Memperjuangkan aksesibilitas penyandang disabilitas kepada pemerintah
keren989
- 0
Membangun Jakarta yang ramah penyandang disabilitas menuntut pemerintah untuk memberikan ruang bagi partisipasi penyandang disabilitas itu sendiri.
JAKARTA, Indonesia — Remaja putri tersebut bernama Annisa Rahmania. Ia fasih berbahasa isyarat saat menyampaikan gagasannya dalam acara diskusi di kawasan Adityawarman, Jakarta Selatan, Rabu, 8 Februari lalu.
Annisa terlahir tuli, itulah sebabnya dia tidak bisa berkomunikasi secara verbal. Ia membutuhkan bantuan penerjemah untuk menyampaikan gagasannya.
Namun ide yang disampaikannya tetap jelas dan solusinya, tuntutannya jelas: meminta aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
“Masyarakat masih belum memahami apa itu hak disabilitas. (Mereka) tidak tahu cara berinteraksi dengan teman-teman penyandang disabilitas,” kata Annisa dibantu seorang penerjemah.
Annisa adalah ketua umum Young Voices Indonesia, sebuah komunitas pemuda (16-25 tahun) penyandang disabilitas yang terlibat dalam advokasi dan pendidikan hak-hak disabilitas. Ia dan rekan-rekannya terus menyuarakan hak-hak disabilitas dalam berbagai kegiatan lainnya.
Acara diskusi “Dengar Dong! Anak muda yang angkat bicara soal Pilkada DKI pekan lalu bukanlah yang pertama. Jauh sebelum itu, komunitas yang berada dalam struktur Yayasan Wisma Cheshire sudah memiliki suara-suara penyandang disabilitas yang diungkapkan melalui berbagai forum. .
“Masyarakat masih belum memahami apa itu hak disabilitas. Mereka tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan teman-teman penyandang disabilitas.”
Setidaknya dalam websitenya, komunitas ini telah berhasil mengirimkan beberapa perwakilannya ke event-event nasional maupun internasional, seperti Konferensi Pemuda Indonesia dan Konferensi Nasional UNCRPD (Konvensi PBB tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas).
Komunitas ini aktif di dua kota besar yaitu Jakarta dan Banda Aceh. Mereka aktif melakukan diskusi dan edukasi mengenai hak-hak penyandang disabilitas melalui presentasi ide atau tindakan diskusi kelompok fokus dengan komunitas lain. Selain itu, mereka juga berdiskusi secara rutin untuk memahami isi UNCRPD, sebuah konvensi internasional bagi penyandang disabilitas.
Dengan memahami UNCRPD, seorang penyandang disabilitas dapat memahami hak-haknya di suatu negara. Hal inilah yang diperjuangkan Young Voice Indonesia yaitu implementasi UNCRPD untuk mendukung aksesibilitas penyandang disabilitas dalam melaksanakan kebijakan.
Harapan kaum difabel pada calon gubernur DKI Jakarta
Pada Rabu, 15 Februari, setidaknya 5.000 penyandang disabilitas di DKI Jakarta akan memilih pemimpin untuk lima tahun ke depan. Hal ini sangat penting karena penyandang disabilitas sering kali dipinggirkan dalam proses pengambilan kebijakan. Pada akhirnya, kebijakan yang diambil kadang hanya “begitu saja”.
“Ada blok panduan, tapi masih tertutup. Terkadang penyandang disabilitas juga kesulitan untuk naik bus. “Ada tanjakan di beberapa tempat, tapi masih sulit (untuk didaki),” kata Annisa dibantu seorang penerjemah.
Selain infrastruktur yang masih belum ramah bagi penyandang disabilitas, Annisa juga menjelaskan, sumber daya manusia yang terlibat pun belum memahami hal tersebut.
“Saya tuli, ketika saya ingin naik bus dan bertanya kepada petugas, dia akan bingung ketika melihat saya. “Meskipun akses penglihatan bagi teman-teman tunarungu sudah bagus, namun menurut saya sumber daya manusianya masih perlu ditingkatkan,” kata Annisa.
Dalam acara diskusi politik anak muda tersebut, hanya terdapat sedikit perwakilan dari kalangan difabel. Annisa sungguh menyayangkan hal itu. Namun menurutnya, hal ini juga merupakan bukti ketidakpercayaan mereka terhadap pengambil kebijakan.
“Masih sedikit perwakilan penyandang disabilitas yang datang hari ini, artinya mereka masih kurang percaya pada calon gubernur saat ini,” ujarnya.
Ia melanjutkan: ‘Pemerintah masih terjebak pada teori. Kebijakan yang diambil masih sama. “Dan saya berharap pemerintah tidak memberikan PHP (harapan palsu) lagi kepada kami,” ujarnya.
Menurut Annisa, persoalan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas sangat penting untuk diangkat bagi siapa pun yang menjadi gubernur ke depan. Seorang penyandang disabilitas juga harus dilibatkan dalam pengambilan kebijakan karena dialah yang mengetahui kondisi riil penyandang disabilitas. Dialah yang bisa menentukan apakah infrastruktur cocok untuk orang seperti dia.
Setidaknya harapan tersebut perlahan menjadi kenyataan. Salah satu perwakilan Young Voices Indonesia mengikuti program magang di Balai Kota dan memberikan masukan terhadap kebijakan terkait penyandang disabilitas.
Bagi Annisa memang demikian kemajuan yang bagus. Ia yakin dengan adanya penyandang disabilitas di pemerintahan, pandangan terhadap penyandang disabilitas itu sendiri akan berubah.
“Misalnya ketika penyandang disabilitas memberikan masukan kepada orang lain dan didengarkan, maka masyarakat sendirilah yang akan mengubah pandangannya terhadap penyandang disabilitas,” ujarnya.
Membangun Jakarta yang ramah penyandang disabilitas menuntut pemerintah untuk memberikan ruang bagi partisipasi penyandang disabilitas itu sendiri. Annisa berharap siapa pun yang terpilih mampu mengajak penyandang disabilitas untuk membangun Jakarta.
Bersama-sama, ia yakin, kita pasti bisa mewujudkan kota yang ramah terhadap penyandang disabilitas. “Tidak ada apa pun tentang kita, tanpa kita,” dia berkata. —Rappler.com
BACA JUGA: