Melepaskan Lucky Boy dan Titik ke alam liar
keren989
- 0
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus memantau populasi bekantan, satwa unik lokal yang dilindungi. Konflik dengan masyarakat dan kebakaran hutan menempatkan mereka pada risiko
BANJARMASIN, Kalimantan Selatan – Lucky Boy tampak kebingungan saat melihat ratusan orang di sekitarnya di Pulau Bakut, Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada Sabtu, 18 Februari.
Mata bekantan berusia tujuh tahun itu menyembul dari balik sangkar berjeruji. Di sampingnya ada tiga kandang serupa. Ada Titik, seekor bekantan betina berusia lima tahun; Mantuil, bekantan jantan berumur lima tahun; dan bekantan betina berumur lima tahun yang belum memiliki nama.
Beberapa saat kemudian, Siti Nurbaya Bakar memberinya nama Lola Amalia.
Lucky Boy dirawat di pusat karantina LSM Sahabat Bekantan sejak tahun lalu. Bekantan ini bermigrasi melintasi Sungai Barito akibat konflik dengan warga kawasan Anjir, provinsi Kalimantan Selatan. Warga melaporkan kedatangan bekantan tersebut ke Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat, yang kemudian mengevakuasinya.
Kisah hidup yang dialami oleh poin lain adalah poin lain. Bekantan ini berasal dari hutan dekat Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum, Kabupaten Banjar. Titik ditemukan terluka parah di dekat jalan utama sana pada tahun 2015.
Nampaknya Titik ditabrak mobil saat melintasi Tol Gubernur Subarjo. Point ketakutan dan menyeberang jalan karena saat itu sedang terjadi kebakaran hutan dan lahan. Satwa ini kemudian dirawat dan direhabilitasi oleh LSM Sahabat Bekantan Indonesia untuk dikembalikan ke habitatnya.
Pelepasliaran Lucky Boy, Titik, Mantuil dan Lola Amalia ke alam liar di Taman Wisata Alam Pulau Bakut merupakan bagian dari upaya pelestarian populasi bekantan (Nasalis Larvarus). Berdasarkan perkiraan BKSDA Banjarmasin, terdapat 62 ekor bekantan yang menghuni TWA Pulau Bakut.
Jumlah total bekantan yang ada di wilayah Kalimantan Selatan kurang lebih 1.200 hingga 2.000 ekor.Bekantan hamil selama 166 hari kemudian melahirkan seekor anak sapi. Biasanya bekantan hidup berkelompok sebanyak 20 ekor dengan empat ekor pejantan.
“Pemerintah menugaskan TWA Pulau Balut untuk memantau populasi bekantan. “Sejak tahun 2014, populasinya meningkat dari 30 ekor saat itu di Pulau Balut saja,” kata Siti.
Bekantan merupakan salah satu dari 25 satwa yang dilindungi di Indonesia. Satwa dilindungi lainnya di wilayah Kalimantan Selatan adalah orangutan, beruang madu, binturung, elang bondol, trenggiling, enggang emas, kancil, kancil, siamang, buaya puara, penyu, dan ikan arwana.
Kawasan sungai dan pantai di Kalimantan Selatan merupakan habitat endemik bekantan, namun seiring dengan perubahan tata ruang wilayah, populasi bekantan semakin menurun.
Usai pelepasliaran, Siti Nurbaya berpesan: “Setelah pelepasliaran perlu dilakukan pemantauan terhadap populasi Bekantan di TWA, agar tidak melebihi daya dukung.”
Hari Peduli Sampah Nasional 2017
Pelepasliaran empat ekor Bekantan ke alam liar merupakan bagian dari peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2017. Di Banjarmasin, Siti dan Wali Kota Ibnu Sina juga melantik 20 orang penjaga sungai, 60 orang mahasiswa Duta Babarasih atau penjaga kebersihan lingkungan, Duta Konservasi, dan Duta Monyet.
“Di Banjarmasin ada 104 sungai. “Kami nyatakan sebagai kota sungai terbersih di Indonesia,” kata Ibnu.
Menurutnya, tantangan yang paling berat adalah mengurangi sampah plastik, termasuk botol minuman bekas yang biasanya dibuang sembarangan ke sungai.
(BACA: Dua Ancaman Kelautan: Penangkapan Ikan dan Sampah Plastik)
Di Pulau Balut, Siti bersama sejumlah pejabat tinggi kementerian dan pemerintah daerah juga melakukan penanaman 100 pohon jenis satwa endemik pendukung habitat bekantan yaitu Bintaro, Ketapang, Cempaka, Belangeran dan Mahoni dengan bibit berkisar antara 1-2 tinggi meter.
Di Provinsi Kalimantan Selatan terdapat dua kawasan konservasi habitat bekantan, yaitu TWA Pulau Kembang dan TWA Pulau Bakut. Kedua TWA ini merupakan tempat wisata yang memiliki potensi besar di Kalimantan Selatan.
Pengunjung dapat menyeberang ke Pulau Bakut dengan taksi air selama 5 menit karena masih dalam kawasan kota.
“TWA Pulau Bakut masih perlu dikembangkan dan dilengkapi infrastruktur agar menjadi objek wisata yang bagus,” kata Siti.
Tiga mahasiswa asal Amerika juga melihat Lucky Boy, Titik, Mantuil dan Lola Amalia berlarian dan memanjat pohon begitu pintu kandang dibuka.
Ketiga pelajar muda bernama Amelia, Abigail dan Ely mengatakan, “Bekantan terpaksa diselamatkan karena terluka.” —Rappler.com