Kapolri: Santoso dipastikan tewas ditembak
keren989
- 0
Kapolri Jenderal Tito Karnavian membenarkan identitas jenazah Santoso berdasarkan pemeriksaan sidik jari
JAKARTA, Indonesia – (UPDATED) Kapolri Jenderal Tito Karnavian membenarkan Amir Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Santoso alias Abu Wardah tewas dalam baku tembak dengan Satgas Tinombala di Pegunungan Tambarana, Poso, Sulawesi Tengah pada Senin malam, 18 Juli. Kepastian itu didapat Tito berdasarkan pemeriksaan sidik jari jenazah.
Sebelumnya, mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini yakin, jenazah Santoso dari ciri fisik yang lebih mudah terlihat, termasuk tahi lalat di keningnya.
“Anggota lain yang ditangkap sebelumnya dan beberapa saksi lainnya membenarkan bahwa 95 persen jenazah adalah Santoso. Sementara 5 persen sisanya harus diyakinkan melalui tes DNA, kata Tito saat ditemui di Istana Negara, Selasa, 19 Juli.
Jenazah Santoso saat ini dibaringkan di RS Bhayangkara, Palu, Sulawesi Tengah. Pihak keluarga juga akan diminta datang untuk tes DNA. Tito mengatakan, tes ini tetap diperlukan, demi akurasi.
“Saya kira hasilnya tidak akan jauh berbeda. Namun, hasil ini tetap kami butuhkan karena siapa tahu ada yang berubah muka menjadi Santoso, ujarnya.
Ia pun mengklarifikasi, jenazah lain yang tewas bersama Santoso bukanlah jenazah Basri seperti yang diberitakan media. Basri sebenarnya berhasil melarikan diri bersama dua wanita saat terjadi baku tembak pada Senin malam.
“Satu jenazah lainnya diduga Muchtar van Palu dan memang anak buah Santoso,” ujarnya seraya menyebutkan perannya juga menyerang anggota polisi.
Kepastian juga disampaikan Kapolda Sulteng, salah satu jenazah adalah Santoso. Rudy Sufahriadi. Rudy mendapat konfirmasi dengan menunjukkan foto jenazah kepada keluarga dan anggota MIT yang sudah tertangkap.
Iya, pasti Santoso, kata Rudy saat dihubungi melalui telepon.
Himbauan untuk turun gunung
Dalam kesempatan itu, Tito juga mengimbau agar 19 anggota MIT yang tersisa turun gunung dan melakukan mediasi. Tujuannya agar situasi keamanan di sana lebih baik dan masyarakat tidak lagi merasa takut.
“Selain mediasi, mereka juga bisa mengunjungi anggota atau tokoh di sana. “Kemudian mereka turun gunung dan mengikuti proses hukum yang sesuai untuk kepentingan masyarakat Poso,” kata Tito.
Jenderal bintang empat itu berjanji akan mempertimbangkan keringanan hukuman jika anggota MIT mau bekerja sama dan menyerah. Namun jika tidak, polisi tidak akan lagi memberikan toleransi.
“Kami akan terus mengambil tindakan tegas. Kalau mereka mau turun gunung, kenapa tidak? Kami hanya menjunjung hukum. “Kami bukan musuh orang tersebut, tapi kami tidak suka dengan tindakannya,” ujarnya.
Selain membunuh Santoso dan komplotannya, polisi juga berhasil menangkap beberapa anggota MIT lainnya dalam operasi Tinombala.
“Ada tersangka yang kini ditahan saat ditangkap dalam operasi Tinombala. Ada lima orang yang akan datang nanti, yang saat ini ditahan di Polda Sulteng. Nanti juga akan ditampilkan, kata Tito.
pembingkaian MIT?
Tito mengatakan, jika benar Santoso dan Muchtar tewas ditembak, maka tidak akan ada lagi sosok yang mampu memimpin jaringan teroris, termasuk Ali Kalora yang masih buron.
Ali Kalora juga tidak mempunyai kemampuan, kompetensi, dan sebagainya kepemimpinan seperti Muchtar dan Santoso,” kata Tito.
Namun, dia mengatakan pembentukan kader bisa dilakukan di lingkungan organisasi MIT.
Tito mengatakan, persenjataan kelompok itu diperkirakan semakin menipis setelah satu pucuk senjata M16 disita usai baku tembak Senin lalu.
“Lengan TIDAK sebanyak sekarang. “3-4 senjata rakitan, satu lagi senjata buatan pabrik,” ujarnya.
Meski berhasil membunuh Santoso, Tito akan tetap melanjutkan operasi Tinombala karena masih banyak buronan yang belum tertangkap. —Rappler.com
BACA JUGA: