• April 4, 2025

Kisah Izzan, anak berkebutuhan khusus yang dipindahkan ke ITB

BANDUNG, Indonesia – Nama Musa Izzanardi Wijanarko mendadak menjadi headline di berbagai media massa. Publik dibuat takjub dengan prestasi bocah berusia 14 tahun ini

Bagaimana tidak, di usianya yang masih belia, Izzan, begitu ia biasa disapa, berhasil lolos seleksi masuk perguruan tinggi terkemuka, Institut Teknologi Bandung (ITB). Tak gentar, ia diterima di fakultas yang sulit, yakni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Menambah keterkejutannya, prestasi tersebut diraih dengan kondisinya sebagai anak berkebutuhan khusus. Berbagai diagnosis diterima Izzan dari psikolog yang merawatnya, mulai dari hiperaktif, sindrom asperger, gangguan spektrum autisme, gangguan integrasi sensorik, dan gangguan mobilitas.

Namun dalam hal kecerdasan, Izzan mengungguli rekan-rekannya. Skor IQ Izzan berdasarkan skala Wechsler mencapai 142 yang artinya jauh lebih baik.

Namun kecerdasan otaknya tidak sejalan dengan perkembangan sosial emosionalnya. Alhasil, Izzan kemudian didiagnosis mengidap Gifted Synchrony atau sebutan untuk anak yang memiliki kecerdasan luar biasa namun memiliki hambatan perkembangan akibat keganjilan dalam dirinya.

“Waktu Izzan umur 7 tahun 3 bulan, nilai logika, analisis, abstrak, kecerdasannya seperti umur 16 tahun, tapi kematangan sosial emosionalnya masih 4-5 tahun,” kata Yanti Herawati, ibunda Izzan saat ia tinggal di kediamannya. di Jalan Tugu Laksana, Lembang Kabupaten Bandung Barat, Selasa 20 Juni.

Karena masalah ini, Izzan berjuang untuk mengikuti pendidikan formal. Kondisi tersebut membuat Yanti dan suaminya, Mursid Wijanarko memutuskan untuk memberikan home education kepada Izzan.

Yanti yang berperan sebagai guru bagi anak keduanya. Ia menerapkan metode pengajaran yang disesuaikan dengan kondisi Izzan.

“Meskipun masih uji coba Dan kesalahan Ya. Cobalah, itu benar TIDAKItu salah TIDAK. Rasanya banyak trial and error, ujarnya.

Dari seluruh mata pelajaran yang diberikan, Izzan menunjukkan ketertarikannya pada matematika dan fisika. Proses belajarnya sangat cepat sehingga menurut Yanti, Izzan membutuhkan tantangan pendidikan tinggi yang sesuai dengan minatnya.

Yanti dan Mursid mulai berencana menyekolahkan Izzan ke perguruan tinggi. Almamaternya, ITB, menjadi salah satu tujuan mereka. Selain itu, di kampus Ganesha juga terdapat jurusan yang diminati Izzan.

“Saya konsultasi dengan dosen ITB saat usianya 6 tahun, 8 bulan, dan 7,5 tahun, mereka sendiri bilang cocok untuk Izzan, setelah melihat makalah Izzan,” ujar alumnus Planologi 89 ITB ini.

Ditolak berkali-kali

Izzan kemudian disarankan untuk mengikuti jalur penerimaan mahasiswa ITB secara rutin. Yanti awalnya bercita-cita bisa mendaftarkan Izzan ke ITB pada usia 9 hingga 12 tahun.

Namun kendala tersebut bukan datang dari Izzan sendiri, melainkan dari tata cara kelulusan pendidikan dasar dan menengah yang ia jalani melalui program paket A, B, dan C.

“Tapi ada baiknya, sejak kita mulai berusaha untuk setara dengan SD, lingkungan sangat sulit memahami bahwa anak ini membutuhkan pendidikan yang tidak biasa bagi anak seusianya,” kata Yanti.

