Indonesia telah meraih dua gelar juara dunia bulutangkis junior
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Gelar juara dipersembahkan pada nomor tunggal putri dan ganda campuran
JAKARTA, Indonesia – Indonesia berhasil meraih dua gelar juara Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Dunia pada Minggu malam, 22 Oktober. Kedua gelar tersebut dipersembahkan Gregoria Mariska Tunjung di tunggal putri dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari di ganda campuran.
Pada laga final yang digelar di GOR Among Rogo, Yogyakarta, Gregoria berhasil mengalahkan wakil Tiongkok, Han Yue. Unggulan ketiga itu berhasil mengalahkan Han dalam pertarungan tiga game dengan skor 21-13, 13-21, dan 24-22.
Sementara Rinov/Mentari mengalahkan pasangan Indonesia lainnya, Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti, 21-23, 21-15, dan 21-18.
Wakil Indonesia lainnya, Jauza Fadhila Sugiarto/Ribka Sugiarto harus puas meraih medali perak di ganda putri. Jauza/Ribka dikalahkan pasangan Korea Selatan Baek Ha-na/Lee Yu-rim melalui rubber set dengan skor 18-21, 21-11, dan 21-3.
Sasaran lebihi
Sementara itu, Manajer Tim Bulu Tangkis Indonesia Susi Susanti mengaku puas dengan penampilan seluruh pebulutangkis junior Indonesia di Kejuaraan Dunia Junior BWF 2017 karena mampu melampaui target yang diembannya.
Indonesia berhasil meraih dua gelar juara, dua medali perak, dan satu perunggu.
“Target awal PBSI adalah meraih satu gelar dan dengan hasil ini target tersebut tercapai. Namun perjuangan mereka sungguh luar biasa. Kekalahan di nomor beregu campuran bisa menjadi penyemangat seluruh pemain untuk tampil baik di nomor individu, kata Susi.
Meski telah mencapai target yang ditentukan, Susi mengingatkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar kualitas pebulutangkis Indonesia bisa semakin matang dan meraih prestasi sebanyak-banyaknya. Fokusnya meliputi ganda putra dan tunggal putra.
“Menghadapi turnamen penting seperti kejuaraan dunia junior memerlukan persiapan yang matang. “Para pemain yang tampil di final, persiapannya cukup panjang, sekitar delapan bulan,” kata Susi.
Sementara itu, persiapan di sektor tunggal putra dan ganda putra masih kurang karena hanya bertahan sekitar tiga bulan.
Susy menambahkan, hasil pertandingan kejuaraan dunia junior bisa menjadi gambaran peta kekuatan bulu tangkis di level senior.
“Persaingan di level junior sangat ketat. Keadaan ini mungkin mencerminkan peta kekuatan bulu tangkis dunia dalam tiga hingga empat tahun ke depan, ujarnya. – dengan laporan ANTARA/Rappler.com