• March 1, 2026

Kisah Yusuf Adirima, mantan jihadis yang sedang dalam perjalanan menjadi seorang pengusaha

SOLO, Indonesia – Machmudi Haryono alias Yusuf Adirima atau biasa disapa Ucup terlihat menyiapkan warung makan steak. Pagi itu merupakan minggu pertama toko dibuka setelah hampir seminggu libur pasca libur Idul Fitri.

Kedai dengan menu spesial iga bakar yang terletak di tengah kota Solo ini nyaris tak pernah sepi. Sejak dibuka pukul 11.00, pembeli sudah bolak-balik dari jam makan siang hingga jam 9 malam.

Bahkan, saat bulan Ramadhan, pengunjung membludak dan harus rela mengantri untuk berbuka puasa. Hingga lebaran, warung Ucup tetap ramai. Selain melayani pengunjung di lokasi, Ucup juga melayani pesanan nasi kotak untuk seminar dan pertemuan di hari biasa.

Dalam waktu 4 tahun, bisnis kulinernya kini berkembang di Solo. Bahkan, dari usahanya tersebut, Ucup mampu mencicil tiga mobil yang kini digunakan untuk mengembangkan bisnis rental mobil di Semarang.

Ucup adalah contoh nyata mantan jihadis yang kembali ke masyarakat. Pada tahun 2000-an, Ucup merupakan seorang petarung yang menjalani pelatihan di Camp Hudaibiyah di Filipina selatan selama hampir tiga tahun. Pengikut Jemaah Islamiyah disebut lebih ahli dibandingkan anggota militer dalam menggunakan senapan serbu jenis M16.

“M16 tidak bisa dilepas atau ditempatkan di sana. Makan, berdoa, tidur, kamu harus menyimpan senjatamu. “Sekarang pegang panci, piring, kadang setir,” canda Ucup.

Bom Sri Rejeki

Sekembalinya ke Indonesia, Ucup terlibat kasus bom Sri Rejeki. Ia ditangkap pertengahan tahun 2003 oleh Divisi Khusus dan Polda Jawa Tengah saat operasi penggerebekan di sebuah rumah kontrakan di Jalan Taman Sri Rejeki Selatan VII, Semarang. Dia ditangkap bersama tiga orang teman serumahnya yang sama-sama berasal dari Jawa Timur. . Mereka adalah Joko Ardianto, Suyatno dan Siswanto.

Ketiganya ditemukan menyimpan 26 bom rakitan dan amunisi dengan berat lebih dari 60 kilogram, menurut pengadilan. Pakar kepolisian memperkirakan daya ledaknya dua kali lipat dari bom Bali. Bahan peledak bom rakitan itu milik Musthofa alias Abu Tholut, terduga dalang bom JW Marriot tahun 2003 yang sebelumnya ditangkap di Bekasi dan divonis 7 tahun penjara. Dalam pengakuannya, mantan Panglima JI wilayah Sulawesi itu mengatakan, tempat perlindungan bomnya berada di Semarang.

Pengadilan memvonis Ucup dan kawan-kawan 10 tahun penjara, namun mereka hanya menjalani hukuman 5 tahun 6 bulan karena berkali-kali diampuni. Dia dibebaskan bersyarat pada tahun 2009, namun kembali ke kehidupan normal tidaklah mudah.

Stigma eks teroris yang diusung Ucup masih sulit dihilangkan. Ia bekerja di sebuah restoran bebek goreng di Semarang, namun dipecat oleh atasannya karena merupakan mantan narapidana kasus teror. Alasannya sederhana, Ucup kerap mengambil cuti kerja karena harus bolak-balik Semarang-Surabaya untuk melapor ke Polda Jatim.

Pilih kewirausahaan

Sempat kebingungan mencari pekerjaan, Ucup mempertimbangkan untuk menjalankan usaha sendiri. Beruntung, ia kembali bertemu dengan Noor Huda Ismail, pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, lembaga penelitian terorisme, yang menjenguknya di Lapas Kedung Pane, Semarang. Huda yang juga berasal dari Semarang menawarkan usaha dan yayasannya kepada Ucup untuk membantu pinjaman modal.

Pengalamannya menggeluti bisnis kuliner membuat Ucup yakin bisnisnya akan semakin berkembang. Dia belajar banyak tentang bisnis ini mulai dari memasak, mencari bahan baku, promosi, acara pasar, hingga akuntansi. Diakuinya, berbisnis bukanlah hal yang mudah, apalagi bagi para mantan jihadis yang sebelumnya tidak memiliki pengetahuan tentang dunia bisnis.

“Tidak sedikit teman-teman alumni (jaringan jihad-red) yang gagal karena tidak berusaha maksimal. Bisnis juga jihad, harus serius,” kata Ucup.

Huda menyewa tempat dan mengajukan kredit barang modal untuk membuka restoran steak di Semarang. Bisnis ini dijalankan oleh empat orang – dua di antaranya mantan jihadis – dengan sistem bagi hasil.

“Salah satu pelanggan setia nasi kotak adalah Polda Jateng, setiap hari saya pesan banyak karena saya kenal polisi di sana sejak saya menjadi tahanan,” kata Ucup.

Ucup kemudian membuka cabang di Solo pada tahun kedua. Sayangnya, bisnisnya bubar di saat bersamaan. Teman-temannya putus karena ingin bisnis sendiri.