Berusaha meraih ijazah SD, nama Izzan berulang kali ditolak mengikuti tes Paket A. Pasalnya, usia Izzan saat mendaftar disebut masih kurang karena usianya baru 7 tahun. Dia harus menunggu sampai dia berusia 9 tahun.

Setelah mendapat ijazah SD, Izzan mencoba mendaftar Paket B, yaitu tes kesetaraan SMP. Namun di Bandung, nama Izzan beberapa kali dicoret.

Terakhir, Izzan terdaftar di Tangsel. Ia memperoleh ijazah SMP saat Izzan berusia 10 tahun.

Setahun kemudian, Izzan mendaftar ujian kesetaraan SMA di Tangsel, namun ditolak. Lalu ke Salatiga ditolak.

“Izzan sedih sekali. Apa yang dia lakukan salah sampai dia punya kesempatan TIDAK Bisa. Kita suka baca orang yang curang pakai kunci jawaban saat VN. Nah, dia (Izzan) malah bilang, siapa yang menyontek boleh ikut ujian. apa yang saya lakukan salah saya hanya ingin belajar TIDAK menggunakan cheat, TIDAK gunakan kuncinya, tetapi ikuti saja ujiannya TIDAK baiklah,” kata Yanti menirukan keluh kesah anaknya.

Yanti sebenarnya memahami alasan penolakan Dinas Pendidikan yang khawatir akan terjadi tindakan kekerasan atau pemaksaan terhadap anak untuk mengikuti pendidikan yang tidak sesuai usianya. Namun Yanti mencoba menjelaskan bahwa itu adalah keinginan Izzan. Masih belum ada hasil.

Perebutan ijazah SMA dilancarkan untuk menghadapi Wali Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar. Tapi tetap tidak ada hasil.

“Kami sebenarnya hanya meminta kesempatan. TIDAK Aneka ragam. Jika kesempatan diberikan dan dia TIDAK rela, ya sudah. Dia (Izzan) juga membenarkan,” kata ibu tiga anak ini.

Setelah berkali-kali ditolak pada tahun 2012 dan 2015, Izzan kembali mengajukan permohonan uji kesetaraan Paket C pada tahun 2016. Kali ini tidak ada alasan bagi Dinas Pendidikan untuk menolaknya.

Akhirnya ijazah kelulusan SMA berhasil dikantongi. Sayangnya Izzan tidak berhasil masuk ITB pada tahun itu.

Pada 2017, Izzan melamar ke perguruan tinggi, tidak hanya ITB, tetapi juga Universitas Padjadjaran dan Universitas Indonesia. Izzan berhasil diterima di dua dari tiga universitas yaitu Fakultas MIPA ITB dan Teknik Elektro UI.

“Saya pilih ITB, dari sini (rumah) TIDAK terlalu jauh, karena saya ingin berada di sana sejak saya masih kecil. Jika UI hanya dicadangkan sebagai TIDAK diterima di ITB,” katanya.

Pantas saja Izzan memilih ITB. Selain ibu dan ayah adiknya, Nadira Nanda juga bersekolah di kampus. Ayahnya, Mursid, adalah alumnus Teknik Industri 89 dan kakaknya kuliah di Teknik Geologi.

Anda mengidolakan Isaac Newton

Saat bertemu Izzan, sekilas tak ada yang istimewa dari remaja berusia 14 tahun itu. Izzan berkacamata terlihat seperti remaja seusianya.

Percakapannya ringan, polos, dan terkadang nakal. Beberapa kali ia terdengar bercanda dengan kakak laki-lakinya, Nanda.

Namun, di balik penampilannya yang biasa saja, Izzan adalah sosok yang jenius. Kecerdasannya jauh di atas rata-rata.

