• March 4, 2026
Kisah 100 hari Kina Grannis terjebak di Indonesia

Kisah 100 hari Kina Grannis terjebak di Indonesia

Promotor konser Kina Grannis di Jakarta menipunya dengan tidak mengurus visa kerja sesuai aturan yang berlaku. Kina Grannis terpaksa membatalkan konser di negara lain.

JAKARTA, Indonesia – Penyanyi populer YouTube Kina Grannis buka suara setelah terjebak di Jakarta selama hampir 100 hari. Rupanya, visa yang ia gunakan saat melakukan konser kecil-kecilan bermasalah.

Kedatangan Grannis dan rombongan ke Jakarta dimulai pada 14 September 2015. Saat itu, mereka sedang berkeliling Asia Tenggara, salah satu negara yang singgah di sana adalah Indonesia.

“Konsernya luar biasa. Saya bertemu banyak orang baik di sesi tersebut bertemu dan menyapa kemudian. Saya merasa sangat baik,” ujarnya kemudian situs web resmi. Namun kebahagiaan itu sirna ketika petugas imigrasi naik ke panggung dan mengambil paspornya.

Kina dan teman-temannya diantar kembali ke hotel tanpa penjelasan sepatah kata pun.

Masalah visa

Ketika mereka kembali ke hotel, Grannis dan teman-temannya tidak bisa tidur sedikit pun. Mereka memikirkan masalah apa yang sebenarnya terjadi. Perwakilan dari promotor mengatakan bahwa masalah ini akan segera berakhir.

“Mereka bilang kami bisa meninggalkan Indonesia dan terbang ke pemberhentian berikutnya di Taiwan pada malam berikutnya. “Tapi kami masih di Jakarta, begitu juga malam-malam berikutnya,” ujarnya.

Setelah menunggu berhari-hari, rombongan akhirnya dibawa ke kantor imigrasi untuk diwawancarai satu per satu. Di sana, Grannis mengetahui bahwa promotor mereka sebenarnya belum memperoleh visa kerja yang diperlukan.

Sehingga konser tersebut bisa dikategorikan sebagai penipuan visa yang dilakukan Grannis dan kawan-kawan. “Di mana saya diberitahu bisa dikenakan denda US$35 ribu per orang dan 5 tahun penjara,” ujarnya.

Upaya Grannis menjelaskan kesalahpahaman, bahwa visa adalah tanggung jawab promotor dan kelompok musisi sama sekali tidak mengurusnya, juga tidak membuahkan hasil. Petugas berdalih jika nama Grannis dan teman-temannya muncul di dokumen, maka merekalah yang bertanggung jawab.

“Mereka menyimpan paspor kami dan memulai penyelidikan kriminal,” katanya.

Serangkaian pembatalan konser

Grannis terpaksa membatalkan konser di tempat lain karena penundaan. Awalnya pihak promotor berjanji bahwa masalah ini akan diselesaikan secepatnya dan ia bisa menggelar konser di tempat lain.

Namun janji tersebut ternyata bohong, karena berhari-hari Grannis tidak yakin kapan akan meninggalkan Indonesia. Melalui akun media sosialnya, ia satu per satu mengumumkan pembatalan konser.

“Saya selalu berharap setiap pembatalan ada akhir, tapi pada akhirnya keseluruhan tur ini tidak terjadi,” ujarnya.

Ia sempat depresi, apalagi saat mengetahui ada penggemar yang rela datang jauh-jauh dari Australia dan Jepang untuk menghadiri berbagai lokasi konser. Mereka frustrasi. Begitu juga Nenek. Dia tidak tahu bagaimana menyampaikan kebingungan dan pembatalan yang tiba-tiba dan tidak jelas ini.

Situasi yang aneh

Grannis dan pengiringnya meminta bantuan semua pihak. Pertama mereka pergi ke kedutaan Amerika. Kemudian menyewa seorang pengacara. Tapi tidak ada yang bisa membantu mereka.

“Mereka bahkan mengatakan situasi ini tidak masuk akal. “Kenapa tidak dideportasi saja,” ucapnya.

Setiap pertemuan dengan pengacara mereka juga tidak membuahkan hasil. Tak ada perkembangan signifikan kecuali mereka akan segera diadili.

Untuk menghibur diri, Grannis dan kelompoknya melakukan banyak aktivitas dan saling menguatkan. Mereka berenang, bermain basket, dan mengobrol. Keadaan semakin parah ketika Grannis tidak bisa menyanyi di pesta pernikahan sepupunya, dan tidak bisa berada di samping adiknya yang mengalami kecelakaan.

Keputusan pengadilan

Seminggu sebelum Natal mereka mengadakan sidang pertama di pengadilan. Grannis dan teman-temannya menceritakan keadaan sebenarnya di hadapan ketiga hakim.

Sidang ditunda dan dilanjutkan hingga hari kedua, dimana pengadilan menghadirkan saksi-saksi. Saat itu, Grannis diminta membacakan permohonan maaf.

“Saya bilang kami tidak punya niat buruk, kami tidak tahu apa-apa. Kami tidak bermaksud melecehkan pemerintah atau bahkan negara ini,” ujarnya.

Mereka hanya ingin pulang dan menghabiskan waktu bersama keluarga di Hari Natal. Grannis berusaha menahan air matanya saat menceritakan semuanya.

Namun, kenyataan berkata lain. Pengadilan memutuskan lima orang ini bersalah. Mereka harus menjalani masa percobaan selama 8 bulan dan membayar denda.

Untuk sesaat, Grannis merasa hidupnya akan hancur. Namun, penerjemah mengatakan masa percobaan akan dilakukan dari rumah mereka di Amerika. Deklarasi ini diakhiri dengan pukulan palu.

“Saat itu saya merasa kesedihan, ketakutan, dan ketidakpastian di dada saya selama 3 bulan akhirnya hilang,” ujarnya. Selepas meninggalkan pengadilan, mereka langsung menelepon pihak keluarga untuk menyampaikan kabar bahagia tersebut.

Grannis kemudian mengingatkan setiap artis yang melakukan tur keliling dunia untuk memeriksa visanya beberapa kali sebelum memulai penampilannya di atas panggung.Rappler.com

BACA JUGA:

Toto HK