Sedangkan Ucup sudah membuka usaha rental mobil. Karena tidak ada yang mengelola, toko di Semarang terpaksa tutup. Ia memilih bertahan di Solo karena selain pasarnya lebih prospektif, ia juga mempunyai banyak teman dari jaringan eks jihadisnya yang membantunya dalam usahanya, terutama di bidang promosi dan pemasaran.

“Saya tinggal datang dan buka toko di sini, teman-teman yang akan melakukan pemasaran, promosi, dan pendistribusian brosur,” kata Ucup.

Daya tarik bisnis

Kesuksesan bisnis kuliner Ucup dengan omzet harian Rp 3,5 hingga 4 juta – belum termasuk rental mobil – membuat eks jihadis tertarik berbisnis. Ada yang punya usaha rongsokan di Karanganyar dan mampu membeli mobil menjemput sendiri dari usaha penjualan sampah daur ulang. Ada juga yang membuka warung makan Padang di Ngruki.

Ucup pernah memberikan bisnis toko roti untuk para mantan jihadis ini. Namun hingga saat ini belum berkembang karena memerlukan pengelolaan yang lebih serius dan masyarakat yang pantang menyerah.

Mengajak mereka berbisnis, kata Ucup, mudah dan sulit. Mudah karena mereka sangat tertarik dengan kehidupan ekonomi yang mapan setelah keluar dari penjara, namun menjadi sulit jika tidak gigih dan sabar dalam mengelola usahanya.

“Banyak sekali orang yang menghubungi saya, meminta investor atau mengajari mereka cara berbisnis, tapi mereka malu untuk bertemu. “Mereka takut keluar dari jaringan dan bergabung dengan pengusaha yang dituduh dibiayai Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT),” kata Ucup.

“Padahal saya belum pernah menerima bantuan modal apapun dari BNPT. Padahal, sekarang saya ingin meminta BNPT untuk mengembangkan usaha ini, ujarnya lagi.

Menurut Ucup, program deradikalisasi BNPT selama ini kurang efektif karena hanya memberikan bantuan modal kepada berbagai mantan jihadis, namun tidak memberikan pelatihan kewirausahaan yang memadai. Misalnya, badan anti-teroris hanya memberikan mesin jahit, tetapi tidak mengajari mereka cara menggunakannya untuk produksi, atau mencari pasar untuk mesin tersebut.

Faktor ekonomi, kata Ucup, menjadi salah satu pendorong masyarakat yang menganggur atau tidak mampu secara ekonomi menjadi radikal, putus asa, hingga melakukan amaliyah yang dilakukan “pengantin” pelaku bom bunuh diri dengan harapan surga dan menjadi bidadari. .

“BNPT harus serius memberikan bantuan dan menjaga usaha teman-teman kita agar tidak terpecah belah dan kembali menjadi jaringan atau bergabung dengan Suriah,” kata Ucup.

Tempat bertemu mantan narapidana

Warung makan Ucup di Solo kini juga menjadi tempat berkumpulnya sejumlah mantan narapidana kasus terorisme dan berdiskusi tentang nasibnya setelah keluar dari penjara. Mereka adalah orang-orang yang sadar dan ingin membangun masa depan keluarganya.

Mereka yang keluar dari penjara ada yang sudah menikah, ada pula yang berpoligami, dan ada pula yang menikah dengan janda yang mempunyai banyak anak. Mereka hanya merasa bahwa berani hidup lebih menantang daripada berani mati. Karena hidup sepertinya penuh dengan tanggung jawab dan Anda harus menghidupi keluarga.

Mantan jihadis dan alumni JI asal Poso, Moro, dan Aceh merupakan orang-orang yang tidak setuju dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Menurut mereka, ISIS yang mengaku sebagai daulah atau kekhalifahan Islam melanggar prinsip jihad, salah satunya karena memandang umat Islam yang tidak mendukung ISIS sebagai kafir murtad yang boleh ditumpahkan darahnya.

Meski begitu, kata Ucup, masih ada pihak yang curiga, termasuk dirinya. Ia pernah disebut-sebut berbisnis sambil menunggu waktu yang tepat untuk menunaikan amaliyah, meledakkan bom, dan melanjutkan misinya yang sempat tertunda.

“Saya sudah membuktikannya selama tujuh tahun, banyak polisi, masyarakat BNPT yang mengenal saya. Mereka tahu rumah saya, nomor STNK saya, dan bisnis saya,” ujarnya.

“Sebaliknya, saya justru bisa mengajak teman-teman jihadis ini untuk kembali hidup normal, berkomunikasi secara terbuka, menjembatani mereka. “Aku lebih banyak didengar karena kita satu kehidupan,” ucapnya lagi.

Apa yang dikatakan Ucup ada benarnya. Sore harinya, mobil perwakilan BNPT berhenti di depan tokonya. Ini adalah kunjungan pertama saya ke toko steak ini.

Tak lama kemudian, satu per satu eks jihadis yang juga teman Ucup di Solo datang. Mereka sebelumnya meminta Ucup bertemu dengan perwakilan BNPT dari Jakarta untuk mengajukan bantuan modal usaha.

“Saya hanya memfasilitasi pertemuan mereka, memberi ruang, karena mereka percaya (pada) saya,” kata Ucup.

Ucup terlibat langsung dalam upaya deradikalisasi. Dia sering mengunjungi penjara tempat para jihadis ditahan dan mengajak mereka kembali ke kehidupan normal.

Bahkan, ia juga telah membekali 16 narapidana kasus terorisme dengan keterampilan memasak dan kuliner sehingga mereka memiliki pilihan untuk mencari nafkah ketika nanti keluar dari penjara. – Rappler.com

Togel Sydney