Pada usia 6 tahun, dia sudah bisa mengerjakan materi matematika untuk anak usia 15 tahun. Bahkan menemukan sendiri rumus matematika dari hasil pengamatannya.

Berbagai buku ia baca, mulai dari novel hingga buku fisika setebal 740 halaman yang ditujukan untuk pelajar. Idolanya adalah Isaac Newton yang ia kagumi berkat membaca biografi ilmuwan penemu Hukum Gravitasi. Izzan pun berharap suatu saat bisa menjadi ilmuwan.

“Tentu saja seorang ilmuwan. Hanya TIDAK maklum (ilmuwan) matematika atau fisika masih bingung,” kata remaja kelahiran 24 Oktober 2002 itu.

Berhasil masuk ITB dengan jurusan yang diminatinya ibarat menjawab cita-citanya menjadi ilmuwan. Izzan mengaku sangat senang saat dinyatakan lolos ke universitas favoritnya di Kota Bandung. Senang sekali, Izzan merasa bangga dengan pencapaian ini.

“Walaupun aku berusaha semaksimal mungkin untuk tidak sombong, hanya saja terkadang aku merasa lebih unggul dari teman-teman seusiaku,” ucapnya jujur.

Izzan mengaku siap menghadapi tantangan di dunia perkuliahan nantinya. Ia pun mengaku sudah mempersiapkan mental untuk bersaing dengan teman-temannya yang beberapa tahun lebih tua darinya.

Secara akademis, Izzan yakin mampu bersaing. Dia juga menetapkan kriteria siapa yang akan menjadi pendampingnya.

“Saya akan berteman dengan orang pintar. Kalau ada yang merokok dan bicara kasar, saya jauhi,” kata Izzan dengan suara yang masih terdengar seperti anak kecil.

Namun didampingi orang tua

Yanti menyadari bahwa meski sudah menjadi mahasiswa, Izzan masih memiliki hambatan sosial dan emosional. Makanya dia bilang akan tetap menemani Izzan meski sudah berstatus mahasiswa. Apalagi secara administratif Izzan belum merdeka.

“Tabungan yang dimilikinya masih anak-anak yang masih membutuhkan tanda tangan orang tua, jadi untuk sementara akan saya bantu,” ujarnya.

Yanti paham, meski Izzan berhasil mewujudkan cita-citanya kuliah di ITB, namun hal itu bukanlah perjuangannya sejak lahir. Perjalanan dan kisah Izzan terus terkuak. Tugasnya sebagai orang tua adalah mendampingi dan memfasilitasi kebutuhan belajar ketiga anaknya, bukan hanya Izzan saja.

Perempuan berusia 46 tahun ini berharap semakin banyak orang tua yang memperhatikan anaknya, terutama anak yang terlahir spesial. Berdasarkan data yang diperolehnya, hanya 3 persen dari 1,5 juta anak berkebutuhan khusus yang mendapat perhatian dari orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar.

“Sisanya sudah ditinggalkan TIDAK ketahuan,” kata perempuan yang pernah menulis buku parenting “Melihat Dunia”.

Yanti juga berharap pemerintah bisa lebih aktif dalam memfasilitasi anak berkebutuhan khusus seperti yang dilakukan negara-negara lain.

“Di negara maju, khususnya Israel dan Uni Soviet, mereka mengumpulkan anak-anak seperti ini. Anak-anak ini dididik dan difasilitasi. Mereka telah melakukannya sejak 70 tahun lalu. Itu sebabnya negara-negara ini mengalami kemajuan,” ujarnya.

Keberhasilan Izzan meraih pendidikan yang diimpikannya diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para orang tua yang juga memiliki anak dengan kondisi serupa. Untuk itu, Yanti siap berbagi pengalamannya kepada siapa pun.

Selain buku “Melihat Dunia” yang pernah ia tulis berdasarkan pengalamannya membesarkan Izzan, Yanti siap dihubungi melalui telepon genggamnya. – Rappler.com

casino games