• March 20, 2026

Kisah Miskaulah yang tak henti-hentinya memakan ayam hidup

SIDOARJO, Indonesia – Duduk bersila di kursi bambu, wanita paruh baya berbadan tembem ini mengobrol dengan wanita di depannya.

Mengenakan pakaian berwarna hitam dan berjilbab, Miskaulah berbincang dengan putri angkatnya, Siti Rohmah (37 tahun), di teras depan rumahnya di Dusun Jenis Asem, Desa Tromposari, Kecamatan Jabo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

Pakaiannya yang berwarna hitam saja sudah menarik perhatian orang, terlebih lagi kedua jari tangan kanan dan kirinya dihiasi batu akik seukuran biji palem. Tak lupa, ada kalung yang tergantung di lehernya dengan liontin batu akik berukuran besar.

Dengan gaya busana tersebut, sosok Miskaulah lebih sesuai dengan karakter dukun ilmu hitam seperti yang biasa digambarkan dalam film-film nasional.

“Carnelian ini hanya sekedar hobi. Kemarin adalah musim akik. Sedangkan baju berwarna hitam, saya selalu suka memakainya. Sehingga ketika selesai makan ayam, darahnya tidak terlihat di baju karena warnanya hitam. “Bukan karena aku mempunyai ilmu hitam,” kata Miskaulah dan memulai pembicaraan.

Miskaulah memang mempunyai hobi yang aneh. Jika banyak orang yang suka menyantap ayam goreng atau dimasak dengan cara lain, Miskaulah justru sebaliknya. Wanita berusia 47 tahun ini lebih memilih memakan ayam hidup dengan darah yang diminumnya.

Kebiasaan Miskaulah sempat menghebohkan masyarakat Jawa Timur pada tahun 2011. Saat itu, media massa sedang ramai memberitakan hobi tak lazim tersebut. RSUD Sidoarjo tak tinggal diam. Misalkan Anda sempat menjalani terapi untuk menghentikan kebiasaan aneh tersebut. Setelah menjalani terapi selama 1,5 tahun, Miskaulah akhirnya bisa berhenti mengonsumsi ayam hidup.

“Mereka bilang pernikahan anak saya kurang seru karena organ tunggalnya berhenti. “Yang lebih seru lagi, mereka memaksa saya untuk memakan ayam itu hidup-hidup lagi,” kata Miskaulah.

Tapi itu tidak berlangsung lama. Sekitar tahun 2014, Miskaulah diam-diam memulai kembali kebiasaan anehnya. Awalnya dia tertutup, tapi setelah tertangkap, dia menjadi lebih serius.

Jika timbul keinginan menyantap ayam hidup, emosi Miskaulah bisa tak terkendali. Ia sempat berteriak dan menyuruh Siti Rohmah membeli ayam hidup. Dia tidak menyukai semua ayam. Dia hanya ingin melahap ayam berbulu hitam.

“Saya tidak bisa makan ayam jantan atau babun (betina) selain yang hitam. Saya tidak tahu kenapa,” akunya.

Miskaulah mengaku mulai kembali mengonsumsi ayam hidup sekitar tahun 2014. Saat itu, ia sedang merayakan pernikahan anak pertamanya. Untuk menambah kemegahan acara tersebut, dia menyewa satu organ (pemilihan). Namun sayang karena tidak mendapat izin dari RT setempat, acara terpaksa terhenti pada pukul 20.00 WIB.

Kemudian datanglah sekelompok siswa dari daerah tersebut. Kecewa karena organ tunggalnya berhenti, mereka membawa seekor ayam hidup. Para siswa kemudian memaksa Miskaulah untuk kembali memakan ayam hidup sebagai hiburan.

“Mereka bilang pernikahan anak saya kurang seru karena pemilihan berhenti. “Yang lebih seru lagi, mereka memaksa saya untuk memakan ayam itu hidup-hidup lagi,” kata Miskaulah.

Sejak saat itu dia kembali makan ayam hidup. Porsinya tidak sebesar sebelumnya. Sebelum Miskaulah menjalani pengobatan, ia mampu makan minimal 5 ekor ayam hidup dalam sehari. Tapi sekarang, hanya satu kali dalam seminggu.

“Tapi aku benar-benar ingin berhenti. Anak-anak saya semua malu dengan kebiasaan buruk ibu mereka. Saya ingin sembuh kembali. Makanya saya lakukan terapi lagi, kata Miskaulah.

Kebiasaan makan ayam hidup ini, kata Miskaulah, sebenarnya sudah dimulai sejak ia masih kecil. Saat itu, Miskaulah kecil yang masih berusia 10 tahun diajak ayahnya bekerja di sawah. Hari sudah siang, tapi makan siang belum juga tiba. Dia menangis kepada ayahnya meminta makanan. Ayahnya hanya menyuruhnya minum banyak air agar kenyang.

Misalkan seorang anak tidak bisa menahan rasa lapar. Dia juga mencari binatang apa saja untuk dimakan. Mula-mula hanya belalang, lalu katak dan ikan. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga akhirnya Miskaulah kecil menjadi terkenal karena memakan hewan hidup.

Suatu hari ada sekolah pencak silat mencari Miskaulah. Mereka mengundang Miskaulah tampil di perayaan kota. Misalnya saja jika Anda diminta untuk memperagakan kebiasaan aneh seperti kuda yang berdebu atau menggumpal.

“Selain disuruh mengupas kelapa dengan gigi, saya juga disuruh makan ayam hidup. Di situlah saya akhirnya berpikir, ‘Oh, ternyata hewan yang paling enak dimakan hidup-hidup adalah ayam’. “Sejak saat itu, saya hanya mau makan ayam hidup,” ujarnya.

Kebiasaan ini berlanjut hingga dewasa. Uang untuk membeli ayam hidup untuk Miskaulah tidak menjadi masalah. Setelah dewasa, ia bekerja sebagai penyiar radio. Nama udaranya adalah Mama Pretty. Gajinya dari dunia penyiaran tidak seberapa. Namun, ia mendapat uang tambahan dari sumbangan para pendengarnya.

Setiap malam, Mama Pretty mengadakan acara karaoke dangdut. Acara ini populer di kalangan pendengar. Mereka rela datang ke stasiun radio tempat Mama Pretty bekerja untuk berkaraoke di radio. Dari fans tersebut, Miskaulah mendapatkan uang.

“Uang Saweran hanya Rp 10 ribu, tapi dikalikan dengan puluhan fans yang datang ke radio,” ujarnya.

Dari uang saweran tersebut, Miskulah biasanya bisa membeli ayam untuk memenuhi keinginannya. Namun kini keinginan untuk sembuh kini semakin kuat.

Sejak awal Januari, Mama Pretty sudah mulai berobat lagi. Seminggu sekali ia harus mengikuti konseling di RSUD Sidoarjo. Padahal jaraknya sekitar 15 km dari rumahnya. Namun karena niatnya untuk sembuh, ia tetap melakukannya bersama putranya.

Hasil pemeriksaan kesehatan awal menyebutkan tidak ada yang salah pada Miskaulah. Ia hanya menderita tekanan darah tinggi dan sedikit obesitas.—Rappler.com

Result Sydney