Mahasiswa Papua di Yogyakarta menolak kehadiran anggota DPR
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Mahasiswa Papua lebih memilih berbicara kepada tim khusus yang dijanjikan DPR akan dibentuk untuk mengusut pengepungan asrama oleh polisi
YOGYAKARTA, Indonesia – Salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Yanni mengunjungi Asrama Mahasiswa Papua Kamasan I di Yogyakarta pada Selasa pagi, 19 Juli. Alasan kedatangan legislator Partai Gerindra itu atas nama pribadinya.
Yanni datang bersama seorang staf untuk mendapatkan informasi langsung dari mahasiswa tentang pengepungan yang dilakukan aparat keamanan pekan lalu. Yanni mengaku, saat kejadian, dirinya sedang berada di Jakarta dan hanya mengetahui informasi dari media sosial.
Makanya saya ingin melihatnya langsung (di Yogyakarta), kata Yanni.
Namun kedatangan Yanni tidak disambut hangat oleh mahasiswa Papua. Mereka menolak memberikan informasi mengenai pengepungan tempat tinggal pekan lalu.
Mahasiswa Papua lebih memilih buka suara jika anggota DPR yang datang merupakan tim khusus untuk mencari fakta penyerangan asrama.
“Apakah kedatangan ini bagian dari tim itu?” salah satu siswa bertanya pada Yanni.
Siswa lainnya, Roy Karoba, mengaku memilih menunggu tim khusus datang baru menceritakan kejadian tersebut. Alasan lain mahasiswa Papua kecewa terhadap Yanni adalah karena perwakilan mahasiswa menyampaikan laporan adanya indikasi diskriminasi terhadap mahasiswa Papua di Yogyakarta pada Maret lalu. Namun laporan tersebut hingga saat ini tidak pernah ditindaklanjuti oleh DPR Papua.
Roy mengatakan DPR Papua tidak terlalu memperhatikan kondisi mereka di Yogyakarta. Bahkan, warga Yogyakarta dinilai lebih peduli terhadap mahasiswa Papua dibandingkan wakil rakyatnya sendiri.
Padahal mereka (warga Yogyakarta) peduli tanpa harus menjadi orang Papua, kata Roy.
Lantas bagaimana reaksi Yanni setelah ditolak mahasiswa Papua? Ia mengaku bisa memahami kekecewaan tersebut. Namun hal tersebut tidak menyurutkan tekadnya untuk mengumpulkan informasi mengenai pengepungan kediaman Kamasan I.
Yanni rencananya akan bertemu dengan Kapolda DIY, anggota DPRD, bahkan gubernur. Ia berjanji akan menggali informasi lebih lanjut kepada Kapolda jika pengepungan rumah tersebut merupakan perintah Kapolri.
Ia menilai sikap diskriminatif terhadap warga Papua di Yogyakarta, termasuk pengepungan asrama, merupakan persoalan serius. Yanni berharap isu SARA dan dampak pengepungan tidak meluas karena banyak mahasiswa Papua yang bersekolah di Yogyakarta.
Agar mereka bisa belajar dengan tenang dan tidak terlibat dalam politik,” ujarnya.
Berdasarkan informasi dari Presiden Mahasiswa Papua di Yogyakarta, Aris Yeimo, saat ini terdapat sekitar 8.000 warga Papua yang menuntut ilmu di Yogyakarta. Sebanyak 50-60 orang diantaranya tinggal di Asrama Papua Kamasan I di Kota Yogyakarta.
Selain di Kamasan I, mahasiswa Papua juga tinggal di asrama lain. 4 asrama berada di kawasan Condong Catur dan 3 asrama lainnya berada di kawasan Babarsari Kabupaten Sleman.
“Itu adalah tempat tinggal permanen. “Tapi banyak juga yang tinggal dan menyewa rumah,” kata Aris. – Rappler.com
BACA JUGA: