Lukisan sedih anak pencari suaka
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Tiga pasang tangan terlihat memegang kawat berduri. Tangannya seolah ingin bertahan meski durinya menusuk dan menyilang di sela-sela jari.
Dengan latar belakang hitam abu-abu merah muda, lukisan itu menunjukkan betapa kelamnya sang pelukis menggambarkan penderitaan sang pemilik tangan.
Apa makna di balik genggaman tangan ini? Parisa Naemi (17 tahun), sang pelukis, menjelaskan hal itu kepada Rappler pada acara Hari Pengungsi Sedunia yang digelar Senin, 20 Juni di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta.
Gadis pencari suaka asal Afganistan ini mengatakan, tangan para pengungsi lah yang mengalami dilema.
“Jika mereka tetap tinggal di negaranya, itu akan lebih berisiko. Tapi kalau dia ke negara lain, sakit juga. “Tapi rasa sakitnya tidak separah jika kamu tinggal di negaranya,” kata Naemi.
Lukisan itu juga merupakan cerminan dari apa yang dialami rekan-rekan pengungsinya.
Naemi mengatakan dia berasal dari Afghanistan dan pindah ke Iran bersama orang tuanya karena perang saudara di negara asalnya. Seperti pengungsi lainnya, dia tidak serta merta menemukan kebebasan dan ketenangan pikiran di Iran. Ia mengaku tidak bisa mendapatkan haknya seperti warga asli Iran.
Misalnya hak atas pendidikan. “Karena kami orang Afghanistan yang tinggal di Iran, kami tidak bisa melanjutkan ke universitas. Kita tidak bisa melanjutkan ke sekolah menengah. “Mungkin bisa, tapi sampai SMA,” akunya.
Mengapa? “Karena kami pengungsi,” kata Naemi.
Oleh karena itu, enam bulan lalu ia dan keluarganya memutuskan untuk menaiki kapal untuk menyeberang ke Indonesia melalui Malaysia dengan harapan mendapatkan suaka di negara yang lebih bersahabat dan memberikan kesempatan baginya untuk menuntut ilmu.
Lukisan lain yang tak kalah mengejutkan, seperti lukisan perempuan berjilbab merah dengan wajah berlumuran darah dan tangan laki-laki dengan jari menempel di depan mulut.
Menurut pelukis Sadaf Mudaber (18 tahun), ini adalah lukisan kemarahannya terhadap budaya di negaranya, Afghanistan. “Ini adalah tangan seorang pria yang ingin mengatakan berhenti. “Pria ini ingin wanitanya diam dan tenang,” ucapnya Mudaber.
Ia sengaja mengambil tema kekerasan terhadap perempuan dalam lukisannya. Meski masih anak-anak, pandangannya terhadap hak-hak anak perempuan di negara asalnya cukup tajam.
“Semua kekuasaan ada di tangan rakyat. Wanita tidak bisa berbuat apa-apa. “Kami tidak bisa mengambil keputusan,” kata gadis yang pernah tinggal di Kabul, ibu kota Afghanistan.
“Perempuan tidak bisa meninggalkan rumah dan tidak bisa mendapatkan pekerjaan, kita sulit mengambil keputusan tentang hidup kita sendiri. “Semuanya diputuskan oleh ayah atau saudara laki-lakinya,” kata Mudaber.
Ketika Rappler mengatakan pendapatnya mirip dengan pandangan seorang feminis atau pejuang perempuan, dia mengatakan dia tidak tahu apa-apa tentang feminisme. Lalu bagaimana dia mewujudkan hak-hak perempuan di negaranya?
“Saya tidak membaca buku feminisme atau membiarkan seseorang mengajari saya, saya hanya melihat sekeliling saya. Saya merasakannya, saya mengetahuinya, itu wajar,” ujarnya.
Ia mengaku sudah tidak bisa lagi mentolerir kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Afghanistan, dan betapa berkuasanya laki-laki di tanah kelahirannya.
