• March 1, 2026

Ke pasar tradisional, untuk mengenang orang-orang tercinta

YOGYAKARTA, Indonesia – Seberapa sering Anda berbelanja di pasar tradisional?

Saya mencoba berbelanja di pasar basah dekat rumah saya di kawasan Jakarta Timur, minimal seminggu sekali. Rasanya berbeda. Kalau sudah dua minggu tidak ke sana, misalkan karena mau ke luar kota, maka pedagang tetapnya akan bilang, “Mama dari mana saja, Bu, sudah bertahun-tahun seperti ini. TIDAK kemarilah.” Agak malas hehehe. Biar saya tunjukkan kemesraan.

Di pasar tradisional atau pasar basah, pembeli dan penjual tidak hanya bertransaksi. Kami saling bertanya bagaimana kabarnya. Berapa harga saat ini? Anak anda kelas berapa? Bahkan terdengar keluhan sakit. Ada interaksi antar manusia.

Di pasar modern juga terjadi interaksi, ketika kita membayar di kasir. Ada juga pertanyaan ketika karyawan ditanya, dimanakah letak barang-barang tertentu? Namun interaksinya tidak sepanas di pasar tradisional.

Kamis pagi tanggal 5 Mei saya berbelanja di Pasar Prawirotaman Yogyakarta. Saya menghabiskan akhir pekan yang panjang di kampung halaman ibu saya, yang juga merupakan kota tempat tinggal keluarga suami saya. Kemarin hari pertama saya pergi ke Pasar Suryoputran, di kawasan Panembahan, Kecamatan Kraton. Hanya 5 menit berjalan kaki dari rumah ibuku.

Pasar Prawirotaman dekat dengan rumah mertua saya. Ketika saya di Yogyakarta, saya pergi ke pasar hampir setiap pagi. Selain berbelanja, Anda juga bisa mencari jajanan untuk sarapan.

Entah kenapa, suasana pasar di Yogya memberiku romansa. Ada kenangan, kenangan, apalagi saat saya masih kecil diajak mendiang kakek saya ke pasar ini. Kebiasaan kakek saya ini diteruskan oleh mendiang ibu saya. Jadi, bagi saya, pergi ke pasar di Yogyakarta bukan sekedar bertransaksi dengan pedagang yang sudah puluhan tahun kami kenal. Pergi ke pasar tradisional berarti mengenang orang-orang tercinta yang telah tiada dan kenangan yang ada di dalamnya.

Ketika saya mengajak anak saya berbelanja di pasar tradisional, saya berharap ia akan menyimpan kenangan manis yang sama ketika ia besar nanti. Anak saya bertanya, “bagaimana ibu bisa tahu wanita penjual salep itu?”

Dia melihat ibu penjual gudhangan, semacam urapan, berkomentar ketika saya membeli, “wah, saya dengar teng mriko jeng. Lengkap ya?” Tumben nih, lengkap kan? Artinya lengkap dengan tahu dan tempe. Penjual kue tradisional menawarkan risoles isi daging asap, nikmatnya anak saya. Penjual hafal kebiasaan belanja pembelinya.

Berbelanja di pasar tradisional juga memungkinkan Anda mengontrol belanja Anda. Tidak ada sesuatu seperti window shopping, seperti berbelanja di mall atau di retail modern. Seringkali kita membeli barang-barang yang tidak kita perlukan atau tidak kita rencanakan untuk dibeli. Mata lapar.

Pengalaman saya pergi ke pasar tradisional, saya sudah tahu apa yang saya beli dan sudah berlangganan. Fokus. Ada 4-5 penjual daging di pasar, saya akan membeli dari pedagang yang sama. Pembeli lain berlangganan ke pedagang lain. Saya sering menelpon pedagang jika saya khusus ingin memesan daging, misalnya iga kambing untuk membuat thengkleng.

Kebangkitan pasar tradisional

Karena sudah terbiasa dengan pasar tradisional, saya tentu mendukung program pemerintah untuk kebangkitan pasar. Pekan ini misalnya, aktivitas Presiden Joko “Jokowi” Widodo di Jawa Tengah diwarnai dengan kunjungan ke pasar. Jokowi mengunjungi pasar Giwang Retno di Kabupaten Kebumen.

Jokowi sebelumnya mengunjungi Pasar Manis di Purwokerto. Saat ditemui para pedagang di dua pasar tersebut, Jokowi mengingatkan mereka untuk menjaga kebersihan dan kerapian pasar. Dia membawa celemek untuk digunakan pedagang itu. Bagi Jokowi, pedagang pasar tradisional sebaiknya mengenakan seragam seperti di ritel modern.

