• April 8, 2026
Kementerian Luar Negeri memastikan 1 WNI di Singapura terjangkit virus Zika

Kementerian Luar Negeri memastikan 1 WNI di Singapura terjangkit virus Zika

JAKARTA, Indonesia (UPDATED) – Pemerintah Indonesia akhirnya memastikan ada satu WNI yang terjangkit virus Zika di Singapura. Berdasarkan informasi Kementerian Kesehatan Singapura, 1 WNI yang terjangkit virus Zika diketahui adalah seorang perempuan.

Namun demi privasi, Kementerian Kesehatan Singapura hanya mengonfirmasi bahwa benar ada 1 warga negara Indonesia yang saat ini terjangkit virus Zika. Informasi lebih lanjut akan disampaikan ke KBRI oleh Kementerian Kesehatan Singapura, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir saat memberikan siaran pers di kantor Kementerian Luar Negeri, Kamis, 1 September.

Arrmanatha mengatakan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kesehatan masih berkoordinasi mengenai rencana penerbitan travel warning ke Singapura. Hal ini dilakukan agar WNI dapat melindungi diri dan tidak tertular virus tersebut.

Sementara itu, menurut keterangan Menteri Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Singapura, Dwi Kurnia Miftach, WNI tersebut sudah tidak dirawat di rumah sakit.

“Yang bersangkutan sudah tidak dirawat di rumah sakit. Namun kondisi kesehatannya masih dipantau. “Saat yang bersangkutan masuk rumah sakit dan keluar, kami tidak diberitahu oleh Kementerian Kesehatan Singapura,” kata pria yang akrab disapa Dwiki itu kepada Rappler melalui pesan singkat.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menyebut perintah tersebut sebagai upaya mencegah penyebaran virus ke Indonesia. Kementerian Kesehatan kemudian memperketat titik masuk baik di bandara maupun pelabuhan, khususnya di Pulau Batam. Pintu pemindai, lanjut Nila, sudah dipasang di bandara-bandara di daerah.

Pihak berwenang di Indonesia telah meminta seluruh penumpang yang mengalami demam untuk memeriksakan darahnya.

“Kami juga meminta agar penumpang mengisi kartu peringatan atau kartu kewaspadaan, supaya kalau nanti positif bisa kita hubungi kembali,” kata Nila.

Wanita berusia 65 tahun itu mengatakan, ciri-ciri orang yang terjangkit virus Zika adalah demam dan ruam yang lebih ringan dibandingkan demam berdarah. Sedangkan demam berdarah terasa sangat menyiksa.

Namun virus Zika telah menjadi epidemi dan ditemukan di 45 negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) PBB bahkan telah mengeluarkan peringatan kesehatan masyarakat internasional.

“Jadi kita harus bangun,” kata Nila.

Saran perjalanan

Langkah lain yang dilakukan Kementerian Kesehatan adalah melalui travel Advisory atau peringatan perjalanan untuk menunda sementara perjalanan ke Negeri Singa.

“Iya, (travel warning) sudah dikeluarkan mulai hari ini. Artinya kita yang mau jalan-jalan (ke Singapura) bisa memikirkannya. Jika memang sangat mendesak, apa yang dapat Anda lakukan? Tapi kalaupun bisa ditunda kenapa tidak,” ujarnya.

Nila berpesan agar ibu hamil mempertimbangkannya dengan serius peringatan perjalanan itu.

Nila beralasan, karena penyebaran virus Zika semakin meningkat, maka diperlukan upaya perlindungan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura hingga Rabu lalu, total ada 115 orang yang terjangkit virus tersebut. Sebagian besar kasus terjadi di pinggiran kota Aljunied.

Orang-orang yang terinfeksi virus ini adalah pekerja asing yang bekerja di proyek apartemen di lingkungan tersebut.

Sementara itu, merebaknya virus Zika tidak berdampak pada masyarakat sipil Indonesia, yang sebagian besar tinggal di Lionland. Minister Counsellor Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Singapura, Dwi Kurnia Miftach mengatakan, aktivitas WNI di Negeri Singa tetap normal, namun tetap waspada.

Apalagi di seluruh Singapura, setiap bangunan yang sedang dikerjakan selalu dipasang spanduk besar yang menandakan tempat tersebut bebas demam berdarah, kata pria yang akrab disapa Dwiky itu melalui pesan singkat kepada Rappler, Selasa malam.

Beberapa negara seperti Australia, Taiwan, Korea Selatan dan Amerika Serikat mengeluarkan peringatan sehingga wanita yang sedang hamil atau mencoba memiliki anak untuk sementara waktu menghindari bepergian ke Singapura.

Sebab hal ini dapat menyebabkan risiko bayi terlahir dengan mikrosefali, dimana bayi akan lahir dengan ukuran kepala kecil. Selain itu, otaknya belum terbentuk sempurna.

Virus Zika pertama kali terdeteksi di Singapura dari seorang wanita asal Malaysia yang tinggal di kawasan Aljunied Crescent. Berdasarkan catatan perjalanannya, perempuan berusia 47 tahun itu belum pernah mengunjungi negara yang sedang mewabahnya virus Zika.

Menyebar ke Malaysia

Setelah merebak di Singapura, virus Zika kini telah ditemukan di Malaysia. Seorang wanita berusia 58 tahun diduga tertular virus tersebut.

Wanita tersebut diketahui melakukan perjalanan singkat pada akhir bulan lalu untuk mengunjungi putrinya yang tinggal di Singapura. Setelah tiba kembali di Kuala Lumpur, wanita tersebut merasa sakit dan didiagnosis berdasarkan tes urine. Akibatnya, dia diduga mengidap virus Zika. Kepastian 100 persen baru bisa didapat setelah hasil tes darah keluar.

Sumber penyebarannya diketahui berada di Singapura, kata Kementerian Kesehatan Malaysia dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, 5 warga Malaysia yang tinggal dan bekerja di sana juga diketahui terjangkit virus Zika. Untuk itu, Kementerian Kesehatan terus memantau secara ketat titik-titik masuk di kawasan perbatasan. Mereka juga mempromosikan tindakan pencegahan terhadap nyamuk seperti pengasapan.

Sudah lama ada di Indonesia

Wakil Direktur Lembaga Eijkman Herawati Sudoyo mengatakan, virus Zika sebenarnya sudah ada di Indonesia selama 40 tahun. Namun penyakit ini tidak pernah menjadi epidemi.

“Jadi, kita hidup damai dengan virus ini. Pria terjangkit virus Zika yang kami temukan di Jambi tahun lalu tidak pernah bepergian ke luar Indonesia. “Jadi virusnya memang ada, di wilayah Jambi dan Sumatera,” kata Herawati saat diwawancara Rappler pada Februari lalu.

Munculnya virus Zika bermula saat Herawati dan timnya sedang melakukan penelitian saat terjadi wabah demam berdarah. Dari 400 pasien yang memiliki gejala klinis DBD, mereka mendapatkan sampel sebanyak 200 pasien untuk diteliti.

Dari 103 sampel DBD yang negatif, kami menemukan satu yang positif Zika. Dia tidak pernah bepergian. Jadi virus itu memang ada di Jambi.

“Ini kasus pertama yang melibatkan warga Indonesia. “Kami laporkan ke Menteri Kesehatan dan mendapat izin untuk dipublikasikan di jurnal internasional,” ujarnya. – dengan laporan AFP, Santi Dewi/Rappler.com

BACA JUGA:

Pengeluaran Hongkong