• March 1, 2026
Juventus vs AC Milan: Lengkap ‘sfida infinita’

Juventus vs AC Milan: Lengkap ‘sfida infinita’

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Juve kesulitan mempertahankan fokus. Namun Milan juga tidak meyakinkan untuk menang.

Jakarta, Indonesia – Menuju Surat kabar olahraga terbesar di Italia, La Gazzetta dello Sport, yang terbit pada Rabu 25 Januari, dengan jelas memuat: Tantangan yang tak terbatas. Persaingan tidak pernah berakhir.

Judulnya tidak berlebihan. Pertarungan antara Juventus dan AC Milan masih berlanjut musim ini. Intensitasnya tinggi. Begitu pula frekuensinya. Laga perempat final Coppa Italia yang dihelat di Juventus Stadium, Turin pada Kamis 26 Januari pukul 02.45 WIB dini hari nanti akan menjadi laga ketiga mereka musim ini.

Duel Milan dan Juve selalu berlangsung ketat.

Pada laga Piala Super Italia Desember lalu misalnya. Milan berhasil mengalahkan Juve 4-3 melalui adu penalti setelah laga berakhir 1-1 di waktu normal dan perpanjangan waktu.

sebelumnya, Wanita tua alias Si Nyonya Tua juga dikalahkan 1-0 oleh Milan di San Siro pada pertemuan Serie A.

Tak pelak, di tengah dominasi Juventus di Italia, Iblis sungguh memalukan bagi penguasa. Posisi pasukan Vincenzo Montella yang berada di peringkat ketujuh klasemen memang tidak mencerminkan kualitas mereka atas Juventus.

“Melawan Juve kami bermain dengan keberanian dan paradigma bahwa kami adalah tim besar,” kata Montella dikutip dari Football Italia.

Juve bukanlah lawan biasa bagi Milan. Di masa kejayaan Rossoneri, pertarungan kedua tim selalu menjadi laga penentuan juara. Namun, rival sekota Inter Milan kini menjadi salah satu raksasa tidur Italia. Mereka terpencar dari pertempuran scudetto alias gelar juara. Mereka juga tidak lagi tampil di ajang Eropa.

Meski demikian, bukan berarti mereka akan menyerah saat menghadapi Juve. Padahal, jika tidak ada peluang lagi, Coppa Italia bisa jadi jalan keluarnya. Hanya di turnamen ini mereka bisa mengakhiri puasa gelar Coppa Italia selama 14 tahun.

Juara Coppa Italia juga bisa membawa mereka kembali ke kompetisi Eropa setelah absen di kancah internasional musim ini. Sesuatu yang sangat diimpikan oleh pengoleksi gelar Liga Champions terbanyak di Italia. Ditambah lagi mereka selalu mengklaim “DNA” mereka adalah gelar Eropa.

Juve kesulitan membagi fokusnya

Kondisi ini berbeda dengan Juventus. Klub milik keluarga Agnelli itu sedang krisis fokus. Mereka tak lagi bisa nyaman menjaga peluang juara di tiga ajang yang mereka ikuti secara bersamaan: Coppa Italia, Serie A, dan Liga Champions.

Dengan 4 kekalahan di Serie A, posisi mereka di puncak klasemen masih terjangkau oleh AS Roma dan Napoli. AS Roma menjaga jarak dari Juventus hanya dengan selisih 1 poin. Sementara Napoli punya 5 poin.

Jika Anda harus memilih antara Coppa Italia atau Serie A, tentu saja pelatih Massimiliano Allegri akan memilih yang terakhir. Selain itu, mereka juga lolos ke putaran kedua Liga Champions. Krisis prioritas ini menjadi peluang Milan untuk mengejar Juventus.

Namun upaya untuk mewujudkannya tidaklah mudah. Sebab, meski dia punya catatan kepala ke kepala Unggul dari Juventus, performa Milan tak konsisten. Mereka baru saja ditahan imbang 1-1 oleh Torino dan kalah dari Napoli 1-2 di San Siro.

Situasinya berbeda dengan Juventus. Mereka akan menghadapi Milan setelah tampil sempurna melawan Lazio di Serie A. Juve mengalahkan tim asal Roma 2-0.

“Juve terlalu berpengalaman dalam situasi seperti ini. Tapi kami akan berusaha lolos,” kata Montella.

Berbeda dengan Montella yang bersemangat menjelang pertandingan ini, Allegri lebih tenang. Dia percaya pada keseimbangan dalam timnya. Diakuinya, dua kekalahan melawan Milan membuat timnya minder.

“Masalahnya adalah gelar juara tidak ditentukan oleh insiden. Namun melalui keseimbangan dan konsistensi. Di situlah kekuatan kami,” dia berkata.—Rappler.com

uni togel