Kisah WNI Jualan Bakso Bejo di Korea
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Haji Subandi Dulunya TKI di Negeri Ginseng, Kini Raup Untung Ratusan Juta dari Bakso
JAKARTA, Indonesia – Membuka halaman Facebook Subandi Garuda bikin merinding, rasanya ingin terbang ke Korea Selatan dan mencicipi aneka bakso yang dijual dengan merek “Bakso Bejo”.
Dalam foto tersebut Anda bisa melihat tekstur dagingnya yang membuat kita bisa membayangkan rasanya. Kreativitas juga menjadi kunci sukses bisnis bakso di negeri Ginseng. Subandi dan istrinya menciptakan “bakso bidadari”, yaitu bakso hati yang dibungkus dengan telur. Bagus.
Subandi tak hanya mahir memproduksi bakso, namun juga piawai memanfaatkan promosi pemasaran online melalui media sosial. “Istri saya membantu promosi on lineKuncinya adalah kerja sama, kata Subandi saat dihubungi Rappler, Minggu, 11 Juni 2017 melalui kotak pesan di Facebook.
Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Lampung ini terjun ke bisnis bakso karena melihat makan bakso sudah menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia dimana pun. “Orang Indonesia tidak boleh menyerah dengan bakso. Alhamdulillah kami berhasil menemukan rasa bakso yang bisa diterima masyarakat di sini, kata Subandi.
Untuk bakso, Subandi mengonsumsi daging satu ekor sapi dalam sehari. Alhamdulillah untung ratusan juta, ujarnya.
Subandi memulai usahanya sekitar dua tahun lalu dengan modal 200 ribu Won atau sekitar Rp 2,3 juta. Bakso Bejo Korea kini tersebar di lima kota dengan puluhan cabang, melalui sistem waralaba. Satu kilogram bakso dijual dengan harga 25 ribu Won atau sekitar Rp 270 ribu. Semangkuk bakso urat dibandrol dengan harga 10 ribu Won dan laris manis.
Dua minggu setelah memulai penugasan di Korea Selatan, Dubes Umar Hadi dan keluarga menyempatkan diri menikmati bakso Bejo Korea di kantor pusatnya, di Pocheon, 50 kilometer dari Seoul. Dubes Umar kagum dengan jiwa wirausaha yang ditunjukkan Subandi.
Selain memproduksi bakso, Subandi juga mengimpor sejumlah bahan pangan dan bahan dari Indonesia. Di halaman Facebook kita bisa melihat promo pempek slawi, tumis kelapa, dan rendang daging.
“Hampir seluruh produk pangan Indonesia yang dijual di Korea diimpor oleh perusahaan lokal. Akibatnya, kita tidak bisa mengendalikan harga. “Harus ada WNI yang mulai impor dan saya akan bantu,” kata Umar Hadi.
Ia mengajak Subandi untuk memberikan pelatihan pembuatan bakso bagi WNI di sana, dan membantu kemungkinan pembukaan cabang di Seoul, serta menjadi importir makanan Indonesia.
Potensi pasar produk makanan Indonesia di Korea Selatan juga cukup bagus. Ada 38 ribu WNI di sana. Subandi kini setiap hari mengirimkan bakso dan makanan pesanan lainnya ke berbagai kota. Untuk bakso, Subandi mengonsumsi daging satu ekor sapi dalam sehari. Alhamdulillah untung ratusan juta, ujarnya.
Menurut Subandi, kunci sukses adalah terus belajar dan bangkit dari kegagalan. Seperti halnya resep bakso, melalui proses trial and error. “Saya meminta teman-teman saya untuk mencicipinya, sampai mereka mendapatkan rasa yang pas. “Setelah itu promosi lewat media sosial,” kata Subandi.
Ingin mencicipi kelezatan Bakso Bejo saat berlibur ke Korea? Anda dapat gunakan Kupon spesial PegiPegi Di Sini! – Rappler.com