Menabur benih pohon kehidupan Eco Camp
keren989
- 0
‘Bumi kita tanpa henti dipaksa untuk memuaskan hasrat manusia. Bumi ini lelah
BANDUNG, Indonesia – Semua orang bersiap di depan makanannya masing-masing. Semua kursi terisi. Sebentar lagi suasana makan akan meriah seperti biasanya, penuh dengan perbincangan dan tawa.
Ternyata tidak. Hanya ada keheningan. Kemudian terdengar seperti suara bel berbunyi. Orang-orang mulai makan dengan sungguh-sungguh.
Tidak ada pembicaraan, tawa nyaring atau sekedar cekikikan seperti suasana makan bersama biasanya – tenang, damai. Orang-orang tampaknya sangat menikmati makanan mereka sendiri; mengunyahnya perlahan.
Faktanya, acara makan malam tersebut merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran lingkungan yang dilakukan oleh Banthe Saddha, kepala Vihara Dharma Bhakti, Dr. Fachruddin Mangunjaya dari Unas, Kepala Desa Kanekes, Romo Ferry Sutrisna Wijaya pada 31 Agustus.
Apakah ini semacam latihan etiket makan? TIDAK.
“Kami mempraktikkan kebiasaan makan secara sadar, yaitu menghargai setiap gigitan makanan; menyajikan makanan dan rantai yang membawanya kepada kita. “Kami bersyukur bumi menyediakan semua ini,” kata Shierly Megawati Purnomo, pendiri dan pengelola Eco Camp.
Semua makanan tersebut merupakan hasil budidaya Eco Camp yang ditanam, dipelihara dan diolah secara ekologis serta dipetik dengan penuh cinta.
Pastor St Ferry Sutrisna Wijaya, pendiri dan salah satu pendiri Eco Camp, mengatakan bahwa cara hidup yang diusung di sana bermula dari kepedulian terhadap nasib bumi yang semakin dieksploitasi. “Bumi kita tanpa henti dipaksa untuk memuaskan hasrat manusia. Bumi sudah lelah.”
Keadaan bumi saat ini semakin menuntut masyarakat untuk hidup sederhana, efisien dan sadar. “Sikap ini menghalangi orang untuk menikmati sesuatu yang dihasilkan dari penderitaan makhluk lain,” ujarnya.
Ia mengimbau sebisa mungkin menghindari konsumsi daging hewani. “Karena sebagian besar peternakan memaksakan dan menyalahgunakan ternak, mereka menghasilkan daging dengan cepat dan dalam jumlah besar,” kata Pastor Ferry, yang mengikuti beberapa kursus pelatihan tentang Pemanasan Global yang diadakan oleh mantan Wakil Presiden AS Al Gore di Amerika Serikat dan Australia.
Tautan dalam rantai kebaikan
Menurut Shierly, kehidupan secara sadar menghasilkan energi baik melalui frekuensi yang sesuai, sehingga akan bertemu dengan ‘kumparan baik’ lainnya, yang juga mencari frekuensi yang sama.
“Orang-orang yang mencari kebaikan pasti akan bertemu – baik secara fisik maupun non fisik – untuk terus menyebarkan energi baik dengan kekuatan yang semakin besar dan cakupan yang lebih luas,” ujarnya.
Ada banyak cara untuk menjaga kesadaran. Selain mengapresiasi dan memperhatikan setiap perbuatannya, para pencari kebaikan juga bisa bermeditasi. Kegiatan meditasi yang rutin akan meningkatkan kepekaan dan empati terhadap sesama makhluk serta rasa syukur terhadap Tuhan.
Dengan kepekaan dan kesadaran murni, manusia dapat merasakan energi makhluk lain yang juga sadar. “Dengan kesadaran murni kita bisa melihat banyak keajaiban di sekitar kita,” ujar ibu dua anak ini.
Kesadaran murni mengatasi hambatan ras, etnis dan agama. Ibarat bumi yang tidak pernah memilih makhluk mana yang dibutuhkannya untuk hidup.
“Matahari tidak pernah memilih tempat dan objek yang disinarinya. Hujan tidak memilih di mana ia akan jatuh. “Dengan berbuat dan menebar kebaikan, kita tidak perlu memilah dan membeda-bedakan orang berdasarkan suku, ras, agama, dan status sosial.”
Eco Camp awalnya tak lebih dari sebuah area bermain anak-anak di kawasan Bandung Utara. Lama kelamaan berkembang menjadi tempat pendidikan ekstrakurikuler. Dan mulai tahun 2012, Eco Camp menjadi wadah untuk meningkatkan kesadaran ekologis.
Sejak itu, ratusan pemuda, pendidik, dan tokoh masyarakat yang tercerahkan telah muncul dari Eco Camp. Mereka memilih cara hidup Ksatria Shambala, yaitu cara hidup sederhana, menyebarkan cinta kasih dan kebajikan kepada seluruh makhluk Tuhan. – Rappler.com