• March 4, 2026

Ketika perempuan mengekspresikan haknya

Hak-hak perempuan adalah hak asasi manusia. Hancurkan patriarki hingga ke akar-akarnya.

JAKARTA, Indonesia — Ratusan ribu orang memadati Washington DC pada Sabtu, 21 Januari 2017. Bukan, mereka hadir bukan untuk menghadiri pelantikan Presiden AS ke-45, Donald J. Trump, yang sebenarnya berlangsung sehari sebelumnya.

Mereka berada di sana untuk memprotes. “Kepada para pemberontak, atas perlawanan kami sebagai perempuan melawan era baru tirani. Dimana bukan hanya perempuan saja yang berisiko, tapi semua orang yang terpinggirkan,” ujar bintang pop Madonna yang juga turut menyaksikan aksi besar-besaran tersebut.

Ia hanyalah salah satu dari segelintir nama besar yang menyuarakan protes dan aspirasinya. Juga hanyalah salah satu dari banyak wanita pemberontak, dengan topi kucing rajutan berwarna merah muda, dan spanduk yang menantang.

Meski ide awalnya menentang pelantikan Trump yang dikenal sebagai pelaku pelecehan seksual, perjuangan para perempuan ini lebih dari itu. Mereka memperjuangkan hak kesehatan yang dibicarakan saat kabinet Trump berkuasa. Juga keamanan bagi kelompok LGBTQ, imigran atau orang kulit berwarna yang menerima ancaman verbal selama kampanye Trump.

WANITA MARET JAKARTA.  Aktivis perempuan menuliskan aspirasinya di trotoar dalam rangka 'Women's March Global' pada Minggu 22 Januari 2017 di Taman Semanggi.  Foto Hollaback!  Jakarta

Pada awalnya tampaknya bersifat domestik, beberapa orang Amerika menolak presiden baru tersebut. Namun aksi ini justru meluas. Tidak hanya di negara Amerika lainnya, tapi menyebar ke Eropa, hingga Indonesia.

Lawan Pelecehan!

Angie Kilne, penggagas Women’s March di Jakarta, mengungkapkan alasannya mengikuti aksi tersebut meski tidak terkena dampak langsung dari tindakan Trump. “Tunjukkan solidaritas, dan diskusikan mengapa Women’s March Global penting bagi kami. “Setiap orang punya alasan yang berbeda-beda, satu benang merah tentang mengapa mereka memperjuangkan hak-hak perempuan, dan lainnya,” ujarnya kepada Rappler, Senin, 23 Januari 2017.

Angie bersama 25 orang lainnya berkumpul di Taman Semanggi pada Minggu 22 Januari 2017 dalam rangka Motor Vehicle Day (CFD). Senada dengan pengunjuk rasa di Amerika, para peserta membawa spanduk dan juga menuliskan aspirasinya dengan kapur warna-warni di balok-balok tersebut.

WANITA MARET JAKARTA.  Foto oleh Hollaback!  Jakarta

Slogan ‘melawan pelecehan’ mungkin yang paling banyak ditulis. Bagaimana tidak, survei Lentera Sintas Indonesia pada Juli 2016 menuliskan 46,7 persen dari hampir 13 ribu responden perempuan pernah mengalami kekerasan seksual.

Tak hanya di tempat tertutup, ruang terbuka seperti jalan dan fasilitas umum juga rawan pelecehan. Perilaku tidak senonoh seperti bersiul, menatap tidak menyenangkan, atau catcalling hampir dialami oleh setiap wanita. Data survei menunjukkan, dari 25.123 responden, 58 persen mengalami pelecehan verbal.

Bagi laki-laki, terutama yang dibesarkan dalam budaya patriarki yang kuat, perilaku ini mungkin tidak menjadi masalah. Memanggil perempuan di jalan identik dengan kejantanan dan ajang untuk memamerkan kesejukan, meski sebenarnya cheesy.

Bagi wanita, panggilan dan sapaan yang tidak diinginkan ini justru mengganggu. Karena dianggap benda yang dapat diperlakukan atau diberi nama sesuka hati; dinilai secara fisik; hingga ruang pribadinya terganggu.

BERSATU UNTUK KEADILAN GENDER.  Foto oleh Hollaback!  Jakarta

Angie juga memulai sebuah situs web bernama Hollaback! Jakarta tidak asing dengan cerita pelecehan seksual di jalanan. “Fokus kami adalah mengakhiri pelecehan seksual di tempat umum dan ruang bersama—ini adalah masalah tidak hanya di Jakarta, tapi juga di seluruh dunia,” ujarnya.

Pelecehan jalanan merupakan bagian dari kekerasan seksual berbasis gender dan merupakan masalah yang perlu segera diselesaikan. Selain itu, masih ada pemerkosaan, perkawinan anak, perdagangan manusia, kesetaraan upah, hak kesehatan reproduksi, pendidikan, dan sebagainya.

SALING MENGHORMATI.  Foto oleh Hollaback!  Jakarta

Perempuan dan laki-laki adalah manusia, mempunyai hak yang sama dalam segala hal. Kalaupun ada yang menganggap seseorang lebih istimewa dari yang lain, itu sebenarnya hanya konstruksi sosial.

Mengutip spanduk yang dibawa ratusan ribu perempuan pada Sabtu lalu, mari kita sepakat bahwa “hak perempuan adalah hak asasi manusia.” Hancurkan patriarki hingga ke akar-akarnya.—Rappler.com

uni togel