• February 28, 2026

Kami juga ingin meminta maaf, mohon ijinkan kami pulang

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Ratusan Pengungsi Syiah di Sidoarjo Minta Polda Jatim Izinkan Mereka Kembali ke Sampang untuk Silaturahmi

SURABAYA, Indonesia – Meski libur kemenangan Idul Fitri tinggal sehari lagi, namun suasana di Apartemen Jemundo Sidoarjo, Jawa Timur masih jauh dari kata normal. bergegas pulang. Bahkan Apartemen 6 lantai ini terlihat terbengkalai. Ada sekelompok anak-anak bermain di lorong lantai dasar. Di koridor lantai empat ada sekitar 10 pria dewasa duduk bersila di atas matras. Mereka tampak berdiskusi dengan serius.

“Bukan rahasia lagi. “Kami sedang mendiskusikan rencana mudik ke Sampang dengan pemilik kendaraan,” kata Ustadz Tajul Muluk, salah satu tokoh Syiah asal Sampang, Madura, kepada Rappler.

Pasca penyerangan warga Syiah di Desa Karanggayam, Sampang empat tahun lalu, 82 kepala keluarga yang terdiri dari 337 jiwa dievakuasi ke Apartemen Jemundo Sidoarjo oleh Pemprov Jatim. Sejak empat tahun lalu, mereka belum pernah kembali ke kampung halaman. Ini adalah pertama kalinya mereka berencana untuk pulang. Artinya, jika Polda Jatim menyetujui permintaan pengawalan mereka.

Menurut Ustadz Tajul, keinginan mudik sebenarnya selalu ada setiap menjelang Idul Fitri, namun baru tahun ini mereka mempersiapkannya dengan matang.

“Kami berharap Polda Jatim bisa memfasilitasi keinginan kami. Begitu pula dengan pemerintah Kabupaten Sampang, jangan terima keinginan kyai di Sampang yang menolak kedatangan kami. Sebab dengan mengabulkan permintaan kyai sama saja dengan memupuk kebencian di kalangan anak bangsa. “Permusuhan sebenarnya dilarang oleh Allah,” kata Tajul.

Dengan mudik kali ini, kata Tajul, umat Syiah ingin menuntaskan puasanya. Sebab menurut Tajul, tujuan puasa adalah untuk membentuk pribadi yang bertakwa. Sedangkan taqwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Salah satu perintah Allah adalah persahabatan. Nabi Muhammad sendiri bersabda bahwa orang yang memutuskan tali silaturahmi tidak akan masuk surga.

“Kami berpuasa dan ingin diterima, kami ingin pulang untuk melanjutkan silaturahmi. Meski rumah kami dibakar dan kami diusir, kami tetap tidak punya rasa benci terhadap mereka. Lagipula, tidak ada balas dendam sama sekali. “Kami tetap menganggap mereka saudara kami,” kata Tajul.

Bahkan tudingan sesat Syiah, kata Tajul, belum bisa dibuktikan melalui argumen terbuka atau dialog. Meski dialog dan diskusi terhenti dan belum ada jawaban, kata dia, sebenarnya ada cara lain yang diajarkan Islam untuk menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Cara itu adalah mubahalah, yaitu meminta untuk diadili langsung oleh Allah.

“Setiap orang pasti bersumpah, siapa yang membela ketidakbenarannya, minta dihukum langsung oleh Tuhan. Dan saya siap melakukannya,” kata Tajul.

Khairul Umam tak terima dengan rencana Khairul Umam pulang kampung ke kampung halamannya di Sampang, Madura. Pria paruh baya dengan empat anak ini tak terlalu berharap dengan rencananya pulang kampung. Ia tak punya persiapan khusus untuk pulang hingga Senin sore, 4 Juli 2016. “Jangan berharap banyak. “Saya takut kecewa kalau dibatalkan karena belum disetujui pemerintah,” ujarnya.

Namun jika ternyata diperbolehkan pulang, Khairul sudah berencana akan berziarah ke makam ayahnya dan bertemu dengan anak serta ibunya yang tinggal di Desa Karanggayam, Sampang. Khairul sendiri dulunya tinggal di Desa Bluuran yang berbatasan dengan Desa Karanggayam.

“Kami sebenarnya datang ke sini bukan untuk mencari masalah, tapi hanya ingin meminta maaf,” kata Khairul.

Khairul mengatakan, keluarga dan tetangganya di Desa Bluuran sebenarnya sudah tidak mempermasalahkan perbedaan keyakinan. Berbeda dengan sebelumnya yang terjadi perlawanan kuat. “Tapi kenapa kami masih belum diperbolehkan pulang,” tanya Khairul.

Salah satu bukti warga yang menganut paham berbeda tersebut, menurut Khairul, adalah sudah ada warga yang menggarap sawahnya. Sebelumnya, warga non-Syiah sangat antipati terhadap mereka.

“Dulu, kontak fisik apalagi. Kalau menginjak tanah milik orang Syiah, harusnya dicuci kakinya,” kata Khairul.

Tapi sekarang berbeda. Mereka tidak lagi mempunyai masalah dengan kelompok Syiah. Warga bahkan menggarap ladang Khairul yang ditinggalkannya empat tahun lalu. Lahan pertanian Khairul kurang lebih seluas 1 hektar.

“Tolong garap bidang saya. Aku ikhlas, tidak apa-apa. Ini sebenarnya bagus. Dulu kalau menginjak tanah milik Syi’ah harus dicuci kakinya, namun sekarang boleh saja makan dari ladang milik Syi’ah. Itu bagus,” katanya.

Khairul mengatakan meski tak lagi memiliki rumah di Bluuran karena dibakar massa, keinginannya untuk tinggal di kampung halaman masih kuat. Selama tinggal di pengungsian, Khairul dan pengungsi Syiah lainnya mendapat tempat tinggal dan tunjangan hidup dari pemerintah sebesar Rp 700.000 setiap bulannya.

Tentu saja jumlah tersebut terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga Khairul. Untuk menutupi kekurangan pendapatannya, Khairul bekerja sebagai pengupas kelapa di pasar induk Puspa Agro. Kebetulan lokasi apartemen ini berada di kawasan pasar induk Puspa Agro di Sidoarjo. Pengungsi Syiah lainnya juga bekerja sebagai pemipil kelapa.

Meski kehidupannya di pengungsian mulai teratur, Khairul tetap ingin kembali ke kampung halaman, meski harus memulai hidup dari awal lagi. – Rappler.com

Data Sidney