Kontroversi Awkarin, Salah Siapa?
keren989
- 0
Nama Karin Novilda atau yang lebih dikenal dengan akun media sosialnya @awkarin menjadi perbincangan hangat selama sepekan terakhir, baik di dunia maya maupun dunia nyata.
Setidaknya hampir di semua kalangan teman dan tempat yang saya kunjungi, nama Awkarin bergema dimana-mana. Ada juga beberapa meme dan candaan yang mengolok-oloknya, baik di Twitter, Facebook, Path, maupun di grup WhatsApp dan LINE yang saya ikuti.
Sejujurnya, tidak ada yang istimewa dari video blog yang diunggahnya beberapa hari lalu. Video berdurasi hampir 30 menit itu menceritakan tentang Karin yang meski sedih dan bingung setelah dicampakkan oleh Gaga, (mantan) pacarnya, namun tetap berusaha tegar dan memberi. kejutan untuk ulang tahun yang telah dia persiapkan sejak lama.
Jika penasaran lebih lengkapnya, bisa langsung simak videonya di sini. Ini merupakan kedua kalinya Karin mengunggah video yang sama, setelah video pertamanya dihapus karena terlalu banyak mendapat reaksi negatif.
Drama dimulai ketika Karin menangis di akhir video dan mengungkapkan kemarahannya yang terpendam terhadap gadis-gadis tersebut. pembenci yang menurutnya sudah keterlaluan. Karin mengaku perlakuan yang diterimanya selama ini bisa dikatakan perundungan siber dan itu akan menyeret para pembenci itu masuk ke tindakan hukum.
Tampaknya tidak sulit untuk menuduh dan membenci Karin. Bagaimana tidak, foto dan video Karin dengan pakaian terbuka, tato permanen yang didapatnya saat masih bersekolah, kehidupan malam, dan pesta minum-minum.
Belum lagi pose mesra mencium (mantan) pacarnya yang terpampang jelas di media sosial, sebagian besar bersumber dari para pengagumnya yang sebagian besar adalah anak-anak di bawah umur (Karin sendiri masih duduk di bangku SMA).
Kebiasaan Karin yang bersuara keras penuh kata-kata kotor dan pengakuannya yang menggunakan kunci jawaban saat Ujian Nasional pun membuat banyak orang – termasuk saya sendiri – menggosok dada dan langsung menggaruk-garuk kepala.
Salah siapa?
Kebanyakan dari mereka tangkai Akun media sosial Karin membuatku bergumam. Apa yang salah? Siapa yang salah? Mengapa anak-anak zaman sekarang gini sungguh, kan?
Karin hanyalah satu dari sekian banyak remaja di media sosial yang saya kenal yang sibuk menghabiskan hidupnya menciptakan persona di dunia maya dan kehilangan begitu banyak potensi yang bisa mereka kembangkan.
Oh iya, tahukah kamu kalau sebelum pindah ke Jakarta, Karin merupakan salah satu peraih nilai ujian nasional tertinggi tingkat SMP di Kota Tanjung Pinang?
Pernahkah Anda bertanya kepada anak-anak zaman sekarang apa impiannya? Saya yakin saat ini pasti semakin banyak orang yang bercita-cita menjadi YouTuber atau”selebgram” daripada menjadi dokter atau tentara seperti saat aku masih TK.
Pernahkah Anda melihat sekelompok anak sekolah dasar menari dan berteriak, “YouTube-YouTube-YouTube lebih dari sekadar TV” sambil mengacungkan jari tengah? saya pernah Percayalah, saya takut punya anak setelah melihat adegan itu.
Penggunaan media sosial yang sangat masif dan sulit dikendalikan mudah disalahkan karena membedakan generasi Karin dengan generasi sebelumnya. Namun kenapa rasanya begitu naif mengingat banyak sekali manfaat dan kegunaannya jika digunakan dengan benar.
‘Anak-anak dan remaja adalah pusat pembangunan’
Anak-anak, khususnya remaja, bukan hanya merupakan usia yang paling rentan, namun juga merupakan usia yang penuh dengan peluang. Anak-anak dan remaja merupakan pusat pembangunan. Oleh karena itu, anak-anak dan remaja merupakan komponen penting dalam tujuan pembangunan berkelanjutan.
Remaja usia 10-19 tahun di Indonesia yang mencapai 45 juta orang pada tahun 2013 dan merupakan 18% dari total penduduk Indonesiajika hak-hak mereka terpenuhi dengan baik, mereka dapat mengurangi jumlah kemiskinan dan kesenjangan di negara ini.
