• March 23, 2026
Malala, Batman Dari Mingora

Malala, Batman Dari Mingora

Tentu kita mengenal kisah seorang miliarder yang memiliki segalanya: kekayaan, tahta, kemakmuran dan wanita, namun lebih memilih keluar malam dibandingkan tidur nyenyak di ranjang super empuk, untuk memberantas kejahatan dan membela apa yang menurutnya benar.

Manusia biasa: tidak lebih kuat dari yang terkuat, tidak lebih cepat, tidak lebih pintar, mungkin hanya sedikit lebih berani dan sedikit lebih banyak uang. Namun lebih dari itu, sifat kemanusiaannya tidak menghalanginya untuk berbuat lebih banyak: menjadi pahlawan bagi banyak orang.

Pahlawan, artinya sederhana. Bagi saya, pahlawan adalah orang yang rela mengorbankan kenyamanan dirinya hanya agar orang lain yang membutuhkan bisa merasakan kenyamanan yang sama dengannya.

Jadi Bruce Wayne, miliarder tampan asal Gotham City, bisa dikatakan sebagai pahlawan. Batman hanyalah kepribadiannya. Dia tidak perlu sekuat itu manusia unggul atau sesegera mungkin Kilat untuk disebut pahlawan.

Dengan definisi sederhana versi saya ini, kita dapat menemukan seseorang yang layak diberi label “pahlawan” pada siapa pun: penjaga keamanan ATM, petugas kebersihan, petugas pengantar makanan, guru, dan orang lain. Termasuk gadis-gadis muda yang tinggal di desa-desa terpencil di negara-negara kelas tiga.

Dunia mengenal Malala Yousafzai, seorang gadis muda asal Mingora, sebuah kota kecil di barat laut Pakistan, yang pantas diberi label sebagai “pahlawan pendidikan anak”. Sejak usia dini, gadis ini mengorbankan kenyamanannya untuk memperjuangkan apa yang menurutnya tepat untuk dirinya dan teman-temannya: bersekolah.

Malala memulai perjuangannya sejak tahun 2008, saat ia baru berusia 11 tahun. Kegiatan perjuangannya ia lakukan dengan menuangkan gagasannya di kota-kota seperti Peshwar, Pakistan. Ia pun menulis surat yang menceritakan tentang kondisi yang ia dan teman-temannya alami selama pendudukan Taliban di kota tempat mereka tinggal. Kegiatan tersebut pun menuai banyak dukungan dan membuat dunia internasional menyoroti kondisi yang dialaminya dan kawan-kawan. Usahanya mulai membuahkan hasil.

Namun melawan ketidakadilan tidaklah mudah, seperti halnya Martin Luther King dan Nelson Mandela, atau Wiji Thukul dan Munir Said Ali, perjuangan Malala juga berakhir dengan penyakit. Ia dan keluarganya mendapat banyak teror dan ancaman pembunuhan karena perjuangan yang dilakukan melawan diskriminasi pasukan Taliban yang melarang anak perempuan Pakistan bersekolah. Tanpa rasa takut, dia melanjutkan perjuangannya. Hingga puncaknya pada tahun 2012, ketika ia ditembak oleh anggota Taliban yang hampir membunuhnya.

Kejadian ini sontak menjadi berita yang membuat heboh hampir seluruh belahan dunia. Gelombang kritik dan protes terhadap Taliban, serta dukungan terhadap perjuangan Malala, turut mendorong Pakistan untuk menjamin hak bersekolah sebagai hak asasi bagi seluruh anak perempuan di Pakistan.

Usai pulih dari koma panjang, sosok Malala pun jadi pusat perhatian. Bahkan, saya yakin setelah kejadian memilukan ini usai, Malala menjadi pusat perhatian dunia dan mendapat banyak hal, mulai dari penghargaan perdamaian yang kembali diterimanya, tawaran membuat buku, hingga menjadi pembicara di acara temu pemuda, yang mana tentu saja memberinya umpan balik yang baik dan ketenaran serta uang yang memungkinkan dia untuk hidup nyaman, tetapi anehnya dia lebih memilih untuk duduk kembali di kursi penjara. melanjutkan apa yang dia mulai.

Saya pribadi tidak bisa memastikan apakah Malala pernah membaca ide-ide pemikir besar seperti Konfusius, Mahatma Gandhi, atau Hellen Keller. Namun yang jelas ide-ide para pemikir besar tersebut tumbuh dalam dirinya dan menjadi bahan bakar bagi Malala untuk terus memperjuangkan hak-hak anak, khususnya perempuan, untuk mencapai pendidikan.

Kini nama Malala Yousafzai bukan lagi sebuah nama yang terlihat biasa saja. Inilah nama seorang gadis muda yang menerima Hadiah Nobel Perdamaian termuda dalam sejarah, serta segudang penghargaan lainnya di bidang perdamaian dan perlindungan hak-hak anak. Nama Malala kini menjadi simbol perjuangan melawan ketidakadilan dan kemiskinan yang merampas hak pendidikan anak-anak.

Yang membuat kisah dan pengalaman hidup Malala begitu mengharukan bukan karena keunikannya, melainkan karena hal tersebut masih sering terjadi. Masih ada jutaan anak di luar sana yang belum bisa mendapatkan hak atas pendidikan. Karena kehilangan hak atas kehidupan yang aman dan nyaman, mereka terpaksa meninggalkan rumah dan meringkuk dalam kesedihan di kamp pengungsian.

Di negara kita tercinta, hal serupa juga terjadi. Masih banyak anak-anak, khususnya anak perempuan, yang masih belum bisa mendapatkan haknya untuk bersekolah. Alasannya bermacam-macam, mulai dari alasan klasik karena tidak punya uang, hingga alasan yang absurd: dipaksa menikah.

Jadi yang diperjuangkan Malala bukan lagi persoalan Malala saja, bukan lagi persoalan masyarakat di daerah konflik dan pengungsian saja. Hal ini juga menjadi permasalahan bagi seluruh masyarakat yang hidup di lingkungan yang kental dengan budaya patriarki, yang masih berpikir mundur: bahwa pendidikan bukanlah hak anak, melainkan pilihan. Pilihan orang tuanya.

Bayangkan saja, dunia ini ibarat kota khayalan yang diciptakan oleh Bob Kane dan kawan-kawannya, Gotham City. Sebuah kota dengan peradaban dan kota metropolitan yang maju, tetapi sangat korup. Kacau. Penuh dengan pemimpin yang tidak kompeten, hukum yang bisa dibeli, orang miskin yang malas berusaha, dan orang kaya yang tidak mau membantu.

Namun keadaan mulai berubah ketika salah satu pemuda warga memutuskan untuk bangkit dari kursinya yang nyaman dan mengambil senjata: pulpen dan pulpen. Ia mengutarakan gagasannya untuk melawan ketidakadilan yang menimpa banyak orang. Awalnya suaranya kecil, dia sendirian, namun kini suaranya terdengar dari segala penjuru dan menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal serupa.

Ia tidak mengenakan gamis atau topeng, namun wajahnya menjadi simbol perdamaian dan perlindungan hak asasi manusia bagi anak dan perempuan. Maka seperti Batman dan kawan-kawan, Malala mewariskan gagasan abadi tentang kepahlawanan kepada generasi penerus.

—Rappler.com

Muhammad Harvan merupakan mahasiswa Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. Saat ini sedang magang di Rappler Indonesia

Result Sydney