• March 26, 2026

Kronologis Kasus Dugaan Pelecehan Anak dan Persalinan Jeremy Thomas

“Anak ini sangat trauma dan tidak mengerti apa-apa ketika tiba-tiba dia dipukuli, disiksa dan ditodongkan pistol ke kepala dan diborgol ke belakang dengan pakaian terbuka.”

JAKARTA, Indonesia —Pada Senin, 17 Juli, aktor Jeremy Thomas mendatangi Propam Polri, Jakarta Selatan, bersama pengacaranya, Yanuar Bagus Sasmito. Jeremy datang untuk melaporkan dugaan pengurungan dan penganiayaan terhadap putranya, Axel Matthew Thomas, oleh petugas polisi.

Berdasarkan keterangan Jeremy, Matthew disandera dan dipukuli oleh delapan orang yang mengaku staf Sat Narkoba Polres Bandara Soekarno Hatta.

Jeremy menceritakan, pada Sabtu, 15 Juli, putranya diantar oleh asisten rumah tangganya untuk dibawa ke Mal Pondok Indah. Tujuannya adalah untuk membawa baju ke teman yang bisa menjual baju.

Namun faktanya anak saya dirujuk ke Crystal Hotel melalui WA (Whatsapp) lalu tiba-tiba anak saya sudah menunggu di depan. mencekik dengan seseorang yang mulutnya berbau alkohol. Anak saya mengira itu perampokan dan melarikan diri. Kabur, dikejar dengan peluru tajam, dipukuli, memukul banyak orang,” kata Jeremy.

“Ada tiga sampai empat orang terdaftar ke mobil dan orang tersebut mengaku sebagai perorangan dan anak saya ditahan di Crystal Hotel. Orang yang mengantarkannya (asisten rumah tangga) berlari pulang untuk memberi kabar kepada saya. Sebagai orang tua, tentu saja saya mengambil sikap praktis dan taktis, saya langsung pergi ke hotel dan saya menemukan keanehan jawabannya. keamanan Hotel. Seperti seseorang menutupi.”

Jeremy kemudian melapor ke Unit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) untuk direspon cepat. Untungnya permintaan Jeremy langsung ditanggapi dengan baik dan bersama unit Jatanras, Jeremy berangkat ke Crystal Hotel. Di sana mereka kembali kesulitan menembus keamanan hotel.

“Saat itu kami sedang bersama pengacara dan tim Jatanras hendak memasuki gedung, saya melihat anak saya turun bersama beberapa orang. Jadi saya datang mendekat Kondisi anakku sudah babak belur.”

Jeremy juga meradang. Dia tidak dapat memahami siapa yang menganiaya Matthew, putranya. Saat ia mencoba bertanya mengenai pelaku kekerasan terhadap anaknya, tidak ada yang menjawab. “Tidak ada yang berbicara ketika saya memaksa dan mendorong mereka dan mereka mengaku sebagai petugas. Saya mengatakan kepada mereka: ‘Kalian para petugas tidak boleh menganiaya atau memukuli anak-anak yang masih berusia 19 tahun’.”

Saat dimintai identitasnya, rombongan orang tersebut menolak melayani Jeremy. Terakhir, bersama subunit Jatanras, Jeremy membawa Matthew. Jeremy yang marah dengan perlakuan tersebut akhirnya memutuskan untuk melaporkan kejadian tidak menyenangkan tersebut.

Bukankah karena narkoba?

Sebelumnya, berdasarkan penjelasan Kasubdit Kriminal dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Hendy F. Kurniawan, Axel ditangkap karena dugaan kepemilikan narkoba.

“Tidak ditahan, Satres Narkoba melakukan penangkapan atas dugaan kepemilikan narkoba,” kata Hendy.

Dalam pemeriksaan lebih lanjut, polisi kemudian mengetahui bahwa Axel diduga memesan obat-obatan jenis tertentu selamat berlima dari dua tersangka yang sebelumnya ditangkap polisi. Axel merupakan satu dari lima pembeli yang diketahui melakukan pembelian selamat berlima dari dua tersangka yang ditangkap pada Jumat, 14 Juli, di Bandara Soekarno Hatta.

(BACA JUGA: Diduga Beli Narkoba, Putra Jeremy Thomas Dianiaya Petugas Polisi)

Namun sepertinya Jeremy tidak menyukai tuduhan polisi dan membantah pernyataan mereka. “Anak saya diborgol, dan borgol itu bukan borgol polisi, tapi milik saya keamanan dari hotel. anak saya menunjuk ke pistolnya terpaksa mengaku padahal itu anak saya dan membutuhkan saya tampak– Kanan? Dia tidak ditangkap karena narkoba tapi disuruh dan dipaksa mengaku dan nyatanya tidak ada bukti apapun. Dia tampak dan jangan terjebak dalam nama barangnya.”

Karena dianggap murni dan polos menurut Jeremy, Matthew dipulangkan bersamanya. Sayangnya, bahkan setelah diduga diserang dan ditawan, Matthew kembali tanpa membawa barang pribadinya. “Axel pulang dengan memakai sandal hotel dan pakaian yang bukan lagi pakaiannya telepon berjalan sudah tidak ada. Tindak pidana yang kami laporkan adalah penyekapan, pemukulan, penganiayaan dan pengambilan serta pencurian barang secara paksa dan kini kami coba laporkan ke Propam, kata Jeremy.

Trauma psikologis

Pasca kejadian tersebut, keluarga Jeremy Thomas cukup terguncang. Hingga kini Axel masih dirawat di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan. Dari foto-foto Axel yang beredar di media sosial, terlihat kondisi wajahnya cukup serius dengan sejumlah bekas luka.

Ditanya mengenai kondisi kesehatan fisik dan mental Axel saat ini, Jeremy mengungkapkan bahwa putranya pernah mengalami trauma psikologis. “Anak ini trauma sekali dan tidak memahami sesuatu yang tiba-tiba dipukuli, disiksa dan menunjuk ke pistol di kepalanya dan diborgol ke belakang dengan pakaian terbuka,” kata Jeremy, yang juga melakukan pemeriksaan post-mortem pada Axel.

Hasil visum yang dilakukan Jatanras di RS Cipto Mangunkusumo pun tertuang dalam laporan Jeremy ke Propam Polri. Tak hanya di bagian wajah, beberapa luka dan luka juga terjadi di bagian lutut, punggung, kepala, dan tulang rusuk Axel.

“Saya akan menghadapi sikap brutal dan maniak ini sebagai orang tua. Axel tidak mengakuinya dan tidak bisa membuktikan tuduhan pemaksaan mereka. Kami juga berencana untuk mempekerjakan manajer dan keamanan Hotel yang dimaksud mengizinkan pengurungan ini.” —Rappler.com

Keluaran Sydney