• March 22, 2026
Ketika komunikasi negatif Ahok bertemu dengan jurnalisme yang menjengkelkan

Ketika komunikasi negatif Ahok bertemu dengan jurnalisme yang menjengkelkan

Tak bisa dipungkiri, keributan akan terjadi antara Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dengan jurnalis. Ini bukan pertama kalinya Ahok menjawab pertanyaan jurnalis lokal dan asing dengan nada tinggi.

Terakhir, Ahok marah kepada jurnalis Arah.com hingga melarangnya memberitakan di Balai Kota Jakarta.

Mari kita kembali melacak kejadian tersebut. Pada Kamis, 16 Juni, sejumlah jurnalis dikabarkan bertanya kepada Ahok soal rumor aliran dana senilai Rp 30 miliar dari pengembang daur ulang ke teman-teman Ahok.

Ahok membela diri. Dia mengatakan bahwa seseorang ingin menghancurkan citranya. Ia kemudian mengatakan, dirinya telah bebas dari korupsi sejak menjabat sebagai Bupati Belitung Timur pada tahun 2005.

“Kamu belum pernah mendengar tentang pejabat di kelasku mengatakan konsisten dari (menjabat di) DPRD, sampai bupati, sampai DPR RI, sampai sekarang?” kata Ahok.

Reporter Arah.com kemudian bertanya, “Apakah ini berarti tidak ada pejabat sehebat Anda?”

Pertanyaan ini membuat Ahok berang. Kemarahan Ahok terhadap jurnalis Arah.com itu pun meluas hingga menyebut media lain. Alhasil, wartawan Balai Kota meresponsnya dengan memboikot acara buka puasa bersama Gubernur tersebut.

Sebagaimana lazimnya negara dengan budaya kolektivis seperti Indonesia, konflik yang benar-benar bersifat interpersonal menjadi konflik kelompok. Van Ahok vs Jurnalis Arah.com Konflik meluas dan melibatkan pendukung Ahok dan sekelompok jurnalis, termasuk organisasi jurnalis, yang merasa Ahok telah menghina profesinya.

Wartawan Arah.com bertanya, “Apakah ini berarti tidak ada pejabat sehebat Anda?”

Dan seperti biasa, kehebohan mewarnai lini masa di media sosial. Jika jurnalis punya senjata media, ditambah organisasi jurnalistik yang membelanya, pendukung Ahok menggunakan cara lain: status di Facebook, tweet di Twitter, bahkan menulis artikel di blog dan (seperti apa) media, mengkritik jurnalis dan medianya.

Antusiasme setia para sahabat dalam membela teman yang dirasa teraniaya seringkali membuat orang tidak menilai keadaan secara objektif. Banyak pendukung Ahok yang membela “Bapak”, namun sering lupa bahwa yang dibela juga adalah orang-orang yang punya kelemahan.

Jurnalis dan berbagai asosiasinya juga kerap membela sesama jurnalis tanpa melihat konteks kejadiannya. Jika dilihat secara adil, keduanya memainkan peran negatif dalam konflik tersebut.

Jurnalisme berbasis data vs jurnalisme berbasis pembicaraan

Tekanan tenggat waktu terhadap jurnalis seringkali berarti jurnalis tidak mempunyai waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya (PR): penelitian. Faktanya, ini adalah cara yang ampuh untuk membuat mereka mengembangkan pertanyaan-pertanyaan secara strategis yang tujuan utamanya adalah untuk mencerahkan masyarakat, bukan menyesatkan mereka.

Pencerahan dapat diterjemahkan sebagai memberikan informasi baru yang membuat mereka tahu bagaimana harus bertindak, bukan memberi mereka berita-berita inspiratif.

Di dalam Unsur Jurnalisme, tulis Bill Kovach dan Tom Rosentiel, prinsip jurnalisme adalah memberikan informasi berkualitas yang dibutuhkan masyarakat untuk membuat keputusan yang lebih baik tentang kehidupan mereka. Uniknya, ada penekanan bahwa keputusan harus diambil oleh masyarakat sendiri, bukan diarahkan oleh pembuat informasi.

Jika seorang jurnalis melakukan penelitian pekerjaan rumahnya dengan benar, dia tidak akan langsung membenarkan apa yang dikatakan orang, “Pak, orang ini bilang… Itu tidak benar, bukan?”

Padahal, ketika dihadapkan pada sebuah rumor, tugas jurnalis adalah mencari tahu dulu kebenaran rumor tersebut dengan mencari datanya. Jika dia mempunyai data yang valid, maka data tersebut hanya bisa dibawa ke sumbernya untuk diklarifikasi.

Namun di sisi lain, Ahok juga punya andil dalam konflik ini. Seperti diketahui, komunikasi publik Ahok kerap buruk dalam pemilihan kata dan cara menyampaikan pesan.

Cara yang dilakukan Ahok sering disebut sebagai gayanya, namun sebagai pejabat publik hendaknya ia mengatur komunikasi publiknya dengan baik. Jika sulit untuk berbicara tanpa menjadi emosional, mungkin pilihan terbaik adalah memiliki juru bicara yang ahli dalam berkomunikasi dengan jurnalis.

Saling mengandalkan, jangan terbawa suasana

Pengalaman dimaki Ahok saat bertanya juga dialami Step Vaessen, jurnalis Al-Jazeera English.

Vaessen disemprot Ahok saat ditanya alasan izin pameran Proses dan Mesin Tembakau Dunia, padahal acara tersebut tidak disetujui di banyak negara sehingga digelar di Indonesia. Ahok tak hanya membalas, tapi juga mengejeknya seperti “agen farmasi asing“.

Ya, Vaessen memang bersuara di Twitter, namun tidak terjadi boikot atau konflik yang meluas. Mengapa? Vaessen yang berasal dari Belanda ini tidak berasal dari budaya kolektivis dan terlebih lagi ia tidak “seksi”. Ini buktinya:

Joseph Turow, seorang profesor komunikasi di Pennsylvania, menggunakan Teori Ketergantungan Sumber Daya untuk melihat ketergantungan antara jurnalis dan narasumber. Intinya narasumber dan jurnalis sama-sama saling membutuhkan dalam bekerja.

Narasumber akan melakukan berbagai upaya untuk menjaga akses yang baik kepada masyarakat, untuk menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi dirinya. Berbagai cara juga dilakukan jurnalis untuk mendapatkan akses yang baik terhadap sumber sehingga bisa memperoleh bahan berita.

Dalam hubungan saling ketergantungan seperti ini, tidak perlu menganalisis siapa yang paling penting dalam hubungan tersebut. Merasa dibutuhkan seringkali membuat orang menjadi sombong. Yang baik adalah menjaga hubungan baik agar terjalin simbiosis mutualisme.

Nah, jika Anda sadar bahwa Anda berdua membutuhkannya dalam hubungan, dalam istilah remaja masa kini, “bisa saja emosi, tapi tidak harus dalam taraf ketuhanan.” Apalagi jika konflik emosional ini kemudian menyeret kelompok lain ke dalamnya. Baik narasumber maupun media harus melakukan otokritik agar dapat terus menjalankan misinya dengan baik. —Rappler.com

Camelia Pasandaran adalah mantan jurnalis Jakarta Globe dan Rappler. Saat ini beliau bekerja sebagai dosen komunikasi dan jurnalisme di Universitas Multimedia Nusantara.