Kopi Gunung Puntang terkenal di dunia
keren989
- 0
SOLO, Indonesia – Menyeruput kopi panas, Ayi Sutedja mulai bercerita tentang biji kopinya yang memenangkan lelang kopi dunia di Atlanta, Amerika Serikat. Petani kopi Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, mendapat harga tertinggi pada Specialty Coffee Association of America (SCAA) April lalu, yakni 55 dolar per kilogram. kacang hijau.
Harga tersebut cukup fantastis untuk kopi premium yang baru dikenal di dunia. Kopi Gunung Puntang mendapatkan rating tertinggi dengan skor 86,25 dari Q-grader – pencicip kopi yang tersertifikasi sebagai pencicip kopi.
“Tidak pernah terpikir saya akan menjadi juara. “Sayangnya, saya hanya membawa 20 kilogram kopi,” kata Ayi kepada Rappler pada pertemuan petani kopi di Solo akhir Agustus lalu.
Diakui Ayi, tidak ada cara khusus yang membuat kopi arabika miliknya begitu istimewa di lidah siswa kelas Q. Seperti petani pada umumnya, ia mengolah kopinya dengan tiga cara, yakni natural, honey (semi-washed), dan full waxed. Tidak ada rahasia.
Lalu apa yang membedakannya dengan kopi lainnya? Kombinasi kualitas benih, ketinggian lahan, kondisi tanah, cuaca dan cara pengolahan sangat menentukan cita rasa kopi. Ayi mengatakan Gunung Puntang memiliki semua yang dibutuhkan tanaman kopi untuk tumbuh subur dan menghasilkan biji kopi berkualitas.
Selain faktor alam dan benih, Ayi menanam kopi secara organik, karena tanaman kopi liar di lereng gunung hanya dijadikan tanaman pagar untuk kebun sayur. Menanam dan memelihara tanaman tanpa melibatkan bahan kimia, memanen buah dengan cara dipetik merah, dan pengeringan yang tepat akan mempengaruhi rasa dan aroma biji kopi.
Ayi sebenarnya adalah seorang teknisi kelistrikan dan tidak memiliki latar belakang pertanian. Namun perjumpaannya dengan kopi pada tahun 2011 secara tidak sengaja mengubah jalan hidupnya sebagai petani.
Ia diberi bibit kopi arabika oleh temannya namun tidak mengetahui varietasnya, konon bibit kopi tertua di Priangan. Niat awalnya hanya untuk menghijaukan lereng Gunung Puntang yang sudah mulai rusak.
Di luar dugaan, ia berhasil mengembangkan 10.000 bibit, 1.000 diantaranya ia tanam di lahan seluas dua hektare milik Perhutani dengan sistem pengelolaan hutan bersama masyarakat, dan sisanya dibagikan kepada petani.
“Setelah berbuah, saya tidak tahu harus berbuat apa dengan buah ini. “Kalau dijual mentah, harganya hanya Rp 2.000-3.000 per kilonya,” kata Ayi.
Dia kemudian belajar berkultivasi ceri merah (buah kopi) menjadi kopi yang siap dikonsumsi. Pada panen pertama, ia berhasil menjual kopinya di sekitar Bandung dengan label Kopi Gunung Puntang.
Rupanya kopi mulai terkenal. Ayi bergabung dengan Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), sebuah organisasi nirlaba yang bekerja untuk mengembangkan usaha pertanian kopi. Pada akhir tahun 2015, ia mengikuti jejaknya tes cangkir (tes mencicipi kopi).
Kopi natural Ayi mendapat skor 81, madu 85,3, dan full wax 83,5. Ketiganya melampaui batas mutu kopi spesialti, yakni 80.
Pada tahun 2016, Kementerian Perdagangan dan Caswells Coffee – kurator kopi di Indonesia yang memiliki sertifikat standar SCAA – menyeleksi kopi dari seluruh wilayah nusantara. Kopi Gunung Puntang terpilih dari 17 kopi yang dibawa ke Amerika, selain kopi dari Gayo dan Toraja.
