidak bicara keluar. Karena itu perlu KeberanianKeberanian.”
Pada 12 Juni 2015, laman detik.com memuat berita wawancara dengan Dwi Hartanto di DelftBelanda
Menurut Deden, atas kebohongan publik yang dilakukan seorang ilmuwan, seharusnya ada sanksi akademis terhadap yang bersangkutan. Bentuk sanksinya tergantung pada masing-masing kasus.
Dalam surat pengakuan bermaterai yang dimuat di website resmi PPI Delft berjudul Penjelasan dan permintaan maaf oleh Dwi Hartanto, Dwi mengaku antara lain, “Tidak benar Pak BJ Habibie minta bertemu. Sebelumnya saya minta KBRI Den Haag bertemu dengan Pak. untuk menemui BJ Habibie.” –Rappler.com