Pedagang juga diminta melayani pembeli dengan baik. “Saat pembeli datang, penjual harus tersenyum. Tidak ada pembeli, penjual mengerutkan kening, TIDAK Nanti barangnya laku, kata Jokowi yang disambut senyum para pedagang di Pasar Giwangretno. Informasi ini dapat kita baca pada halaman tersebut setkab.go.id.

Melayani pembeli dengan ramah sebenarnya sudah melekat pada para pedagang di pasar tradisional. Kita berurusan dengan pemilik langsung, mereka yang berjuang untuk mencari nafkah darinya. Tanpa diajarkan ilmu pemasaran, para pedagang di pasar tradisional dengan sopan menyapa dan membujuk pembeli.

Jokowi pun mengusulkan mengatur barang dengan baik. Saya setuju dengan ini. Setiap kali saya mengunjungi pasar tradisional di luar negeri, saya suka memotret berbagai macam barang, mulai dari buah-buahan, sayuran, hingga ubi dan rempah-rempah. Semuanya diatur dengan baik. Kombinasi warnanya indah.

Di luar negeri, pasar tradisional sudah menjadi tujuan wisata di perkotaan. Disana kita bisa mengenal langsung warga sekitar, membeli produk lokal dengan harga bersaing. Kita mengenal suatu peradaban dengan mengunjungi pasarnya.

Pemerintah menargetkan rampungnya revitalisasi 1.000 pasar rakyat yang menelan biaya Rp2,386 miliar pada tahun ini. Kegiatan ini berlanjut selama kurang lebih lima tahun 5.000 pasar dapat dihidupkan kembali.

Saat peluncuran Program Kebangkitan 5.000 Pasar Rakyat 2015-2019 pada Juni lalu, Jokowi mengatakan, untuk tahun ini pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,075 miliar untuk menghidupkan kembali 675 pasar.

Menurut Presiden, melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP), pemerintah menambah alokasi anggaran senilai Rp1,311 triliun untuk menghidupkan kembali 325 pasar, sehingga untuk mencapai target 1.000 pasar pada tahun ini, total anggaran dihidupkan kembali sebesar Rp2.386. triliun.

Saat ini jumlah pasar rakyat di Indonesia sebanyak 9.559 unit dengan 1.722.071 kios dan 2.639.633 pedagang. Pemerintah menargetkan untuk menghidupkan kembali 5.000 pasar, dengan rincian 1.000 pasar setiap tahunnya hingga tahun 2019.

Saat mendampingi Presiden ke Pasar Manis di Purwokerto, Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong menegaskan, target revitalisasi pasar rakyat tahun 2015 telah tercapai sebanyak 1.002 pasar atau 98,52%.

“Tahun lalu kami targetkan untuk menghidupkan kembali 1.017 pasar rakyat. “Janji Nawacita sudah kita penuhi dengan baik,” kata Menteri Perdagangan Tom Lembong saat menyampaikan pidato di hadapan Presiden Joko Widodo pada peresmian Pasar Manis Purwokerto, Banyumas, Rabu 4 Mei.

Minggu ini, Tom Lembong, Menteri Perdagangan pertunjukan keliling mendampingi Presiden Jokowi dalam peresmian pasar rakyat atau peletakan batu pertama dimulainya pembangunan pasar rakyat baru.

“Peresmian Pasar Manis ini istimewa. Tn. Presiden meletakkan batu pertama pembangunan pasar ini setahun lalu pada 30 Juni 2015. “Saat itu, Presiden mengumumkan dimulainya program pembangunan 5.000 pasar dalam lima tahun sejalan dengan Nawacita,” kata Tom.

Tom Lembong menjelaskan, dalam Rencana Kerja Pemerintah (GWP) Kementerian Perdagangan tahun 2015, target pengembangan pasar sebanyak 1.017 unit, terdiri dari 182 pasar yang dibangun dari dana Tugas Pembantuan (TP) dan 770 pasar dari Dana Alokasi Khusus (SAF). Selain itu, Kementerian Koperasi dan UKM juga menargetkan membangun 65 pasar.

Target tersebut terealisasi di 1.002 pasar, yang dibangun Dana TP Kementerian Perdagangan sebanyak 175 unit, Dana Hibah Khusus (DAK) sebanyak 762 unit, dan bantuan Kementerian Koperasi dan UKM sebanyak 65 unit.

