• March 20, 2026
Kecemasan sempat terjadi di game pertama

Kecemasan sempat terjadi di game pertama

JAKARTA, Indonesia – Inggris adalah “rumahnya sepak bola”. Demikian kata penulis Sindhunata dalam catatan sepak bolanya yang terkenal.

Namun penampilan mereka di grid tidak menunjukkan bahwa mereka adalah “pemilik sah sepak bola”.

Dari semua nama panggilan partisipasi tim Tiga Singa Di turnamen besar, mereka hanya sekali menjuarai Piala Dunia, yakni pada edisi 1966.

Di Piala Eropa alias Euro bahkan lebih parah lagi. Mereka bahkan tidak pernah mencapai final. Paling-paling, hanya sampai semifinal. Namun dari 14 kali ajang ini digelar, mereka baru dua kali mencapai babak semifinal. Melawan Euro 1968 dan 1996.

Sisanya bergilir antara kekalahan sejak babak penyisihan grup dan perempat final.

Prestasi mereka dalam tiga edisi terakhir turnamen besar juga sama dengan tiga uang. Inggris hanya mampu mencapai babak 16 besar Piala Dunia Afrika Selatan 2010 dan bahkan menjadi juru kunci Grup D Piala Dunia Brasil 2014.

Rekor mereka lebih baik lagi di Euro 2012. Mereka mencapai perempat final sebelum kalah dari Italia melalui adu penalti.

Dengan rentetan nasib buruk yang mereka alami di turnamen-turnamen besar, tak banyak pecinta sepak bola yang mendukung mereka di ajang empat tahunan ini. Mereka bahkan bukan tim yang difavoritkan untuk menang.

Padahal, tahun ini mereka sedang menuai bakat. Terutama di sektor depan dan lini tengah.

Berdiri dalam barisan Lini depan Roy Hodgson termasuk salah satu yang paling berbahaya di Eropa. Mereka memiliki dua striker paling produktif di Liga Premier. Harry Kane adalah pencetak gol terbanyak dengan 25 gol sementara Jamie Vardy hanya tertinggal satu gol.

Belum lagi idola baru penonton Old Trafford, Marcus Rashford, Daniel Sturridge (Liverpool), dan wajah lama Wayne Rooney.

Di lini tengah ada talenta menjanjikan Tottenham Hotspur Dele Alli dan ketua Manchester City Raheem Sterling.

Nama-nama besar ini bukan sekadar macan kertas. Di fase kualifikasi, Inggris mencatatkan hasil sempurna dengan 10 kemenangan. Bahkan mereka menjadi satu-satunya kontestan yang lolos dengan hasil 100 persen.

Tekad itu juga menular di laga uji coba. Dari 7 laga uji coba mereka menang sebanyak 6 kali. Hanya hilang sekali. Maret lalu mereka bahkan mengalahkan Jerman 3-2.

Setelah dikalahkan di Piala Dunia 2014, banyak yang mengira ini adalah titik balik Inggris. Apalagi mereka kini punya kekuatan pemain muda. Rata-rata usia pemain menyamai juara dunia Jerman: 25 tahun.

Oleh karena itu, suka atau tidak, selalu ada harapan bagi tim asal “negeri sepak bola”. Namun harapan tersebut memerlukan bukti: mereka harus tampil meyakinkan saat melakoni laga pertama Grup B melawan Rusia, Minggu 12 Juni pukul 02:00 WIB dini hari.

Masalahnya, Inggris kerap lambat dalam melakukan pemanasan. Pertandingan pertama biasanya berakhir seri. Di Euro 2012 misalnya. Mereka ditahan imbang 1-1 oleh Prancis. Di Piala Dunia 2014, mereka bahkan kalah 1-2 melawan Italia.

Jauh sebelumnya mereka juga kalah 1-2 melawan Prancis di Euro 2004.

Lalu bagaimana dengan Euro 2016?

Catatan kepala ke kepala kedua tim cukup berimbang. Sejak pecahnya Uni Soviet, Inggris baru dua kali bertemu Rusia. Pada kualifikasi Euro 2008, Inggris mengalahkan Rusia 3-0 di Wembley. Namun kemenangan besar tersebut dibalas Rusia dengan mengalahkan mereka 2-1.

Inggris memiliki pengalaman dan skuad yang unggul

Namun secara teknis, Inggris jelas lebih unggul. Tim mereka adalah salah satu yang paling kompetitif di antara tim lainnya. Kecuali adu penalti, tim ini belum pernah kalah satu pun dari 22 pertandingan resmi Eropa sejak November 2007.

Kekuasaan Inggris juga lebih merata. Mereka punya pemain bintang di semua sektor.

Bandingkan dengan Rusia yang sangat bergantung pada Artem Dzyuba. Dari 18 gol mereka di babak kualifikasi, 50 persen di antaranya selalu melibatkan Dzyuba. Rinciannya, 8 gol dan satu membantu.

Selain itu, Rusia akan tertinggal jauh dalam hal pengalaman. Roy Hodgson mendampingi anak asuhnya sejak 2012 atau empat tahun berturut-turut. Ia tak akan malu dengan pentas sepakbola elit seperti Euro.

Berbeda sekali jika dibandingkan dengan pelatih Rusia Leonid Slutsky. Dia turnamen besar Pelatih pertama berusia 45 tahun.

Dengan situasi ini, Rusia nampaknya lebih berpeluang untuk bertahan. Mereka akan menggagalkan penyerang cepat Inggris dan kemudian melancarkan serangan balik.

Inggris hanya perlu menenangkan diri. Tekanan di game pertama selalu tidak mudah. Rooney mengakuinya.

“Saya ingin menikmati pertandingan ini dan saya harap seluruh tim juga demikian. Ada terlalu banyak harapan dan tekanan dan biasanya tidak menghasilkan apa-apa,” katanya dikutip oleh ESPN.

Tapi, katanya, Inggris sudah belajar banyak sekarang. Terlebih lagi, dia pernah menanggung tekanan sendirian di masa lalu. Sebagai pemain utama Manchester United, ia mendapat tekanan untuk menebar kesuksesan serupa di level timnas.

“Semuanya berbeda sekarang. Tim sudah memiliki banyak pemain dengan mental juara. “Beban saya lebih ringan,” ujarnya.

Jika Inggris mampu mengatasi tekanan pada pertandingan pertama, kemenangan mungkin akan segera terjadi. Dan lagu sepak bola akan pulang akan mengudara lagi.—Rappler.com

BACA JUGA:

HK Malam Ini