Namun pernahkah kita, pemerintah, guru, orang tua melibatkan mereka dalam agenda pembangunan? Tahukah kita apa yang sebenarnya dipikirkan, dibutuhkan, dan diperjuangkan oleh Karin dan remaja di luar sana? Apakah Indonesia sudah menjadi negara yang ramah dan cocok bagi anak-anak dan remaja?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menyadarkan saya bahwa permasalahan Karin hanyalah salah satu akibat dari seringnya anak-anak dan remaja melupakan partisipasinya dalam pembangunan berkelanjutan.
Pada tahun 2015, Indonesia dan ratusan negara lainnya menyepakati banyak target terkait kesejahteraan anak dan remaja melalui Tujuan Global. Padahal Presiden Joko “Jokowi” Widodo secara gamblang menyatakan keseriusannya dalam pidatonya di World Economic Forum 2015. investasi pada manusia dan investasi pada anak-anak.
“Saat ini kita harus berubah dari konsumsi kembali ke produksi, dari konsumsi menjadi investasi pada infrastruktur, investasi pada industri, namun yang terpenting, investasi pada sumber daya manusia, sumber daya paling berharga di abad ke-21,” kata Jokowi saat itu.
Fokus perhatian terhadap persoalan hak-hak anak tidak selalu harus pada kekerasan atau pelecehan seksual yang sering dibesar-besarkan oleh media. Bukan berarti semua itu tidak penting, namun kita sebagai orang dewasa, pemerintah, serta guru dan orang tua seringkali tidak menyadari bahwa anak mempunyai empat hak dasar, yaitu hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak atas perlindungan dan hak untuk berpartisipasi.
Jadi, apakah kita menghormati hak anak untuk berpartisipasi? Jika kita ingin berinvestasi pada anak-anak kita untuk menjadi sumber daya manusia yang berdaya di masa depan, maka kita harus membiarkan mereka turut serta menentukan arah pembangunan tersebut.
Sayangnya, cakupan partisipasi anak saat ini masih sangat rendah. Belum pernah terdengar forum anak nasional di setiap kota dan kabupaten harus dilibatkan dalam setiap musrenbang.
Kalaupun ada perwakilan anak yang terlibat, aspirasi mereka cenderung hilang ketika agenda tersebut dilimpahkan ke tingkat nasional. Hal ini hanya terjadi pada anak-anak dan remaja yang memiliki akses partisipasi yang memadai. Bagaimana dengan anak marginal atau anak penyandang disabilitas?
OSIS sebagai wadah organisasi kesiswaan di sekolah saat ini semakin tidak berfungsi maksimal dengan hanya menjadi wadah seperti itu penyelenggara acara yang sedang mengadakan pertunjukan seni. Sementara organisasi anak dan pemuda di luar sekolah sangat jarang yang positif dan menjangkau semua kalangan.
Hal itu kemudian menyadarkanku bahwa bukan salah Karin kalau dia adalah seorang “Karin”. Masa remaja adalah masa yang sulit. Saya sendiri pernah merasakan betapa sulitnya hidup sebagai remaja dimana persoalan sekolah, cinta, dan persahabatan bagaikan persoalan hidup dan mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Seperti yang dikatakan G. Stanley Hall, presiden Asosiasi Psikologi Amerika, masa remaja merupakan masa badai dan stres. Jadi nikmatilah tapi jangan terlalu lengah, apalagi di media sosial, karena apapun kita Pos di sana ia akan tetap di sana selamanya. Dan pesan saya kepada para remaja yang sedang kebingungan di luar sana, jangan tumbuh dewasa. Ini jebakan!
Sedangkan sebagai generasi tua, kita harus melihat keberadaan remaja dan generasi muda sebagai sebuah keuntungan besar bagi Indonesia. Yang perlu kita lakukan adalah menemukan platform yang tepat bagi mereka untuk berpartisipasi dan berprestasi secepat mungkin.
Di era digital saat ini, media sosial yang kerap dianggap beracun ternyata bisa dijadikan sebagai salah satu pendekatan terhadap remaja. Kita harus ingat bahwa media sosial adalah media dua arah.
Jadi, daripada kita mengutuki betapa tidak bermoralnya Karin dan remaja masa kini, mari kita manfaatkan media sosial untuk menjangkau mereka dalam upaya kita untuk mewujudkan Indonesia yang lebih ramah anak demi adik-adik kita. Selamat Hari Anak! —Rappler.com
Dara Tri Alia adalah kandidat Master jurusan Anak dan Remaja, Kebijakan Sosial untuk Pembangunan, International Institute for Social Studies, Erasmus University of Rotterdam, Belanda. Di waktu luangnya, ia suka jajan di pinggir jalan sambil menangkap Pokemon. Ikuti kesehariannya melalui Twitter @daratrialia