Komunitas Budha Malang menawarkan menu pembuka gratis
keren989
- 0
MALANG, Indonesia – Indrawati dan sepuluh wanita paruh baya mulai mengisi nasi dan lauk pauk ke piring yang tertata rapi di atas meja. Menu kali ini adalah kentang goreng sambal dan ayam kecap. Seperti hari sebelumnya, sekitar 300 piring disiapkan ibu-ibu anggota Persatuan Metta Vihara Sanggar Suci Lawang, untuk berbuka puasa pada Rabu, 22 Juni.
“Kami masak sendiri, menunya fix sebulan. “Ini untuk saudara-saudara kita yang sedang berpuasa,” kata Indrawati kepada Rappler.
Paguyuban Metta menyiapkan santapan buka puasa gratis di bekas garasi pinggir Jalan Wahidin, Desa Kalirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Sekitar pukul 16.30 WIB, warga sekitar mulai berdatangan ke lokasi. Sejumlah pengguna jalan yang melintas juga terlihat menepi dan mengantri untuk menyantap makanan gratis tersebut.
“Kemarin lauknya telur, besok kari ayam. Kami memasak semuanya halal karena untuk berbuka puasa bagi umat Islam. Rencananya berbuka hingga malam terakhir puasa, ujarnya.
Pada sore hari tanggal 22 Juni, jalan raya sangat sibuk. Suara azan dari masjid terdekat diredam oleh deru kendaraan. Salah satu warga masyarakat juga mengingatkan panitia bahwa waktu berbuka puasa telah tiba. Mendengar aba-aba dari panitia, ratusan pramusaji langsung membentuk barisan tertib dan menunggu sepiring lauk pauk dibagikan secara bergantian.
“Bukan hanya umat Buddha, saya Katolik juga membantu di sini,” kata Untari, perempuan berusia 67 tahun. Selama empat Ramadhan terakhir, Untari membantu rekan-rekannya di Paguyuban Metta mempersiapkan pembukaannya.
“Kegiatan ini baik untuk kerukunan antar umat beragama. “Tidak peduli yang datang kaya atau miskin, puasa atau tidak, agamanya Islam atau tidak, yang penting kita bersedia memberikan makanan selama Ramadhan,” ujarnya.
Buka gratis ditunggu setiap tahunnya
Sore harinya, Rani, seorang ibu rumah tangga asal Kota Malang, ikut mengantri. Usai mendapatkan sepiring nasi dan lauk pauk, Rani makan bersama suami dan balitanya.
“Saya dalam perjalanan ke Lawang dari Malang, mampir di sini karena sudah hampir Maghrib. “Di sini selalu ada lowongan gratis,” kata Rani.
Seperti yang lainnya, mereka makan sambil berlutut. Hanya sedikit yang makan dengan duduk di kursi yang disediakan panitia. Di sudut kamar terdapat teh hangat untuk melepas dahaga yang juga disediakan secara gratis.
“Saya selalu datang ke sini tiap Ramadhan, makanannya enak, tidak masalah kalau saya duduk di lantai,” kata Helix, pria yang tinggal tak jauh dari vihara. Sepotong paha ayam kecap berukuran sedang memenuhi piring nasi.
Tawarkan menu daging meskipun itu vegetarian
Sejak 18 tahun lalu, tepatnya tahun 1998, Winantea Listiahadi, pendeta di Vihara Sanggar Suci, memulai tradisi buka gratis. Saat itu sedang krisis uang, banyak menu daging dan buah yang tidak tersedia.
“Saat itu terjadi krisis uang dan harga meroket, saat itu pembukaan gratis ini dimulai oleh komunitas Metta,” kata Winantea.
Awalnya, buka puasa dilakukan di halaman Vihara Sanggar Suci dan dihadiri beberapa orang. Saat itu panitia menyediakan menu nasi bungkus untuk berbuka puasa. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah pesertanya semakin banyak sehingga membutuhkan ruang yang lebih besar. Nasi kemasan juga sudah diganti dengan piring karena pertimbangan efisiensi.
Pengunjung juga bisa menambahkan ke piringnya selagi nasi dan lauk pauknya masih tersedia. Lima tahun kemudian, buka puasa dipindahkan sekitar lima meter dari Vihara, dan masih berlangsung hingga saat ini.
Pendeta Winantea tidak mempermasalahkan menu-menu yang menggunakan daging. Meski ia dan sebagian besar umat Buddha tidak mengonsumsi daging, namun menu bagi umat Islam disesuaikan dengan kebutuhannya. Menu-menu seperti ayam kecap, rawon, soto ayam, satai, gule umum memenuhi piring peserta pada kegiatan ini. Pihak Paguyuban memilih untuk memanjakan cita rasa para peserta buka puasa. Menurutnya, toleransi memerlukan pengorbanan.
“Hal ini agar keharmonisan semakin terjalin,” tuturnya.
Metta sendiri artinya cinta. Komunitas Metta sebagian besar terdiri dari umat Buddha, tetapi juga terdapat umat Kristen dan Muslim. “Awalnya arisan tapi kemudian menjadi sosial, tidak ada anggaran khusus karena diserahkan kepada anggota,” ujarnya.
Malam harinya, setelah hidangan nasi dibagikan, para peserta membuka pintu lalu kembali berbaris. Kali ini ada sejumlah jajanan seperti biskuit dan kue keranjang hasil karya ibu-ibu paguyuban yang akan dibagikan sebagai hidangan penutup.
“Jangan khawatir, kue keranjang ini empuk, tidak kenyal,” kata Linawati kepada seorang pengunjung. – Rappler.com