Kualitas pemain asing tidak sesuai harapan
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Benarkah manajemen Persib terlalu mencampuri tugas Djadjang Nurdjaman?
JAKARTA, Indonesia – Djadjang Nurdjaman akhirnya lengser dari kursi panas pelatih Persib Bandung. Pelatih yang lama membesut Maung Bandung itu merelakan kursinya.
Padahal, Djadjang sangat identik dengan Persib. Sejak tahun 2012, ia melatih tim kebanggaan warga Bandung tersebut. Sejumlah pihak menduga mundurnya Djadjang karena campur tangan manajemen. Mereka terlalu mencampuri tugas Djadjang.
Alhasil, Djadjang rupanya tak nyaman. Bukan hanya karena perbedaan pendapat dengan manajemen, keputusan teknis manajemen juga harus dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Dalam perekrutan dua pemain asing, Carlton Cole dan Michael Essien misalnya. Peran manajemen cukup dominan dalam transfer kedua pemain yang sudah lama bermain di Inggris tersebut.
“Saya tak bisa bicara. Itu sesuatu yang (sudah) berakhir. Namun, saya mendapat tawaran untuk nama itu, dan saya yakin mereka masih bagus. Hanya saja penilaiannya ternyata kurang tepat.” masih baik-baik saja dan Cole cukup parah,” kata Djadjang.
Namun Djadjang enggan berkomentar bahwa keputusan mundur tersebut merupakan akibat campur tangan manajemen yang terlalu dalam. “Saya tidak ingin berkomentar mengenai hal itu,” ujarnya.
Djadjang sebenarnya melakukannya rekam jejak yang bagus di Persib. Pasalnya, ia merupakan pelatih yang membesut tim berjuluk Maung Bandung itu sejak 2012.
Setiap tahunnya Djadjang nyaris tak pernah lalai memberikan gelar pada Maung. Pertama, pada tahun 2012, ia langsung ditugaskan membentuk tim untuk persiapan ISL 2013 agar bisa mengikuti Piala Celebes. Hasilnya, Persib menang.
Di ISL, Persib mampu finis di posisi keempat, lebih baik dari sebelumnya di posisi delapan besar. Performa 4 besar tersebut dibarengi dengan rekor 18 kali menang, sembilan kali seri, dan tujuh kali kalah.
Kenaikan peringkat turut andil manajemen dalam kontrak Djadjang. Ia dipercaya menangani Maung Bandung satu musim lagi. Alhasil, kepercayaan itu dijawab Djadjang dengan menjadikan Persib juara.
Istimewanya, Djadjang mengantarkan Persib menjadi juara dengan catatan hanya sekali kalah dalam satu musim. Rekornya adalah 18 kali menang, enam kali imbang, dan satu kali kalah. Sayangnya perolehan trofinya tak bertambah pada musim itu, karena pada ajang pramusim Piala Antar Pulau, Maung Bandung hanya menjadi runner-up.
Pada musim 2015 kompetisi terpaksa dihentikan. Padahal, pada era tersebut, Persib berhasil mencatatkan dua kemenangan di kompetisi ISL. Jadi, banyak turnamen yang digelar setelah PSSI dibekukan.
Persib mampu meraih gelar juara di Piala Presiden 2015. Mereka tim yang fantastis karena tidak pernah kalah dari babak penyisihan grup hingga menjadi juara. Namun penampilan Persib di Piala AFC kurang menggembirakan. Meski mampu lolos ke fase grup, perjuangan Persib di babak 16 besar terhenti.
Setelahnya Djadjang memilih belajar di Internazionale Milan dan digantikan Dejan Antonic. Namun performa Persib sempat buruk di ISC A saat manajemen meminta Djadjang kembali melatih.
Menangani tim sejak pekan kesembilan, Djadjang membawa Persib meraih peringkat 5 ISC A 2016. Sebanyak 13 kemenangan, enam kali imbang, dan tujuh kekalahan menjadi rekor Djadjang saat menangani Persib di sisa 26 pertandingan usai dilatih Dejan.
Pada 2017, Persib gagal mempertahankan Piala Presiden dan hanya finis di peringkat ketiga. Di liga, Maung Bandung hanya duduk di posisi ke-12 sehingga membuatnya memilih mundur. Setelah pihak manajemen meminta mundur pada Juni lalu dan ditolak pihak manajemen, pihak manajemen kini tak bisa lagi menghentikan niat pelatih berusia 59 tahun itu untuk mundur. —Rappler.com