• April 7, 2026

Kemarahan Tiongkok menghadapi putusan Pengadilan Arbitrase Internasional

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Tiongkok bersikeras mempertahankan klaimnya atas Laut Cina Selatan. Ancaman konflik dan pembangunan pangkalan militer datang dari Beijing.

JAKARTA, Indonesia – Tiongkok tidak menganggap enteng keputusan Pengadilan Arbitrase Internasional (PCA) yang menolak klaimnya di Laut Cina Selatan. Kepada negara-negara yang berkepentingan, mereka memperingatkan terhadap konflik.

“Jangan jadikan Laut Cina Selatan sebagai medan pertempuran,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Liu Zhenmin pada Selasa 12 Juli.

Tak hanya secara lisan, ancaman nyata juga mereka lakukan dengan membentengi wilayah pangkalan angkatan udara di salah satu Kepulauan Spratly pada Rabu, 13 Juli.

Liu mengatakan bahwa Tiongkok berhak membangun pangkalan militer di sana, sehingga memberi mereka kendali atas lalu lintas udara.

Konfrontasi

Duta Besar Tiongkok untuk Amerika Serikat, Cui Tiankai, lebih blak-blakan menggambarkan situasi di Laut Cina Selatan. “Yang pasti (keputusan tersebut) akan meningkatkan konflik dan konfrontasi,” ujarnya Selasa pekan lalu di Washington.

Media Partai Komunis yang berkuasa, Harian Rakyatmerilis berita hari ini yang mengatakan Tiongkok siap melakukan segalanya untuk melindungi kepentingannya.

Permasalahan ini bermula ketika Tiongkok mengklaim haknya atas wilayah di Laut Cina Selatan berdasarkan peta sejarah yang terdiri dari 9 garis putus-putus pada tahun 1947. Klaim ini berbenturan dengan wilayah milik Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei Darussalam, dan milik Taiwan.

Bahkan setelah hasil PCA keluar, Tiongkok tetap bersikukuh dengan tuntutan mereka. Bahkan mengancam akan membangun pangkalan militer jika diperlukan.

Keputusan itu bersifat mengikat

Sementara itu, sikap serupa kembali ditunjukkan oleh pemerintah Amerika Serikat yang sejak awal mendukung langkah Filipina untuk membawa kasus ini ke Mahkamah Arbitrase Internasional. Mereka mendukung penegakan hukum, dalam hal ini hasil PCA dirilis pada Selasa 12 Juli.

“Kami mendukung upaya penyelesaian sengketa darat dan maritim di Laut Cina Selatan secara damai, termasuk melalui arbitrase,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS John Kirby dalam keterangan tertulisnya, Selasa lalu.

Sekalipun Tiongkok menolak mengakui keputusan PCA, namun sesuai dengan ketentuan negara-negara penandatangan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), hasil sidang tersebut bersifat final dan mengikat secara hukum baik bagi Filipina maupun Tiongkok. .

“Pemerintah AS berharap kedua belah pihak memenuhi kewajibannya,” ujarnya.

Meski bukan negara yang mengklaim wilayah di kawasan LCS, namun AS mendorong semua pihak untuk menghindari pernyataan atau sikap yang provokatif. Keputusan ini dapat dan harus memberikan peluang untuk memperbarui upaya penyelesaian sengketa maritim secara damai.

Menahan

Filipina, yang baru saja memenangkan gugatannya terhadap Tiongkok, memutuskan untuk tidak merayakannya.

“Dalam isu sensitif seperti ini, Anda tidak boleh membuat pernyataan yang provokatif. “Kami menyerukan kepada semua orang, termasuk Tiongkok, untuk menahan diri,” kata Menteri Luar Negeri Perfecto Yasay Jr.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang baru saja menjabat memang memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengan China. Hubungan kedua negara memburuk akibat konflik Laut Cina Selatan.

Duterte berencana menjadikan Tiongkok sebagai investor dalam proyek infrastruktur seperti kereta api di Filipina bagian selatan. Hingga saat ini pembangunan di daerah tersebut masih terbelakang dan mayoritas penduduknya berada dalam kemiskinan.

Ia menyatakan siap berbicara langsung dengan China dan mencapai kesepakatan bersama mengenai klaim di wilayah konflik. China sendiri sudah lama menyatakan keinginannya untuk melakukan perundingan langsung. -Rappler.com

BACA JUGA:

HK Pool