• March 4, 2026

Memahami peristiwa Mei 1998 melalui peta

Salah satu titik kerusuhan dan kekerasan, kawasan Glodok paling parah karena merupakan pusat perdagangan Tionghoa.

JAKARTA, Indonesia —Jakarta tegang selama tiga hari, 13-15 Mei 1998. Kerusuhan pun terjadi, bentrokan antara mahasiswa dan petugas pun tak terhindarkan. Korban berjatuhan.

Ada beberapa titik di Ibu Kota yang sempat diyakini menjadi pusat keramaian 18 tahun lalu.

Berdasarkan temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang saat itu dibentuk oleh penerus Soeharto, Presiden BJ Habibie, titik awal kerusuhan terjadi di Jakarta Barat, tepatnya di Universitas Trisakti pada 13 Mei 1998, saat aparat melepaskan tembakan. dan membunuh 4 siswa.

Keesokan harinya terjadi penjarahan dan perusakan pusat perbelanjaan Glodok di Jakarta Barat.

Berdasarkan temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang saat itu dibentuk oleh penerus Soeharto, Presiden BJ Habibie, titik awal kerusuhan terjadi di Jakarta Barat, tepatnya di Universitas Trisakti pada 13 Mei 1998, saat aparat melepaskan tembakan. dan membunuh 4 siswa.

Di kawasan pemukiman keturunan Tionghoa, perempuan tidak hanya dijarah, tapi juga diperkosa.

Simak peta di bawah ini untuk mengetahui lokasi-lokasi penting terjadinya kerusuhan Mei 1998:

Universitas Indonesia Salemba

Kampus UI di Salemba menjadi salah satu titik awal gerakan protes mahasiswa di Jakarta. Dari sini mahasiswa kemudian berpindah ke gedung DPR/MPR RI di Senayan.

Monumen dan museum Trisakti

Di tempat ini 4 mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977-1998), Hafidin Royan (1976-1998) dan Hendriawan Sie (1975-1998).

Keempatnya tewas ditembak di kampus, terkena peluru tajam di bagian vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada.

Mereka awalnya ingin menggelar aksi damai dari kampus Trisakti hingga gedung DPR/MPR. Perjalanan mereka terhalang oleh blokade polisi dan militer. Beberapa siswa mencoba bernegosiasi.

Sore harinya para siswa mundur. Namun, aparat malah merangsek maju dan bahkan mulai menembakkan peluru ke arah kerumunan mahasiswa. Jalurnya berantakan. Sebagian besar kembali ke gedung kampus untuk mencari perlindungan. Sementara itu, hujan peluru terus berlanjut.

Malam harinya baru diketahui 4 orang meninggal dunia. Meski pihak berwenang membantah menggunakan peluru tajam saat melepaskan tembakan, namun hasil otopsi menunjukkan keempatnya tewas akibat peluru tajam.

Gedung DPR/MPR RI

Tujuan akhir dan puncak dari gerakan yang akhirnya menggulingkan Soeharto. Ketika presiden yang menjabat selama 32 tahun itu mengundurkan diri, hanya kursi itu yang ditempati mahasiswa. Sisanya penuh petugas. Apalagi di Istana Negara yang juga lengkap dengan kendaraan tempurnya.

Para pelajar sendiri telah menempati gedung berbentuk kura-kura tersebut sejak 18 Mei 1998. Saat itu sempat beredar kabar pihak berwenang akan menindak mereka, namun ternyata para pelajar tetap tinggal di sana dengan aman.

Akhirnya pada 21 Mei 1998, ketika Soeharto memutuskan mundur, gedung berguncang diiringi sorak-sorai dan tepuk tangan ribuan mahasiswa.

Glodok

Salah satu titik kerusuhan dan kekerasan, kawasan Glodok paling parah karena merupakan pusat perdagangan Tionghoa. Bangunan yang dirusak antara lain Glodok Plaza, Pasar Jaya, dan Balaikota. Kerumunan yang berkumpul semakin bertambah dan terus melemparkan benda apa pun yang mereka temukan.

Pihak berwenang berusaha membubarkan massa dengan tembakan peringatan, namun tidak berhasil. Hanya ketika tembakan dilepaskan ke arah kerumunan, suasana menjadi kacau.

Pondok Rangoon

Kuburan massal para korban Mei 1998. Di sini juga dibangun tugu peringatan Mei ’98 agar masyarakat Indonesia tidak melupakan kisah berdarah tersebut.

Meski hanya ada 113 kuburan, namun jumlah jenazah yang dikuburkan bisa lebih dari itu. Sebab dalam satu peti mati terdapat beberapa jenazah korban yang dikuburkan secara bersamaan.

Tim Relawan Kemanusiaan melaporkan, korban dalam peristiwa ini mencapai 1.217 orang, sedangkan korban luka-luka sebanyak 91 orang dan masih hilang 31 orang.

Kantor Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Lembaga ini berfungsi mengusut kasus kekerasan seksual terhadap perempuan pada tragedi Mei 1998. Pada masa kerusuhan akibat krisis moneter, massa melakukan penjarahan dan kekerasan. Orang-orang keturunan Tionghoa menjadi sasaran kemarahan mereka.

Laki-laki dibunuh, sedangkan perempuan diperkosa. Tak jarang ia juga kehilangan nyawanya.

Kebanyakan penyintas memilih mengungsi dari Indonesia dan hidup dengan trauma. Hanya sedikit yang berani buka mulut untuk mengungkap kisah sedih dan kenangan mengerikan ini.

Namun negara tetap tidak mau mengakui tindakan pemerkosaan tersebut. Para pelaku tidak pernah diadili.

—Rappler.com

BACA JUGA:

Result HK