Karena itulah ia ingin “membalas dendam” atas ketidakadilan yang terjadi di negaranya. Suatu hari dia ingin menjadi pengusaha sukses dan menghasilkan uang sendiri. Kemudian memberikan pekerjaan kepada perempuan di Afghanistan.
“Saya tidak mau menerima uang dari kakak atau ayah saya, saya ingin mencari uang sendiri,” ucapnya tegas.
Beruntung cita-cita Mudaber mendapat dukungan dari orang tuanya yang selama ini berpikiran terbuka. Apalagi ini tahun 2016, harus ada keadilan antara perempuan dan laki-laki, ujarnya.
Kisah duka lainnya diceritakan oleh Muhaddisa Naemi, gadis 12 tahun asal Afghanistan yang juga mencari suaka.
![]()
Dalam lukisannya terdapat gambaran sebuah keluarga yang nyaris sempurna, setidaknya menurutnya. Seorang ayah, ibu dan dua anak. Sang ibu menggendong bayi dan sang ayah membawa koper.
Namun koper yang dibawa bapak rusak, barang berserakan dimana-mana. Barang-barang ini disebut negara, pengetahuan, keluarga, rumah dan budaya.
Kepada Rappler, Muhaddisa menjelaskan maksud dari barang-barang tersebut. “Karena pergi ke luar negeri, mereka harus kehilangan tanah air, ilmu (sekolah), keluarga, rumah, dan budaya,” ujarnya.
Sementara itu, perjalanan mereka menuju tempat yang lebih baik tidak berjalan mulus. Dalam lukisan tersebut, tembok tinggi digambarkan sebagai pembatas.
Menurutnya, tembok tersebut memberikan gambaran bahwa tidak semua negara tujuan pengungsi siap menerima mereka.
Muhaddisa mengaku heran mengapa hal itu bisa terjadi, padahal para pengungsi telah kehilangan segalanya dalam hidupnya. Masa depan tidak jelas.
Ketidakjelasan ini berdampak pada semua pengungsi. Padahal, kata dia, pengungsi hanya ingin hidup bebas dan damai. “Mereka hanya ingin bisa belajar, bebas dan hidup damai,” ujarnya.
Lukisan terakhir yang dilihat Rappler adalah lukisan Masooma Rafie yang berusia 13 tahun, yang juga seorang pencari suaka asal Afghanistan.
![]()
Dia menggambar sebuah keluarga yang melarikan diri dari kejaran tentara Taliban yang siap mengincar kepala para pelarian tersebut.
Namun saat mereka berlari, keluarga ini kembali terhalang tembok. “Taliban harus melepaskan mereka, mereka ingin hidup damai,” katanya Rafia.
Perburuan Taliban terhadap para pengungsi ini membuatnya sedih. “Mereka suka berkelahi dengan orang beragama, Muslim atau bukan,” ujarnya.
Penderitaan di negaranya akibat Taliban menyadarkannya bahwa ia harus belajar dan menjadi orang hebat di masa depan. Dia ingin melakukan sesuatu. “Saya ingin belajar, saya ingin menjadi orang hebat dan mengenyam pendidikan tinggi,” ujarnya antusias.
Lukisan-lukisan di atas hanyalah empat dari puluhan lukisan karya anak-anak pengungsi. Masih banyak lukisan tak biasa yang dipajang di Hari Pengungsi Sedunia.
Mereka semua menyampaikan pesan yang sama, mereka kecewa dengan kondisi negaranya dan ingin hidup damai. Lalu mereka kabur, namun masa depan mereka masih abu-abu.
Selagi mereka menghabiskan masa mudanya dengan melukis, anak-anak pengungsi ini menunggu negara yang mau menerima mereka.
Permintaan mereka tidak besar, hanya satu: “Kami tidak memilih negara mana, kami hanya ingin hidup damai. “Tidak masalah negara mana, asalkan kita memiliki masa depan yang baik dan tidak hidup dalam ketakutan,” kata Mudaber. —Rappler.com