• April 4, 2025
Jakarta berubah, atau Papua merdeka

Jakarta berubah, atau Papua merdeka

JAKARTA, Indonesia – Pemerintah harus mengubah pendekatannya terhadap Papua dan diplomasi luar negeri jika tidak ingin provinsi itu lepas dari Indonesia, demikian peringatan beberapa tokoh lintas agama, Rabu (5/10).

Pendeta Hendrik Lokra, Direktur Eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian Komunitas Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), mengatakan pendekatan keamanan selama ini membuat masyarakat Papua merasa terasing dan kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah.

“Setiap hari ada pembunuhan. Demonstrasi, berapapun jumlah pesertanya, selalu dihadapi oleh polisi dan tentara bersenjata lengkap, seolah-olah berhadapan dengan musuh di medan perang. Fakta ini membuat rakyat Papua semakin merugi kepercayaan diri ke Jakarta,” kata Hendrik dalam jumpa pers di Jakarta.

Akhir September lalu, 7 negara di Kepulauan Pasifik meminta Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyelidiki dugaan pelanggaran HAM berat di Papua.

Salah satu kritik mereka adalah penangkapan ribuan aktivis Komite Nasional Papua Barat saat aksi damai menuntut referendum di berbagai kota di Papua dan Papua Barat.

Tekanan ini mendapat tanggapan keras dari delegasi Indonesia yang mengatakan ketujuh negara tersebut tidak memahami sejarah, situasi dan perkembangan HAM di Indonesia belakangan ini.

Saat ini, tim gabungan sedang menyelidiki tiga dugaan pelanggaran HAM berat di Papua, termasuk penembakan warga sipil di Paniai pada 8 Desember 2014. Komnas HAM juga menyelidiki pembunuhan tokoh Papua Theys Hiyo Eluay pada November. 2001.

Sejak pemungutan suara rakyat atau referendum tahun 1969, Papua berulang kali menjadi daerah operasi militer untuk mengejar kelompok bersenjata Operasi Papua Merdeka. Laporan penembakan dan penyiksaan terhadap warga sipil sering terjadi, namun belum ada orang yang bertanggung jawab atas kekerasan tersebut yang dihukum.

Menurut pendeta Katolik Benny Susetyo, pendekatan kekerasan membuat orang Papua merasa “bukan bagian dari Indonesia dan terasing” dan menuntut kemerdekaan.

Ia meminta pemerintah menggunakan pendekatan budaya terhadap masyarakat Papua, seperti yang dilakukan mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang mengubah nama Irian menjadi Papua dan mengizinkan “Bendera Budaya Bintang Kejora” berkibar di samping tiang bendera kebangsaan Indonesia.

“Pendekatan budaya berarti berdialog, duduk bersama tokoh Papua, dan melibatkan mereka dalam pembangunan ekonomi dan pendidikan,” kata Benny.

Ia juga meminta pemerintah membentuk tim rekonsiliasi di bawah presiden yang bertugas mengembalikan harkat dan martabat masyarakat Papua melalui pendekatan budaya.

“Pemerintah harus berani berdialog dan merangkul diaspora Papua. Mungkin sikap mereka keras, mungkin mereka menuntut (mereka) merdeka, mungkin suaranya lantang menuntut penyelesaian masalah HAM, tapi kalau kita dengar baik-baik dan mau mengerti, mereka akan melunak,” kata Benny.

Menurut Benny, diplomasi luar negeri Indonesia terkait isu Papua harus mengedepankan dialog dengan negara lain. “Jangan remehkan negara lain, meski kecil. Dalam diplomasi, Indonesia harus menggunakan persuasi dan meyakinkan negara lain bahwa memang ada masalah (HAM di Papua) tetapi sedang ditangani oleh pemerintah,” ujar Benny.

(BACA: Pelanggaran HAM di Papua Kembali Dibahas di Sidang Umum PBB ke-71)

Sementara itu, Humas PGI, Jeirry Sumampow mengatakan maraknya pelanggaran HAM di Papua dan Papua Barat antara lain disebabkan perbedaan cara pandang terhadap apa yang terjadi di kedua provinsi tersebut.

Pemerintah, menurut Jeirry, selalu memandang unjuk rasa di Papua dari perspektif subversi, sehingga harus menggunakan pendekatan keamanan dan kekerasan.

“Itulah yang membuat banyak hal yang tidak masuk akal. Demonstrasi yang dilakukan oleh 5 atau 10 orang itu dikawal oleh ratusan polisi bersenjata lengkap, padahal masyarakat Papua masih trauma dengan polisi dan tentara,” kata Jeirry.

Ia mengingatkan negara-negara asing untuk terus memantau kondisi HAM di Indonesia, khususnya di Papua.

“Di sini kita melihat fenomena sidang PBB. Sebelumnya, jarang ada (negara) yang secara terbuka mengkritisi Indonesia terkait Papua. Dulu, isu Papua diangkat oleh lembaga swadaya masyarakat atau gereja. Tapi sekarang negara-negara (di Bangka Belitung) berinisiatif membawa isu Papua ke PBB,” kata Jeirry.

Pelanggaran hak asasi manusia

Selain mengubah pendekatan terhadap Papua, Direktur Eksekutif Lingkar Masyarakat Sipil Indonesia Ray Rangkuti meminta pemerintah menuntaskan secara tuntas berbagai pelanggaran HAM di Papua, terutama dugaan pelanggaran HAM sejak Presiden Joko Widodo dilantik. . pada Oktober 2014.

Menurut Ray, intensitas pelanggaran HAM pada era reformasi cenderung menurun dibandingkan era Orde Baru, namun pemerintah tidak melakukan tindakan serius terhadap pelanggaran tersebut.

“Belum ada satu pun peristiwa pelanggaran HAM di Papua yang tuntas diselesaikan oleh pemerintah, meski eskalasinya sudah mereda,” kata Ray.

Menurut Ray, Presiden Jokowi memiliki modal politik untuk menyelesaikan masalah Papua karena sebagian besar masyarakat Papua mendukungnya pada Pilpres 2014 lalu.

Rakyat Papua, kata Ray, percaya Jokowi bisa menyelesaikan masalah mereka. Sayangnya, dengan semangat “kerja, kerja, kerja”, Jokowi mengabaikan persoalan hukum dan HAM di Papua.

“Papua memang harus dibangun, tapi harus ada jaminan kita (orang Papua) tidak lagi teror secara psikologis dan ada jaminan kebebasan berekspresi,” ujarnya. – Rappler.com

Live Result HK