Pada tahun 2016, Kementerian Perdagangan menargetkan membangun 1.000 unit pasar yang terdiri dari 220 pasar melalui dana TP dan 695 pasar melalui DAK. Kementerian Koperasi dan UKM juga menargetkan membangun 85 pasar.

Dalam pelaksanaannya, pengembangan pasar dilakukan dengan dana TP di 168 pasar, dan dari DAK sebanyak 695 pasar di Kabupaten/Kota. Dengan demikian, dari total rencana 1.000 unit pasar, hanya 863 unit pasar yang bisa dialokasikan untuk dibangun. Sementara untuk pemenuhan defisit akan diusulkan ke Menteri Keuangan.

“Dari 168 pasar penerima dana TP, 70 unit sudah selesai proses lelangnya sehingga proses pembangunannya bisa segera dilakukan mengingat DIPA Pengembangan Pasar sudah diterbitkan,” tegas Tom.

Pada peresmian Pasar Manis, Menteri Perdagangan Tom menyampaikan pentingnya pemanfaatan pasar bagi para pedagang dan masyarakat. “Bagi pedagang, kalau pasarnya bersih dan modern, konsumen akan banyak yang datang. “Dengan begitu, transaksi akan meningkat, omzet pedagang meningkat, dan pendapatan meningkat, sehingga perekonomian daerah juga akan terpacu seiring dengan peningkatan produksi,” jelas Mendag.

Pasar, jelas Tom, tidak hanya menjadi tempat berbelanja, tapi juga menjadi tempat pertemuan dan kegiatan sosial. “Dengan pasar yang bersih, masyarakat akan bisa memanfaatkan pasar secara maksimal,” ujarnya.

Mendag Tom menjelaskan, pembangunan/revitalisasi 5.000 pasar (2015-2019) diprioritaskan atau diprioritaskan untuk pasar yang berumur sama atau lebih dari 25 tahun; pasar yang pernah mengalami bencana kebakaran, pasca bencana alam, pasca konflik sosial; pasar di daerah tertinggal, perbatasan dan daerah dengan fasilitas perdagangan yang minim, atau yang mempunyai potensi perdagangan yang besar.

4 Prinsip kebangkitan pasar

Dengan Peraturan Menteri Perdagangan No. 61/M-DAG/PER/8/2015 tentang Pembangunan dan Pengelolaan Sarana Perdagangan, pemerintah telah menetapkan pedoman kebangkitan pasar tradisional yang memperhatikan empat prinsip.

Prinsip Pertamarevitalisasi fisik, yaitu upaya pemulihan dan perbaikan pasar rakyat secara fisik dengan berpedoman pada standar fisik dan desain prototipe.

Kedua, kebangkitan manajemen, yaitu upaya mewujudkan manusia pengelola pasar yang profesional, modern, dan transparan.

ketiga, kebangkitan sosial budaya, yaitu upaya menciptakan lingkungan pasar manusia yang kondusif dan nyaman.

Keempatkebangkitan perekonomian yaitu upaya peningkatan daya saing dan omzet, serta pemeliharaan stok untuk menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok yang dapat memberikan dampak ganda pada sektor produksi.

Keempat pendekatan revitalisasi tersebut dirinci dalam persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI) Pasar Rakyat melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 61/M-DAG/PER/8/2015 dimaksud. Meski SNI ini belum bersifat wajib, namun sebagian besar pasar yang dibangun atau dihidupkan kembali berpedoman pada ketentuan ini.

Sejumlah pasar yang baru diresmikan Presiden Jokowi pekan lalu adalah pasar Amahami di Bima, Nusa Tenggara Barat, dan pasar Doyo Baru di Sentani, Papua. Pekan lalu, juga dilakukan peletakan batu pertama pembangunan pasar budaya Mama-Mama dan Youtefa di Jayapura, Papua.

Saya membeli satu kilogram bunga Turi dari pasar Prawirotaman pagi ini. Penjualnya minta maaf, “niki thai sae, layu.” Tidak bagus, sudah layu. Katanya besok bunga Turi yang lebih segar akan datang.

Tapi saya tetap membelinya karena rindu pecel Kembang Turi. Besok saya akan membelinya lagi untuk dibawa pulang ke Jakarta. Kebaikan seperti ini, seberapa sering Anda menemukannya saat berbelanja di retail modern?

PS Sesekali, saat aku dalam keadaan darurat, hari sudah sore dan aku perlu membeli sesuatu, aku mampir ke toko modern – Rappler.com

Toto HK