• March 22, 2026
Megibung, tradisi mempererat persahabatan umat Islam di Bali

Megibung, tradisi mempererat persahabatan umat Islam di Bali

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Dahulu, tradisi megibung dipertahankan untuk mempersatukan umat Islam agar tidak mudah terpecah belah oleh penjajah Belanda.

BALI, Indonesia – Umat Islam di Bali memiliki tradisi yang diwariskan secara turun temurun dan diyakini dapat mempererat hubungan antar umat beragama. Tradisi ini disebut “Megibungan”. Diambil dari kosakata bahasa Bali, Megibungan artinya makan bersama dalam satu wadah.

Tradisi ini masih dipertahankan oleh umat Islam di Kampung Islam Kepaon, Denpasar. Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan buka puasa di Masjid Al-Muhajirin. Megibungan dilakukan setiap kelipatan 10 hari pada bulan Ramadhan. Artinya Megibung bisa dilakukan tiga kali, yaitu pada hari ke 10, 20, dan 30 Ramadhan.

Rappler berkesempatan melihat langsung tradisi ini pada Rabu, 15 Juni. Salah satu tokoh masyarakat, H. Ishaq Ibrahim mengatakan, tradisi ini berawal ketika agama Islam masuk ke Bali. Saat itu, umat Islam dari berbagai suku seperti Melayu, Jawa, Madura, Bugis, dan Lombok menetap di Pulau Dewata.

“Kemudian mereka berpikir untuk menyatukan diri. “Komunitas seperti itu sudah tercipta,” kata Ishaq yang ditemui Rabu pekan lalu saat pelaksanaan tradisi Megibungan.

Salah satu program kerja himpunan ini adalah menyelesaikan Al-Quran setiap bulan Ramadhan.

“Kalau kita baca Alquran dulu, kita syukuran,” ujarnya.

Dari sana, jumlah anggota komunitas terus bertambah. Kini, setiap hari raya syukuran dirayakan dengan makan bersama.

“Makan bersama itu yang namanya megibung,” kata Ishaq lagi.

Dijelaskannya, megibung bukan sekadar makan bersama. Tradisi inilah yang mempersatukan umat Islam Bali agar tidak mudah terpecah belah. Apalagi saat komunitas itu terbentuk, Indonesia masih dijajah Belanda.

“Kalau kita bersatu, Belanda akan sulit menghancurkan kita. “Jangan sampai kita terpecah belah, karena kita semua bersaudara,” ujarnya.

Lalu bagaimana cara megibung dilakukan? Ishaq menjelaskan, orang tua dan remaja duduk melingkar dalam kelompoknya. Satu kelompok terdiri dari 5-6 orang dan terdiri dari orang tua, remaja dan anak-anak.

Sebelum memulai, pengurus masjid mengawalinya dengan buka puasa bersama. Makanan dan minuman ringan disajikan terlebih dahulu untuk berbuka puasa.

Warga kemudian melaksanakan salat Maghrib dan barulah megibung dimulai.

Setelah mereka membaca doa bersama, makan malam pun diadakan. Tidak ada rasa jijik dan semua menu yang disajikan disantap dengan lahap.

Tradisi ini masih dilestarikan hingga saat ini. Bahkan sudah menjadi atraksi budaya. Tak sedikit warga yang menyempatkan diri untuk hadir dan menyaksikan proses megibung tersebut.

Setiap kali megibung dilaksanakan, panitia selalu mengikutsertakan generasi muda dan anak-anak. Sementara untuk menu makanan, warga secara sukarela memberikan sumbangan ke masjid.

Tradisi megibung ini nampaknya mendapat respon positif dari warga.

“Saya mengikuti tradisi megibung ini setiap tahunnya. “Sejak kecil orang tua saya mengajak saya ke masjid ini, dan akhirnya saya selalu ikut megibung,” ujar remaja bernama Sayuti.

Hal senada juga disampaikan bocah yang baru duduk di bangku kelas 5 SD, Muhammad Abdullah.

“Saya suka mengikuti megibung dan sudah mengikuti sejak saya kelas 1 SD,” ujarnya. – Rappler.com

BACA JUGA:

SDY Prize