
Kisah Dewi Lestari merayakan 15 tahun Supernova
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Dewi Lestari mengatakan Supernova lahir dari refleksinya terhadap konflik agama di Indonesia yang terjadi pada tahun 1998.
GIANYAR, Indonesia – “Pada tahun 1998, Indonesia diguncang konflik agama yang tajam dan dampaknya sangat merusak dan terjadi di beberapa daerah. Masa transisi yang hebat bagi negara kita.” Demikianlah kisah penulis Dewi “Dee” Lestari ketika menulis beberapa cerita tentang pengalamannya menulis novel Supernova.
Berbicara pada acara Dialog Sastra #53 ‘Merayakan 15 Tahun Supernova’ pada Jumat, 28 Oktober di Bentara Budaya, Bali, Dee mengenang saat pertama kali menulis novel yang penjualan terbaik di toko buku terkemuka.
“Supernova sudah menjadi cerita klasik bagi saya. “Kami merayakan 15 tahun seri ini,” kata Dee.
Di hadapan ratusan pengunjung, Dee menyampaikan bahwa Supernova merupakan karya yang lahir dari refleksinya terhadap konflik agama di Indonesia. Konflik agama, kata dia, sangat mengganggu pikirannya saat itu.
Menurutnya, jika menyangkut agama atau konsep ketuhanan, perilaku manusia bisa menjadi sangat kontradiktif.
“Masyarakat melakukan hal-hal yang jauh dari agama dan Tuhan. “Sadisisme yang tak terduga bisa muncul,” kata perempuan berusia 40 tahun itu.
Kegelisahan Dee kemudian berubah menjadi pencarian spiritual. Ia kemudian mulai mengumpulkan buku-buku tentang agama dan berbagai kepercayaan. Dari pencarian tersebut tumbuhlah dalam dirinya keinginan untuk berbagi ilmu. Namun Dee mengaku bingung bagaimana menyampaikannya karena saat itu usianya masih 23 tahun.
“Siapa yang mau mendengar seseorang berbicara tentang spiritualitas di usia segitu,” ujarnya lagi.
Dari situlah ia kemudian tertarik untuk mengemasnya menjadi fiksi. Dee menjelaskan, fiksi menjadi pilihannya karena sudah menjadi favoritnya sejak ia berusia 9 tahun.
“Saya membayangkan buku saya dijual di toko buku,” ujarnya.
Menurut Dee, Supernova selalu memiliki ciri bercampurnya minat terhadap suatu subjek pada waktu tertentu. Menulis seri Supernova pertama “Putri, Ksatria, dan Bintang Jatuh” merupakan bukti ketertarikan Dee pada sains. Meski begitu, ia menegaskan latar belakang pendidikannya semasa kuliah tidak berkaitan dengan sains.
Dee merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan hubungan internasional Universitas Parahyangan. Namun menurutnya, ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang baru baginya sehingga terkesan segar. Ia menjelaskan bahwa sains berkaitan dengan kesadaran. Di sisi lain, sains dan spiritualitas tidak perlu bertentangan.
“Itu adalah warna Supernova pertama. “Berawal dari motivasi saya menulis buku pada tahun 2001, untuk mewujudkan impian seorang anak berusia 9 tahun,” ujarnya.
Bagi Dee, ketika menulis, dia tidak pernah berasumsi bahwa sebuah ide sudah sampai sepenuhnya. Begitu pula cerita yang muncul, ibarat kepingan puzzle.
“Saya membiarkan ide itu muncul di kepala saya. “Cara menguji sebuah ide adalah dengan mencoba menuliskannya, maka akan terlihat wajah aslinya,” kata Dee.
Sementara dari segi penelitian, Dee mengaku belum pernah mengunjungi semua tempat yang ia tulis di Supernova. Dia mengumpulkan informasi dari orang lain yang bercerita.
“Saya tidak tahu metodenya yang mana, yang saya tentukan adalah nuansanya,” ucapnya. – Rappler.com