• February 27, 2026
Kami tidak pernah membuat spanduk dengan nada provokatif

Kami tidak pernah membuat spanduk dengan nada provokatif

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

“Spanduk yang diberitakan merupakan kampanye hitam yang keji,” kata Mardani

JAKARTA, Indonesia – Pasangan calon gubernur nomor urut 3, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, membantah membuat spanduk dan alat peraga bernada provokatif di tempat umum. Tim pemenangan Anies-Sandi melihat poster itu dipasang beberapa hari lalu.

Tulisan “Saya seorang Muslim sejati, bukan Syiah sekuler” dan “kami akan menghentikan reklamasi” tertulis di poster tersebut. Ketua Tim Pemenangan Anies-Sandi Mardani Ali Sera mengatakan, desain yang dibuat timnya selalu memuat muatan visi dan misi Anies-Sandi.

Jika tidak, maka desain yang kami buat berkaitan dengan peristiwa dan bukan bersifat provokatif yang menyerang SARA atau kelompok tertentu, kata Mardani dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 3 Januari.

Adanya meme provokatif tersebut menunjukkan pasangan calon nomor urut 3 diserang kampanye hitam pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, mereka akan berkonsultasi dengan tim hukum dan advokasi Anies-Sandi untuk menentukan langkah selanjutnya.

“Apakah kami laporkan ke pihak berwajib atau Bawaslu, nanti akan kami kabari,” ujarnya lagi.

Wakil Sekjen DPP PKS ini menjelaskan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu bukanlah penganut Syiah. Sama seperti umat Islam lainnya di Indonesia, beliau adalah ahlu sunnah wal jamaah.

Terpampangnya spanduk tersebut menunjukkan adanya kampanye hitam yang ditujukan kepada pasangan Anies-Sandi. Menurutnya, ada pihak-pihak tertentu yang justru ingin memecah belah atau menyombongkan diri sebagai umat Islam sejati.

“Spanduk yang dilaporkan adalah kampanye kotor yang keji,” ujarnya.

Anies sendiri mengaku “penuh” mendengar pemberitaan negatif tentang dirinya jelang Pilkada DKI. Dia baru-baru ini dikabarkan menjadi pengikut sekte Syiah.

Penggagas Yayasan Pendidikan Indonesia ini menduga, rumor dirinya penganut Syiah bermula saat ia masih menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, saat Duta Besar Iran untuk Indonesia datang mengunjunginya. Foto pertemuan keduanya kemudian tersebar dan dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Bahkan, yang ditemui tak hanya Duta Besar Iran untuk Indonesia, melainkan puluhan duta besar negara lain yang memiliki kantor perwakilan di Jakarta.

Ia juga dituduh menganut keyakinan Wahhabi. Mendengar tudingan tersebut, Anies hanya tersenyum karena mengetahui Wahhabi dan Syiah kerap bermusuhan.

Terbaru, Anies diduga bergabung dengan ormas Front Pembela Islam (FPI) untuk mencari dukungan. Hal itu ditandai dengan hadirnya undangan diskusi bertajuk “Mengenal Ideologi Transnasional di Era Globalisasi: Pengaruhnya Terhadap Ahlussunnah wal Jamaah dan NKRI”.

Baik Anies maupun FPI saling membantah. FPI lewat akun Twitternya membantah kehadiran Anies menandakan akan mendukung pasangan nomor urut 3. Sementara itu, Juru Bicara Pasangan Anies-Sandi Pandji Pragiwaksono mengatakan kehadiran Anies di Petamburan hanya memenuhi undangan FPI.

“Saya tahu banyak yang menganggap kedatangan Mas Anies ke FPI (artinya) melegitimasi kehadiran mereka. Namun berpura-pura bahwa mereka tidak ada bukanlah hal yang adil naif (naif), tetapi juga meremehkan (direndahkan). Qhei adalah bagian dari masyarakat kita (mereka adalah bagian dari masyarakat kita),” tulis Pandji lewat situs web pribadi pada hari Senin, 2 Januari. – Rappler.com

lagu togel