Kami hanya merawat satu pasien yang diduga menderita antraks
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Pasien anak yang diduga mengidap penyakit antraks tersebut meninggal dunia dengan diagnosis awal infeksi selaput otak.
JAKARTA, Indonesia – Perwakilan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Sardjito membantah merawat 15 pasien asal Kulonprogo yang menderita penyakit antraks. Mereka hanya merawat satu pasien yang diduga mengidap penyakit tersebut.
Satu pasien meninggal dengan diagnosis radang otak (meningitis) dan dipulangkan dari RSUD Sleman.
Sedangkan hasil uji kultur yang memerlukan waktu cukup lama untuk pemeriksaannya menunjukkan adanya bakteri bacillus anthracis. RSUP dr. “Sardjito masih perlu melakukan serangkaian pemeriksaan lebih detail untuk memastikan bakteri tersebut adalah antraks,” kata dr. Sardjito, Dr. Noornaningsih, Sp.A(K), dalam jumpa pers yang digelar Sabtu 21 Januari, menjelaskan kronologi awal penerimaan pasien diduga menderita penyakit antraks.
Dijelaskannya, pasien di RSUP dr. Sardjito pada tanggal 31 Desember 2016 dan merupakan pasien rujukan dari RSUD Sleman. Setibanya di unit gawat darurat, kesadaran pasien mengalami penurunan dan disertai gejala kejang.
“Pasien dirawat karena kejang saat itu dan dipindahkan ke unit PICU. “Pasien diberikan penanganan lebih lanjut dan dilakukan serangkaian pemeriksaan serta anamnesis sehingga diperoleh diagnosis infeksi meningeal,” kata dr. Noornaningsih, Sp.A(K).
Tim medis PICU kemudian melakukan terapi untuk mengatasi infeksi otak tersebut dan mengambil sampel cairan otak. Sejak masuk, pasien belum mempunyai respon pernapasan yang baik. Akhirnya dia dipasangi mesin pernapasan (ventilator).
“Setelah dirawat selama enam hari, ternyata tidak ada tanda-tanda perbaikan dan pada tanggal 6 Januari 2017, pasien anak tersebut meninggal dunia,” kata dr. Noornaningsih, Sp.A(K).
Oleh karena itu, RSUP dr. Sardjito membantah merawat 15 pasien terduga penyakit antraks. Mereka juga mengimbau masyarakat tidak perlu terlalu khawatir karena rumah sakit tersebut sudah dinyatakan aman untuk dikunjungi maupun berobat.
Para tenaga medis yang menangani langsung pasien juga dalam kondisi baik. Jadi, mereka bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kementerian Kesehatan juga sedang menyelidikinya
Isu maraknya penyakit antraks di Yogyakarta juga mendapat perhatian dari Kementerian Kesehatan. Mereka mengatakan tim kesehatan di Yogyakarta akan memeriksa apakah memang ada virus antraks di sana.
Dinas Kesehatan Kulon Progo melakukan penyelidikan bersama Dinas Peternakan, Program Pelatihan Epidemiologi Lapangan (FETP) Fakultas Kedokteran UGM, INA RESPOND Litbangkes, Balai Besar Veteriner Wates dan RSUP dr. Sardjito. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Oscar Primadi mengatakan, hasil pemeriksaan akan diverifikasi oleh institusi tempatnya bekerja.
Berbagai hal juga dilakukan Dinas Kesehatan setempat, antara lain bertemu dengan pasien, mengobati penderita, dan melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan kepastian diagnosis, mendeteksi faktor risiko penularan, pemutakhiran pengetahuan di Puskesmas Girimulyo 2, dan melakukan pengobatan, ”kata Oscar. . .
Departemen Kesehatan juga melakukan sosialisasi penyakit antraks kepada masyarakat. Salah satunya dengan mendorong masyarakat membeli daging yang dijamin bebas penyakit antraks.
Kemudian masyarakat juga harus memasak daging dengan sempurna selama 5-10 menit dengan suhu lebih dari 100 derajat Celcius dan selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, ”ujarnya. – dengan laporan ANTARA/Rappler.com