Sejak memenangkan lelang, harganya ceri merah dari petani di Gunung Puntang naik menjadi Rp 8.000-10.000 per kilogram. Sementara itu, Ayi mematok harga kopi kacang hijau mengolah Rp 300.000 per kilogram.
“Sekarang petani kopi di Gunung Puntang semua menanam kopi organik,” kata Ayi.
Selain Gunung Puntang, ada lagi kopi yang menjadi juara SCAA 2016 yaitu Madu Malabar. Petani Slamet Prayoga menceritakan kisah kopinya yang sudah beberapa kali keliling dunia dan menjuarai kompetisi kopi di luar negeri.
Sebelum meraih juara ketiga lelang kopi Atlanta, kopi Madu Malabar juga pernah menjadi bintang kompetisi kopi dunia di Perancis, Australia, dan Thailand.
“Proses kita sama, ada madu, wax matang, dan tentunya tidak ada yang istimewa. “Yang kami lakukan hanyalah mempelajari dan mengulangi semua proses untuk mendapatkan hasil yang optimal,” kata Slamet.
Slamet telah menanam kopi di Pengalengan sejak tahun 2012. Ia bercita-cita menjadi petani di masa pensiunnya.
Saat pertama kali menjadi petani kopi, ia sama sekali buta terhadap tanaman tersebut. Ia beberapa kali gagal mengolah buah tersebut menjadi kopi nikmat.
Namun proyeksinya terhadap peluang bisnis kopi sebagai komoditas global yang menjanjikan membuat ia pantang menyerah hingga berhasil menghasilkan kopi yang cita rasanya diakui oleh para siswa kelas Q. Ia memandang kopi sebagai tanaman yang memiliki pasar luas sejak zaman Belanda. Dan kopi Indonesia seringkali menjadi favorit di dunia.
“Semua kopi yang ditanam di Indonesia enak, dunia sudah mengakuinya. “Tergantung bagaimana kita menanam dan mengolahnya,” kata Slamet.
Ia mencontohkan seorang petani di Pangalengan, Jawa Barat, yang baru menyadari setelah 30 tahun kopinya benar-benar enak. Sebelumnya, ia tidak mengetahui cara mengolah yang benar mulai dari pemetikan hingga pengeringan, sehingga ia memilih menjual hasil panennya langsung ke pabrik kopi bubuk dan kopi instan.
Tentu saja pandangan Slamet terhadap reputasi kopi Indonesia bukan omong kosong belaka. Penulis Jalan Menuju Kopi JawaPrawoto Indarto yang menelusuri perjalanan kopi dari Jawa hingga ke seluruh penjuru dunia pada abad ke-18 membenarkan bahwa kopi Jawa menjadi merek yang sangat populer di Eropa.
“Kopi yang ditanam di Jawa dibawa oleh Belanda pada awal abad ke-18 dan mendapatkan harga lelang tertinggi, ketika pasar Eropa mendominasi jauh sebelum orang Eropa mengenal kopi Brazil, Guatemala, dan India,” kata Prawoto.
“Kalau kopi dari Jawa menang lelang, itu wajar.”
Pada akhir abad ke-18, wabah penyakit menyerang perkebunan kopi di Pulau Jawa sehingga menyebabkan persediaan kopi semakin menipis. Untuk mengisi kesenjangan pasokan, pasar Eropa mengambil kopi dari Amerika Latin.
Namun nama Jawa sudah identik dengan produksi kopi Arabika terlezat. Jika Anda memeriksa kamus bahasa Inggris Kamus Oxford dan sejenisnya, definisi kata “Java” adalah “kopi”, misalnya “Saya sekarat untuk secangkir Java”, selain dari arti Java dan bahasa pemrograman komputer.
