Kronologi Bentrokan Pilkada Intan Jaya
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Jumlah korban bertambah menjadi 3 orang, bukan 6 orang seperti yang diberitakan media massa
JAYAPURA, Indonesia – Bentrokan antara pendukung calon bupati dan calon bupati di Kabupaten Intan Jaya, Papua, terus memakan korban jiwa, menurut laporan. Hingga Minggu, 26 Februari, korban tewas dikabarkan bertambah menjadi 3 orang, sedangkan korban luka sekitar 600 orang.
Juru Bicara Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal mengatakan, jumlah korban meninggal dunia sebanyak 3 orang, bukan 6 orang seperti yang diberitakan media massa sebelumnya.
“Saya ingin mengoreksi pemberitaan yang kini berada di persimpangan jalan. Tiga korban meninggal,” kata Ahmad.
“Rinciannya, ada satu orang yang meninggal pada 23 Februari di lokasi perang. “Satu orang meninggal di RS Sugapa pada 25 Februari, dan satu lagi meninggal pada tanggal yang sama,” ujarnya.
Sebelumnya, tabrakan terjadi akibat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Intan Jaya, Papua, pada Jumat pagi, 24 Februari. Saksi mata menyebutkan, terjadi penyerangan antara massa pendukung paslon nomor urut 2, Yulius Tipagau-Yunus Kalabetme, dan massa pendukung petahana nomor urut 3, Natalis Tabuni-Yan Kobogoyauw.
Sehari sebelumnya, sekelompok massa juga merusak kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Intan Jaya. Mereka melemparkan batu dan kayu ke kantor.
Paulus Waterpauw, Irjen Pol Papua, mengatakan bentrokan kedua kubu disebabkan ketidakpuasan terhadap kinerja KPU setempat. “Ada sekelompok massa yang tidak puas kemudian terprovokasi untuk melakukan tindakan anarkis, perusakan, dan pembakaran,” kata Paulus.
Korban luka dievakuasi
Pada Minggu pagi, puluhan korban luka dilaporkan berhasil dievakuasi ke Nabire yang letaknya cukup dekat dengan Kabupaten Intan Jaya.
Ahmad mengatakan, puluhan korban bentrokan berhasil dievakuasi karena kondisi cuaca mendukung, sedangkan sisanya menunggu cuaca membaik.
“Mereka berhasil dievakuasi pada Sabtu lalu. Rencananya akan dilanjutkan pada Minggu ini, dua pesawat terbang menuju Sugapa, ibu kota Intan Jaya, namun karena faktor cuaca tidak bisa mendarat dan kembali ke Nabire, kata Ahmad.
Sementara itu, situasi di Intan Jaya dilaporkan kondusif pada Minggu pagi, setelah Irjen Pol Papua Irjen Pol Papua dan Pangdam Cenderawasih Mayjen Hinca Siburian, Irjen Pol Hinca Siburian, meminta pendukung calon untuk menahan diri.
Situasi hari ini terkendali. Pendukung calon diminta berhenti saling serang agar proses pilkada bisa kembali berjalan, kata Ahmad.
Soal pelaku pembunuhan dan pelaku tabrakan, kata Kamal, pihaknya masih melakukan penyelidikan. “Kami meminta keterangan beberapa orang untuk mengungkap pemicu tabrakan,” ujarnya.
Memicu tabrakan
Menurut Thomas Sendigau, anggota DPRD Papua, pemicu bentrok antar pendukung paslon adalah sikap KPUD yang menunda proses paripurna penghitungan dan penetapan perolehan suara. Oleh karena itu, masyarakat menduga penyelenggara tidak independen dan memihak salah satu pasangan calon.
“Hasil pilkada sudah diketahui. Paslon nomor urut 2 unggul dengan 2.945 suara, namun KPUD selalu menunda pleno rekapitulasi suara, sehingga masyarakat menilai KPUD sudah tidak independen lagi dan curiga ingin bermain-main dengan paslon nomor urut 3 yang mana petahana, ” dia berkata.
“Pada hari ketiga penundaan paripurna, ribuan pendukung nomor urut 2 datang ke kantor KPUD, dengan maksud menyaksikan langsung proses paripurna. Hanya saja KPUD ingin menundanya lagi sehingga menimbulkan kemarahan masyarakat, ujarnya.
“Puncaknya sore hari. Pada saat itu, waktu tunda akan berakhir. Kemudian datang rombongan pasangan calon nomor urut 3 dan menerobos masuk ke kantor KPUD serta menyita seluruh dokumen dan membawa kabur komisioner KPUD. “Masyarakat marah saat itu,” kata Thomas. —Rappler.com