• March 23, 2026
Kisah Sumarni, siswa Maros yang mengendarai sampan ke sekolah

Kisah Sumarni, siswa Maros yang mengendarai sampan ke sekolah

Sumarni bercita-cita menjadi guru sekolah setelah menyelesaikan pendidikannya

MAKASSAR, Indonesia – Matahari mulai terbit dari ufuk timur, menandakan dimulainya aktivitas pagi hari. Jauh dari hiruk pikuk kota, seorang gadis remaja berseragam sekolah putih biru dan berjilbab terlihat melintasi Sungai Pute dengan sampan berusia puluhan tahun.

Gadis yang akrab disapa Sumarni itu sedang mendayung kano menuju dermaga terdekat. Sesampainya di dermaga, perjuangan untuk sampai ke sekolah tepat waktu harus terus berlanjut. Kaki kecilnya terus berjalan sejauh dua kilometer menuju SMP Negeri 28 Salenrang, Kabupaten Maros, tempat ia mengenyam pendidikan.

Tanpa dia sadari, beberapa wisatawan tampak menyaksikan segala aktivitasnya di tengah Sungai Pute. Wisatawan yang dipimpin akademisi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Zakir Sabara HW takjub dengan perjuangan Sumarni. Penasaran ingin mengenal Sumarni, mereka rela menunggu remaja tersebut pulang sekolah.

“Saya penasaran dengan gadis ini, dia mendayung kano sendirian di sungai yang tenang untuk mendapatkan pendidikan. Sangat kontras dengan kehidupan di perkotaan, kata Zakir, Rabu, 16 Agustus 2018.

Akhirnya Zakir bisa bertemu dengan Sumarni. Keringat menetes di dahi dan pelipisnya. Rappler yang tergabung dalam rombongan akhirnya menemani Sumarni pulang.

Sepanjang perjalanan, Rappler bertanya kepada Sumarni apakah ada rasa takut saat mengayuh sampan ke sekolah sendirian. Sumarni dengan tegas menjawab tidak takut.

Bahkan, berbagai satwa liar seperti buaya dan ular air pernah terlihat di sungai tersebut. Menurutnya, ia rela melakukan perjalanan jauh dari rumah menuju sekolah demi mendapatkan pendidikan yang layak.

Rasa penasaran Zakir akhirnya terbayar ketika kami sampai di rumah Sumarni. Rumahnya terletak di tepi sungai yang sangat sederhana di balik tebing kapur Rammang-Rammang Maros. Ia pun langsung berbicara kepada ibunya, Aminah.

Sumarni menuturkan, kegiatan tersebut sudah ia lakukan sejak duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar.

“Waktu saya kelas 1 sampai kelas 3, kakak laki-laki saya mendayung. Kebetulan saat itu adik saya masih bersekolah. Ketika kakak laki-lakiku selesai (sekolah), mau tak mau aku mendayung sendiri. “Saya tidak takut karena bersekolah adalah kewajiban saya,” ujarnya.

Saat ditanya cita-citanya, anak ketujuh dari delapan bersaudara itu menjawab ingin menjadi guru agama. Ia menyadari bahwa untuk mewujudkan impian mulia tersebut, ia tidak boleh menyerah dan terus belajar. Apalagi belum ada sekolah yang dekat dan mudah dijangkau dari rumahnya,

“Saya tidak merasa lelah, semua terbayar ketika saya duduk mendengarkan guru memberikan pelajaran,” kata putri Lulung dan Aminah ini.

Kejutan sepeda

Pertemuannya dengan Zakir ternyata berakhir manis. Sebab keesokan harinya Sumarni mendapat kejutan yang bisa memudahkan menimba ilmu.

Zakir kembali ke rumah Sumarni pada Kamis, 17 Agustus. Ekspresi terkejut terlihat jelas di wajahnya saat ia sedang menyiapkan makanan untuk berbuka puasa sunah.

Zakir datang dengan mengundang berbagai kalangan lainnya dari kalangan dosen, pejabat, pengusaha, profesional, politisi, dan jurnalis hingga sivitas akademika UMI Makassar. Mereka terlihat membawakan Sumarni bingkisan berupa sepeda.

“Ini nak, kami mendapat bantuan dari kita semua untuk membantumu mencapai tujuanmu. Ada sepeda dan sejumlah uang. “Gunakan untuk membeli sampan baru dan gunakan sepeda ini agar tidak perlu jalan kaki lagi,” kata Zakir yang menyerahkan sepeda dan Tumblr Pack.

Ia berharap kisah Sumarni yang tak kenal lelah mencari ilmu bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya. Menurut Zakir, generasi seperti Sumarni mulai tersesat di era kemajuan teknologi.

Penyerahan bingkisan kepada Sumarni disaksikan Kepala Desa Salenrang M Nasir Dg Sewang, Kasubdit Dinas Lingkungan Hidup Maros M Jusuf Latief, Aminah, ibu kandung Sumarni, saudara kandung Sumarni dan rombongan lainnya. Ayah Sumarni, Lulung, tak terlihat di momen penting itu. Selain bermatapencaharian sebagai petani, Lulung juga dikenal sebagai penceramah doa atau Pa’barazanji di desanya.

“Ayah saya dulu pergi ke desa tetangga untuk barazanji, jadi dia tidak bisa datang ke sini,” kata kakak laki-laki Sumarni, yang memperoleh gelar sarjana pendidikan. – Rappler.com