• March 21, 2026

Jejak Pieter Moojen di Masjid Cut Meutia

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Masjid Cut Meutia pada awalnya merupakan bangunan arsitektur buatan Belanda.

Jakarta, Indonesia—Awan menggantung di langit Menteng, Jakarta Pusat pada Kamis sore, 16 Juni. Bukan karena langit akan turun hujan, melainkan karena matahari mulai meluncur ke barat.

Namun suasana yang membosankan tidak menghalangi anak-anak bersarung untuk mengobrol dan berlarian di antara tiang dan gang Masjid Cut Meutia yang terletak tak jauh dari stasiun Gondangdia. Mereka tampak bahagia, karena sSebentar lagi azan akan berbunyi. Saatnya berbuka puasa.

Siang itu, Rappler berada di tengah anak-anak, orang tua, dan rombongan remaja yang biasa beraktivitas di masjid yang terletak di lokasi paling strategis di kawasan Menteng itu.

Jika dilihat sekilas, bangunan ini didesain sebagai masjid. Namun ternyata bangunan tersebut tidak dibangun sebagai masjid.

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Berdasarkan sebuah angka sumberMasjid ini sebenarnya merupakan bangunan arsitektur milik penulis dan pelukis Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Ia merupakan seorang arsitek asal Belanda yang mendirikan biro arsitektur Bouwploeg.

Pada tahun 1922, Pieter mempelajari model bangunan arsitektur Belanda yang dipadukan dengan gaya India Timur.

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Jejak gaya arsitektur perkawinan antara Eropa dan India Timur ini dapat Anda temukan pada langit-langit dan jendela masjid.

Bukti lain bangunan ini tidak diperuntukkan sebagai masjid adalah arah kiblatnya tidak sejajar dengan pintu utama. Kemiringannya sekitar 45 derajat.

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Sehingga saat jemaah berkumpul untuk salat, badan bagian kanan akan menghadap pintu utama.

Menemukan sidik jari Moojen saja tidak cukup disana, cobalah naik ke lantai dua.

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Anda akan melihat sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang kongres. Anda bisa melihat ke bawah dan melihat jemaah masjid seperti menonton konser dari balkon.

Bagian dinding Masjid Cut Meutia di lantai dua juga hampir mirip dengan museum atau rumah kuno Belanda. Seolah tak menyangka lantai dasar difungsikan sebagai tempat salat.

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Bangunan ini ditinggalkan oleh pemiliknya setelah pecahnya Perang Dunia Kedua, tepat saat Jepang berkuasa. Pada tahun 1942-1945 gedung ini dikuasai oleh Angkatan Laut Jepang.

Saat Jepang menyerah, gedung ini digunakan sebagai kantor urusan perumahan dan kantor urusan agama.

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Hingga Gubernur Ali Sadikin melihat potensi lain, bangunan ini diubah fungsinya menjadi masjid melalui SK nomor SK 5184/1987 tanggal 18 Agustus 1987.

Rappler bertanya kepada pengunjung dan penjaga masjid apakah mereka mengetahui bahwa tempat yang mereka kunjungi saat ini sebenarnya bukan bangunan masjid?

Ada di antara mereka yang mengaku tidak tahu, bahkan tidak mengetahui kalau Ali Sadikin adalah dalang alih fungsi gedung tersebut.

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Selain itu, belum banyak yang mengetahui bahwa masjid ini tidak memiliki kaitan sejarah dengan pendekar wanita legendaris Aceh, Cut Meutia.

Namun meski tidak tahu apa-apa, masjid ini tetap menjadi tempat ibadah yang banyak dikunjungi warga sekitar Jakarta Pusat, termasuk para pekerja kantoran yang hanya naik untuk salat. —Rappler.com

Pengeluaran Hongkong