Kelompok Abu Sayyaf pernah mencoba merekrut sandera WNI
keren989
- 0
Rinaldi menolak tawaran bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf dengan alasan keluarganya di Indonesia menunggu kepulangannya.
MAKASSAR, Indonesia – Salah satu awak kapal tunda Brahma 12 dan kapal Anand 12, Rinaldi, mengaku ditawari Abu Sayyaf untuk bergabung dengan kelompok tersebut saat mereka ditawan di Filipina selatan. Namun Rinaldi dengan halus menolak ajakan tersebut dengan alasan keluarganya sudah menunggu di Indonesia.
Ia mengaku tidak mengetahui alasan kelompok milisi bersenjata itu mengajaknya bergabung. Selama 35 hari ditahan Abu Sayyaf, Rinaldi dan 9 awak kapal lainnya menuruti perkataan para sandera dan berperilaku sopan.
“Saya juga diangkat menjadi imam beberapa kali ketika saya salat. Saat itu perasaan saya campur aduk, kaget dan takut. “Tapi saya pasrah saja sama Tuhan,” kata pria asal Luwu Timur yang ditemui Rappler, Rabu, 4 Mei.
Ia mengaku khawatir jika melakukan kesalahan saat menjadi pendeta, ia akan mendapat hukuman.
Lantas bagaimana perlakuan Abu Sayyaf terhadap Rinaldi dan 9 awak kapal lainnya saat mereka disandera? Dia mengatakan kelompok itu tidak pernah memperlakukan para sandera dengan kasar. Faktanya, Rinaldi dan rekan-rekannya menyantap makanan yang sama dengan yang dimakan para penculik.
“Kami tidak pernah dianiaya. Mata kami juga tidak pernah tertutup. Saat kami di darat, tangan kami tidak diikat atau dibelenggu. Namun mereka sangat tegas, apapun yang dikatakan harus dilakukan, kata Rinaldi.
Sandera yang salah
Rinaldi juga mengatakan kelompok Abu Sayyaf salah sasaran saat membajak kapal Anand 12 dan Brahma 12 yang membawa ribuan ton batu bara ke Filipina Selatan. Saat penyergapan terjadi, dia dan kapten kapal sedang menonton televisi.
Keenam awak kapal tersebut sudah tertidur, sedangkan 2 awak kapal lainnya berada di anjungan kapal tunda milik PT Patria Maritime Lines. Selepas magrib, Rinaldi dan rekan-rekannya dikejutkan dengan kedatangan puluhan orang tak dikenal di atas kapal tersebut. Mereka memakai topeng.
Rinaldi dan 9 awak kapal lainnya kemudian diikat dan diancam agar tidak melawan. Salah satu sandera kemudian bertanya dalam bahasa Inggris di negara mana mereka menjadi warga negara. Ketika diberitahu bahwa mereka berasal dari Indonesia, para sandera terkejut dan tampak sedang berbicara.
Akhirnya mereka diminta bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf. Selama di darat, tangan para sandera dilepaskan meski mengancam tidak akan melakukan perlawanan.
Rinaldi yang beberapa hari disandera Abu Sayyaf mengaku berulang kali berpindah dari satu hutan ke hutan lainnya. Ia kemudian berani berbicara dengan salah satu anak buah kelompok milisi.
“Mereka bilang kami adalah korban salah sasaran. Kami dianggap orang Malaysia. “Dia kembali mengatakan bahwa mereka tidak pernah bermaksud menyandera WNI,” ujarnya.
Abu Sayyaf mengaku sangat menghormati Indonesia dan warganya. Namun karena sudah terlanjur mengepung kapal batu bara tersebut, mereka tetap menyandera 10 awak kapal tersebut.
Hal itu juga dibenarkan ayah awak kapal Klaten lainnya, Sutomo. Ia mendengar bahwa para perompak sebenarnya mengincar kapal milik orang asing berkulit putih. Namun hal tersebut tidak terjadi karena kapal dijaga oleh petugas bersenjata lengkap.
Akhirnya mereka membajak kapal lain, kata ayah awak kapal, Bayu Oktaviyanto, yang ditemui Selasa 3 Mei.
Kompensasi perusahaan
Bayu mengaku masih trauma setelah disandera kelompok Abu Sayyaf selama 35 hari. Namun kejadian tersebut tidak mematahkan semangatnya untuk melaut dan bekerja di PT Patria Maritime Lines.
“Saya benar-benar trauma. Namun, ini bagian dari risiko profesional, kata Bayu.
Ia juga menjelaskan bahwa pihak perusahaan cukup bertanggung jawab terhadap para awak kapal dan akan memberikan santunan atau santunan atas kecelakaan kerja yang dialami 9 awak kapal lainnya. Namun untuk nominalnya, Bayu mengaku belum mengetahuinya.
“Iya ada (kompensasi). “Tapi masih dibicarakan (ukurannya),” ujarnya.
Untuk mengusir sial, Bayu dan keluarganya melakukan ritual menceburkan diri dan membasuh badan di sungai. Ia juga membuang beberapa pakaian yang dikenakannya saat disandera di Filipina selatan.
Kesepuluh awak kapal tersebut akhirnya dibebaskan kelompok Abu Sayyaf pada Minggu, 1 Mei sore. Mereka digiring oleh orang tak dikenal menuju kediaman Gubernur Sulu. Usai diperiksa, 10 awak kapal tersebut diterbangkan ke Indonesia dan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma pada pukul 23.30 WIB. – dengan pelaporan oleh Ari Susanto/Rappler.com
BACA JUGA: