• March 1, 2026

Kisah tragis meninggalnya tiga pecinta alam

Mereka diyakini tewas setelah diserang oleh seniornya

KARANGANYAR, Indonesia — Syafi’i hanya bisa menatap jasad putranya, Ilham Listia Adi (20 tahun), yang sudah tak bernapas lagi. Mahasiswa Universitas Islam Indonesia ini meninggal dunia usai mengikuti pendidikan dan pelatihan pecinta alam di Desa Gondosuli, Kecamatan TawangmanguDaerah KaranganyarJawa Tengah, minggu lalu.

“Dia dipukul secara fisik, ada luka lebam di kepala,” kata Syafii saat ditemui Rappler, Selasa, 24 Januari 2017, di Rumah Duka RS Bethesda Yogyakarta. “Saya lapor ke Polda DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). .”

Syafi’i menganggap kematian putranya tidak wajar. Beberapa luka di tubuh anak tersebut menjadi indikasi ada yang tidak beres dengan kematiannya. Apalagi Ilham menelponnya sebelum meninggal.

“Anak saya telepon saya, katanya dipukuli. “Kalau dilihat dari bukti fisiknya, tidak mungkin (dipukul) dengan tangan, pasti ada benda yang digunakan untuk memukulnya,” kata Syafi’i.

Selain Syafi’i, Ilham juga menceritakan pengalamannya selama menjalani pendidikan dan pelatihan pecinta alam bersama kerabatnya, Bambang Springgo. Ilham bercerita kepada Bambang bahwa perutnya dipukul.

Karena itu, kata Bambang, Ilham sering mengalami penggumpalan darah saat buang air besar. Selain luka di bagian perut, Ilham juga mengalami luka gores dan lebam di lengan kiri dan kanan.

Ilham dirawat di RS Bethesda setelah ambruk di kamar mandi kediamannya pada Senin, 23 Januari 2017, sebelum meninggal dunia di rumah sakit pada hari yang sama.

Kepala Humas RS Betjesda Nur Sukawati mengatakan, sesampainya di RS, Ilham dalam keadaan sadar namun wajahnya terlihat sangat pucat. Ada luka di bagian dagu dan keluhan sakit maag, kata Nur Sukawati.

Sukawati mengatakan, selain Ilham, ada satu lagi teman Ilham yang juga dirawat di rumah sakit, yakni Syaits Asyam (19 tahun). Asyam datang pada Sabtu dini hari, 21 Januari 2017, sekitar pukul 04.56 WIB. Kondisinya saat itu sangat mengenaskan.

Pihak rumah sakit bahkan memaksa pengantar Asyam untuk memberi tahu keluarganya tentang kondisi Asyam. “Sejak pertama kali datang ke sini, Asyam sulit berbicara. “Suaranya memudar dan hilang,” kata Sukawati.

Setelah dilakukan pemindaian, diketahui Asyam mengalami patah kaki trauma multipel hampir di seluruh tubuh. Ini termasuk kaki, tangan, bokong, dan punggung. Pada Sabtu sore, Asyam mengalami gagal napas. Beliau meninggal dunia pada pukul 14.45 WIB.

Kondisi Ilham pun tak kalah buruknya. Ia didiagnosis mengalami trauma perut yang menyebabkannya mengeluarkan darah saat buang air besar. Ia juga didiagnosis menderita anemia dan vulnus lacetarum. Kondisinya terus menurun. Ilham akhirnya menyerah, dia meninggal pada tengah malam di hari Senin.

Selain Ilham dan Asyam, ada satu lagi mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang meninggal dunia saat mengikuti pendidikan dan pelatihan pecinta alam, yakni Muhammad Fadli (20 tahun). Fadli meninggal dunia di Puskesmas Tawangmangu pada Jumat, 20 Januari. Jadi total ada 3 siswa yang meninggal.

(Membaca: Diduga Dianiaya Senior, Tiga Mahasiswa Mapala UII Tewas)

Selain menimbulkan korban jiwa, pelatihan bagi pecinta alam ini juga menimbulkan korban luka-luka. Salah satu korban luka adalah Abiyan Razaki (19 tahun) yang kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Internasional Jogja (JIH).

“Ada kontak fisik dari saudara panitia. “Anda bisa melihatnya (tanda-tanda kontak fisik),” kata Raihan Aflah, kakak laki-laki Abiyan, kepada Rappler. Seperti Syafi’i, Raihan juga akan menempuh jalur hukum untuk meminta pertanggungjawaban pelaku.

Kapolres Karanganyar, AKBP Ade Safri Simanjuntak mengatakan, pihaknya telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki meninggalnya tiga pecinta alam Universitas Islam Indonesia (UII).

“Kami kirimkan tim, hari ini mereka berangkat ke Yogyakarta untuk memeriksa 11 orang saksi, khususnya teman korban,” kata AKBP Ade Safri. “Saya berharap mereka memberikan informasi yang benar.” —Rappler.com

uni togel