• March 21, 2026
Mahasiswa UB mencopot spanduk anti PKI dan anti LGBT

Mahasiswa UB mencopot spanduk anti PKI dan anti LGBT

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Mahasiswa menduga pemasangan spanduk tersebut merupakan selingan isu rencana UB menjadi Universitas Badan Hukum.

MALANG, Indonesia – Mahasiswa akhirnya melepas spanduk yang dipasang di dinding gedung FISIP Universitas Brawijaya. Spanduk tersebut bertuliskan “Penyakit LGBT”, “Anti LGBT”, “Hindari Ideologi PKI”, “Hentikan PKI” dan “Waspada Kebangkitan PKI”.

Spanduk berlatar belakang hitam bergambar palu arit menarik perhatian mahasiswa dan dipasang di atas pintu lift gedung FISIP. Keberadaan spanduk ini pun menjadi perbincangan di media sosial.

Salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi, Widodo, mengaku awalnya melihat spanduk tersebut dipasang di lantai 1, namun kemudian spanduk tersebut dipindahkan ke lantai 4, namun kini spanduk tersebut telah dilepas oleh para mahasiswa.

Menurutnya aneh spanduk seperti itu tiba-tiba dipasang di kampus. Ia menduga ada upaya untuk mengalihkan persoalan tertentu, salah satunya terkait persiapan dan rencana UB menjadi Universitas Negeri Badan Hukum (PTNBH).

Aneh jika kampus FISIP menganjurkan mahasiswanya menjauhi satu ideologi tertentu, kata Widodo.

Sedangkan dalam bidang kajian ilmiah, semua ideologi bisa dipelajari. Menurutnya, pemasangan spanduk tersebut memalukan dan justru menandakan mentalitas pengurus kampus masih terpengaruh orde baru.

Reaksi Dekan

Sementara itu, Dekan FISIP Universitas Brawijaya Malang, Unti Ludigdo, menanggapi spanduk anti PKI dan LGBT menjelaskan, mahasiswa bisa menimba ilmu di berbagai aliran pemikiran ilmiah dan ideologi. Faktanya, siswa diajarkan semua aliran ilmu pengetahuan dari perspektif Barat, Asia, kritis, postmodern dan positif.

“Aliran ilmu tersebut dikaji sebagai landasan teori dalam menganalisis fenomena sosial,” kata Unti.

Selain ilmu tersebut, FISIP Unti juga terus mengajarkan berbagai ideologi seperti kapitalisme, sosialisme, komunis, liberal, nasionalis, dan ultranasionalis. Mereka juga tidak lupa mempelajari ideologinya sendiri yaitu Pancasila.

Unti mengatakan, Pancasila merupakan mata pelajaran wajib yang harus diambil semua mahasiswa, termasuk mahasiswa dari luar negeri. FISIP juga mengajarkan kebebasan berpendapat.

“Mengekspresikan pandangan dan pendapat adalah hak setiap individu. Tapi kita harus bertanggung jawab,” ujarnya lagi.

Terkait spanduk berisi teks anti PKI dan anti LGBT, Uni menilai hal tersebut merupakan ungkapan biasa.

“Pesannya baik dan mengajak untuk mengamalkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur ideologi Pancasila. Namun media dan ruangnya tidak tepat sehingga menimbulkan kontroversi, ujarnya.

Oleh karena itu, ia meminta mahasiswa menggunakan media dan ruang komunikasi yang tepat. Sebelumnya, pada tahun 2014, FISIP Universitas Brawijaya melarang penayangan film Senyap atau The Look of Silent.

Kebijakan yang dianggap restriktif ini kembali terulang pada tahun 2015 ketika Fakultas Ilmu Administrasi melarang penayangan film Samin vs Semen. Pada tahun yang sama, Rektor Universitas Brawijaya melarang mahasiswanya mengadakan diskusi bertema LGBT. – Rappler.com