Irlandia Utara vs Jerman: Titik balik Die Mannschaft
keren989
- 0
Hasil imbang 0-0 melawan Polandia menuntut juara Piala Dunia itu mengalahkan Irlandia Utara.
JAKARTA, Indonesia – Jerman tak berkutik pada laga keduanya melawan Polandia di Euro 2016. Laga yang imbang 0-0 ini menunjukkan tumpulnya lini depan. Pemain yang berperan sebagai pembeda juga tidak banyak terlihat.
Hasil imbang tersebut menunjukkan bahwa mereka telah kehilangan sosok terobosan pertahanan. Pemain memasuki pertahanan lawan dari ruang kosong.
Sebelumnya peran ini dilakukan oleh Philipp Lahm. Meskipun posisinya sebagai punggung penuhPemain yang kini berusia 32 tahun itu kerap membobol pertahanan lawan dari posisinya ruang buta.
Lawan yang tak menyangka dengan pergerakan para pemain Bayern Munich tak mampu menghentikannya. Lahm bebas mengirim persimpangan atau menggunakan skema passing pendek dengan penyerang.
Bahkan, banyak yang menilai Lahm adalah bek yang bagus sikap seseorang pembuat permainan. Tidak heran pelatih Bayern Munich, Josep “Pep” Guardiola, menunjuknya sebagai gelandang jangkar.
Namun, setelah kapten timnas tersebut pensiun dari timnas, tak ada lagi pemain yang memiliki kemampuan setara dengannya. Punggung penuh Tidak banyak orang Jerman saat ini yang memiliki inisiatif menyerang seperti Lahm.
Selain itu, absennya Lahm juga mengisi posisi kosong yang sulit tergantikan: kepemimpinan. Meski ban kapten kini sudah berpindah ke Bastian Schweinsteiger, pemain Manchester United itu belum bisa benar-benar menggantikan Lahm.
Pada laga melawan Polandia, kebuntuan di lini depan rupanya tak kunjung terselesaikan. Tak ada inisiatif lain dari para pemain selain mengeksekusi skema serangan yang sama secara berulang-ulang.
Melawan Irlandia Utara, Selasa 21 Juni pukul 23.00 WIB, situasi tersebut tidak bisa terjadi. Nama panggilan tim Tim harus segera kembali ke jalur kemenangan. Pasalnya hasil imbang melawan tim asuhan Michael O’Neill akan mengancam peluang mereka untuk mencapai babak 16 besar.
Irlandia Utara menyiapkan skema pertahanan
Jerman bisa tersingkir dari babak penyisihan grup jika bermain imbang melawan Irlandia Utara dan Polandia mengalahkan Ukraina.
Terlebih lagi, dengan tertutupnya peluang Ukraina untuk melaju ke babak berikutnya, Polandia jelas berada di atas angin untuk mengalahkan mereka.
Situasi sulit bagi pasukan Joachim Loew karena Irlandia Utara merupakan tim yang memiliki karakter bertahan. Mereka sering menumpuk sepuluh pemain di belakang untuk melindungi gawangnya dari kebobolan.
Pada laga melawan Polandia yang berakhir 0-1, mereka memainkan skema 3-5-1-1. Di game kedua, O’Neill berubah pikiran dengan menggunakan formasi 4-5-1. Formasi ini membuat pertahanan lebih aman dan serangan balik lewat sayap bisa lebih mematikan.
Selain itu lini kedua bisa menembak lebih banyak. Alhasil, mereka menang 2-0 atas Ukraina.
Dengan menumpuk pemain di tengah dan menggunakan striker tunggal, tak heran jika tidak ada gol yang tercipta dari kaki striker pada pertandingan tersebut.
Sebaliknya, gol datang dari bek Gareth McAuley dan gelandang Niall McGinn.
Mau tidak mau, Joachim Loew harus melakukan terobosan untuk membongkar pertahanan Irlandia Utara sekaligus mewaspadai serangan balik mereka.
Salah satu upayanya adalah memasang Thomas Mueller sebagai ujung tombak dalam formasi 4-2-3-1. Hal ini membuat pemain Bayern Munich itu leluasa bergerak.
Apalagi Mueller merupakan penyerang yang pergerakannya sangat bebas dan tidak bisa diprediksi. Meski menjadi garda depan penyerangan, ia bisa beredar di banyak tempat di lini depan. Tak salah jika dia mendapat julukan itu juga Penerjemah luar angkasa alias pencari ruang.
“Kemungkinan besar akan ada satu atau dua perubahan di dalamnya berdiri dalam barisan. Tentu saja kami juga membahas kemungkinan memperkenalkan Mueller. Akankah itu terjadi? Tunggu dan lihat,” kata Loew seperti dikutip situs resmi UEFA.
Meski begitu, masih sulit bagi Jerman untuk hanya mengandalkan pergerakan Mueller. Harus ada pemain lini kedua yang ingin menerobos kubu Irlandia Utara. Peran tersebut bisa dimainkan oleh Mesut Özil atau Julian Draxler.
Pelatih Irlandia, Michael O’Neill, sadar timnya berada di posisi inferior. Namun, mereka kini hanya terpaut satu pertandingan lagi untuk lolos ke babak 16 besar.
Jika mampu mengalahkan Jerman, maka mereka akan langsung lolos ke babak 16 besar. Namun, jika kemenangan dirasa terlalu ambisius, hanya hasil imbang yang bisa menjaga harapan mereka tetap tinggi. Tentu saja, mereka tidak langsung kabur. Namun ditunggu dengan antisipasi jika mereka masuk dalam 4 peringkat ketiga terbaik.
“Berapa pun poin yang kami peroleh, semuanya sangat sulit. Namun ‘hadiah’ yang akan kita terima sungguh luar biasa. Peluang lolos ke babak 16 besar, kata O’Neill.
“Jika kami bisa mendapatkan sesuatu dari pertandingan ini, tiga atau satu poin, kami akan berada dalam posisi yang kuat. “Kami akan mengulangi gaya yang sama melawan Ukraina,” tambah pria berusia 46 tahun itu.—Rappler.com
BACA JUGA: