Jawa Barat merupakan pusat kegiatan JAD
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
“Hampir seluruh penangkapan (terduga teroris) sebagian besar terjadi di Jawa Barat.”
BANDUNG, Indonesia – Bagian Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri dan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat terus melakukan pencarian terduga teroris yang tergabung dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).
Terakhir, lima terduga teroris ditangkap di kawasan Antapani Kota Bandung, Jawa Barat. Sebelumnya, polisi juga menangkap puluhan terduga teroris jaringan JAD lainnya. Diantaranya adalah mereka yang diyakini terlibat dalam aksi bom pot di Taman Pandawa, Kampung Melayu, dan Buah Batu.
Tempat penangkapan terduga teroris berada di wilayah Jawa Barat seperti Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung.
“Hampir seluruh penangkapan (dugaan teroris) terbanyak di Jawa Barat,” kata Kapolda Jabar Irjen Pol. Anton Charliyan, usai menghadiri upacara HUT ke-72 RI di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Kamis 17 Agustus 2017.
Banyaknya terduga teroris yang ditangkap di Jabar, lanjut Anton, menandakan Jabar menjadi tempat persembunyian dan pusat aktivitas jaringan JAD. Jadi bisa dibilang, mungkin sebagai salah satu pusatnya, kata Anton.
Itu sebabnya, lanjut Anton, jumlah anggota Densus 88 Mabes Polri yang ditugaskan di Jabar lebih banyak dibandingkan provinsi lain. “Dua kali lipat dibandingkan provinsi lain,” ujarnya.
Terkait penemuan bahan kimia di rumah kontrakan salah satu terduga teroris yang ditangkap, Anton mengatakan Puslabfor masih mendalami bahan kimia tersebut. Dia belum bisa menyebutkan nama bahan kimia tersebut. “Hasilnya (hasil) belum keluar dari Puslabfor, kalau sudah turun baru kita umumkan,” ujarnya.
Lebih lanjut Anton melanjutkan, Polda Jabar mengambil langkah preventif menyikapi ancaman JAD yang menjadikan anggota Polri sebagai sasaran aksi terornya. Salah satunya dengan mempersenjatai anggota Polri dan memberikan keamanan berlapis.
“Bagian yang lemah didukung oleh bagian yang kuat. Misalnya dari Satuan Lalu Lintas (Satlantas) ada cadangan, baik dari Brimob atau Sabhara yang bersenjata. “Sekarang kita keluarkan semua senjatanya, agar semua anggota bisa bersenjata,” kata Anton.
Sementara untuk langkah antisipatif secara umum, kata Anton, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada seluruh pihak terkait, khususnya ulama. “Kami juga lebih aktif bersama para ulama dan seluruh pemangku kepentingan untuk semakin menekan gerakan mereka,” kata Anton. —Rappler.com