Di Amerika, kopi jawa juga menjadi favorit karena rasanya. Perusahaan teknologi perangkat lunak Sun Microsystems menggunakan nama Java untuk bahasa pemrograman komputernya dengan logo secangkir kopi panas. Pengembang program, James Gosling dan kawan-kawan, mengambil nama kopi favorit mereka.
Meski Indonesia saat ini hanya menduduki peringkat ke-4 produksi kopi dunia – dengan jumlah varietas Arabika terbanyak – kopi sepertinya identik dengan Pulau Jawa, bukan Brazil sebagai negara penghasil kopi terbesar di dunia, atau Kolombia atau Vietnam.
Terdapat sekitar 400 spesies dari genus Cofea, namun hanya sedikit yang telah dikembangkan secara komersial oleh manusia. Tiga yang paling populer adalah spesies Arabika, Canephora (terutama varietas Robusta) dan Liberica – ketiganya berasal dari Afrika.
Arabika (Typica) dikembangkan di Yaman (Mocha), Panama (Geisha), Jamaika (Blouberg), Brazil (Maragogype), India (Kent), Pulau Bourbon (Bourbon), serta Jawa dan Sumatera. Dari dua pulau di Indonesia tersebut, Arabika telah berkembang menjadi banyak varietas dan turunannya, antara lain Blawan, Pasumah, Berdendal, Garundang, Rasuna, Kartika dan Andungsari. Catatan pertama tentang kopi dibuat oleh Carl Linnaeus, “Bapak Taksonomi” asal Swedia. pada tahun 1753 Saat itu kopi sudah populer di jazirah Arab, sehingga spesies yang ditemukannya diberi nama varietas Cofea Arabica Typica. Pada tahun 1792 spesies Cofea Liberica ditemukan di Sierra Leone dan pada tahun 1857 varietas Cofea Canephora ditemukan di Kongo.
Sayangnya, kesuksesan kopi Jawa di luar negeri tidak serta merta membuat kesejahteraan para petani kopi juga meningkat. Masih banyak petani yang enggan mencari cara dalam mengolah hasil panennya untuk menaikkan harga jual komoditas
Rata-rata, mereka memilih untuk menjual ceri merah kepada petani lain, pengepul, atau menjadi pemasok ke pabrik kopi. Padahal, kalau mereka lebih sabar dan sedikit teliti dalam mengolahnya, maka akan jadi kacang hijau Kualitas premium, harganya bisa berkali-kali lipat lebih mahal.
“Makanya kami selalu mendorong para petani untuk tidak hanya memproduksi dan menjual buah kopi saja, tapi menjualnya dalam bentuk biji kopi siap sangrai,” kata Ayi yang kini memiliki tempat pengolahan biji kopi sendiri di Gunung Puntang.
Hal inilah yang dilakukan Suwondo, seorang petani kopi di Desa Plalangan, Lencoh, di lereng Merapi. Meski Madu Lencoh mulai populer di kedai kopi, namun belum banyak petani yang serius menggarap kopi sebagai agribisnis.
Seperti halnya di Gunung Puntang, warga Desa Lencoh yang sebagian besar mempunyai kebun kopi, lebih memilih membiarkan tanaman peninggalan Belanda itu dijadikan kopi organik, yakni tumbuh liar dan terabaikan. Saat musim buah, mereka tinggal mengumpulkan buahnya lalu menjualnya ke pengepul pabrik kopi dengan harga berkisar Rp6.000 – Rp7.000 per kilogram.
Di tangan Suwondo, buah kopi diolah menjadi kacang hijau dengan harga Rp 70.000 per kilogram. Sedangkan harga biji kopi sangrai (kacang digoreng ulang) Rp 250.000 per 800 gram.
“Jika petani ingin mendapat untung, paling tidak menjualnya dalam bentuk natura kacang hijautidak menuai hasil,” kata Suwondo. – Rappler.com