Massa menyerbu rumahnya, curhat SBY di Twitter
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
“Saya bertanya kepada Presiden dan Kapolri, apakah saya tidak punya hak untuk tinggal di negara saya sendiri?”
JAKARTA, Indonesia – Sekitar 500 orang menyerbu kediaman mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan sekitar pukul 14.30 WIB pada Senin sore.
“Mereka berpidato di sana. Sekarang sudah dibubarkan secara paksa,” kata Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Iwan Kurniawan, Senin 6 Februari 2017.
Aksi demonstrasi tersebut diketahui dari cuitan SBY di akun Twitter miliknya. “Saudara-saudaraku yang cinta hukum dan keadilan, saat ini rumahku di Kuningan “dirampok” ratusan orang. Mereka berteriak. *SBY*” tulis SBY, Senin 6 Februari 2017.
Saudaraku yang cinta hukum dan keadilan, saat ini rumah saya di Kuningan “dirampok” ratusan orang. Mereka berteriak. *SBY*
— SB Yudhoyono (@SBYudhoyono) 6 Februari 2017
Menurut penuturan SBY, demonstrasi tidak boleh menyasar rumah-rumah pribadi. Selain itu, dia juga mengatakan belum ada informasi apapun dari polisi terkait aksi demonstrasi tersebut. “Kecuali negaranya telah berubah. Undang-undang tidak mengizinkan demonstrasi di rumah-rumah pribadi. Polisi juga tidak memberitahuku. *SBY*,” tulis SBY lagi.
Kecuali jika negara bagiannya berubah, undang-undang tidak mengizinkan demonstrasi di rumah-rumah pribadi. Polisi juga tidak memberitahuku. *SBY*
— SB Yudhoyono (@SBYudhoyono) 6 Februari 2017
Lebih lanjut, SBY bahkan menyebut Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. “Saya bertanya kepada Presiden dan Kapolri, bukankah saya punya hak untuk tinggal di negara saya sendiri, dengan hak asasi manusia yang saya miliki?” tulis SBY.
Saya bertanya kepada Presiden dan Kapolri, bukankah saya berhak hidup di negara saya sendiri, dengan hak asasi manusia yang saya miliki? *SBY*
— SB Yudhoyono (@SBYudhoyono) 6 Februari 2017
Para pengunjuk rasa datang dengan 11 bus besar dan 2 kopaja. Mereka antara lain membagikan pamflet yang bertuliskan “Tolak dan lawan isu SARA dan segala upaya mengadu domba” dan “Tolak dan lawan Organisasi Radikal Anti Pancasila”. Mereka kemudian berpisah sekitar pukul 14.45 WIB. —Rappler.com