• March 18, 2026
Jejak penyebaran Islam dari Hadramaut hingga kota Daeng

Jejak penyebaran Islam dari Hadramaut hingga kota Daeng

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Masjid Assaid Makassar menjadi bukti nyata penyebaran agama Islam yang dilakukan suku Hadramaut dari Yaman Selatan.

MAKASSAR, Indonesia – Salah satu komunitas suku yang berperan dalam penyebaran agama Islam di kota Makassar, Sulawesi Selatan, adalah suku Arab. Salah satunya berasal dari Hadramaut, Yaman Selatan.

Masjid Assaid Makassar merupakan salah satu bukti dan peninggalan penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan. Tempat beribadah umat Islam berada di tengah
Kampung komunitas Tionghoa atau Chinatown dan berusia lebih dari satu abad.

Habib Alwi yang merupakan Imam Rawatib di masjid tersebut mengatakan, Masjid Assaid telah berdiri sejak tahun 1907 Masehi. Saat itu sayyid asal kota Yaman Selatan atau desa Hadramaut datang ke Makassar dan ingin salat.

Berada di tengah pemukiman Desa Pecinan, para Sayyid atau dikenal dengan Syekh yang dipimpin oleh Syekh Hasan bin Muhammad At-Taufik membangun sebuah tempat ibadah kecil. Pembangunan masjid ini juga dibantu oleh syekh lain seperti Syekh Ali bin Abdurrahman Shihab yang merupakan kakek dari Prof. Quraish Shihab, seorang komentator terkenal di Indonesia. Kini masjid ini menjadi masjid Arab tertua di Makassar.

“Secara bertahap, masjid mulai dibangun sedikit lebih besar dari sebelumnya. Namun meskipun masjid ini dibangun oleh Sayyid keturunan Arab, bukan berarti khusus digunakan oleh keturunan Arab, melainkan seluruh umat Islam bisa berkumpul di sini, kata Habib Alwi usai memimpin salat berjamaah di Masjid Assaid. . , Selasa, 7 Juni.

Di halaman masjid Assaid terdapat dua buah pohon kurma, yaitu yang di samping masjid berumur 24 tahun dan yang di depan halaman masjid berumur 10 tahun.

“Pohon kurma depan masjid ini cukup ajaib, karena hanya berbiji satu tetapi menjadi dua pohon. “Sungguh berkah dari Allah SWT dan saya beri nama pohon kurma tersebut dengan nama Umar Alwi karena saya dan Habib Alwi yang menanamnya,” kata Habib Umar yang merupakan keturunan langsung dari pendiri Masjid Assaid.

Khusus untuk jamaah laki-laki

Jika di masjid lain jamaah perempuan diperbolehkan ikut jamaah, maka di masjid Assaid khusus jamaah laki-laki saja. Budaya salat para Sayyid masih dipertahankan hingga saat ini dan menjadi salah satu ciri khas masjid Arab ini.

Menurut Habib Alwi, masjid ini khusus diperuntukkan bagi jamaah laki-laki. Namun terkadang bisa digunakan oleh jamaah haji wanita yang berstatus musafir.

Di bulan Ramadhan, menurut adat istiadat, tidak ada makmum bagi perempuan untuk melaksanakan salat berjamaah.

“Salah satu hadis juga mengatakan, ibadah terbaik bagi seorang wanita lebih baik dilakukan di rumah,” ujarnya.

Jamaah di Masjid Assaid, lanjut Habib Alwi, sebagian besar merupakan warga luar kampung Pecinan. Diantaranya dari Kabupaten Gowa, Jalan BTP Makassar, Jalan Minasaupa dan dari daerah lainnya.

“Orang di sini hanya sedikit karena mayoritas orang Tionghoa. “Tetapi masjid ini beberapa kali membuat masyarakat Tionghoa setempat masuk Islam,” kata Habib Alwi. – Rappler.com

BACA JUGA:

SDy Hari Ini